Posted by: annaherdianto | November 17, 2009

Cilincing, Suatu Ketika

Jika sampeyan bertanya, siapa orang yang paling saya takuti, maka orang gila-lah jawabnya.
Dan Kamis, 8 Oktober 2009, saya harus berhadapan dengan ‘kegilaan’ massal.

 

PENGUMUMAN
Tanah ini dalam tahap pemeriksaan tingkat banding Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara Sesuai dengan Akta banding No. 193/6/2008/ PTUN JKT
tanggal 25 Juni 2009.

Sama sekali bukan plang yang istimewa. Tapi menjadi istimewa bagi saya hari itu. 05.40, kami, saya dan suami, sampai di Cilincing, dalam jarak antara Bekasi – Jakarta. Pada suatu titik, garis, atau apalah, mendadak ada yang mengacungkan bambu runcing di depan mobil kami.

“Stop, Pak…”.

Tak paham, tentu berhenti saja. Baru sadar akan apa yang dilakukan ketika sejumlah remaja tanggung mulai menggelar beberapa ban trailer di depan. Ah, betapa beruntung mobil di depan tadi. Sudah menebak apa yang akan terjadi, karena ini adalah yang kedua kali, maka lebih baik berputar. Terlambat. Ternyata sudah berjajar yang lain. Ajaib. Kendaraan pribadi yang biasa membunyikan klakson keras-keras, para kenek trailer yang suka mengumpat, pagi itu diam saja. Meski jelas mereka tak akan bisa lewat.

Sebagai yang di depan, kemana lagikah bisa berharap? Polda Metro Jaya. Maka nomor itu saya pilih, kesasar di Humas, kemudian disambungkan ke bagian Satlantas. Setelah mencatat posisi blokir, petugas di seberang berjanji akan menangani segera. Ketika mulai bakar-bakar, saya telpun lagi. Massa bakar-bakar di dua sisi. Puluhan kendaraan terjepit di antaranya, termasuk saya. Merdu petugas di seberang bilang : sedang koordinasi. Barangkali SOP customer servicenya memang begitu.

30 menit. Seorang yang saya kira berpangkat datang. Sendirian? Belakangan saya baru tahu, ia-lah sang Kapolres. Tak lama, mulai terdengar orasi. Berikat-ikat bambu runcing dikeluarkan. Bom molotov digenggam. Ada yang menyarankan tabung LPG segala. Putus-putus terdengar :

“Jika kami digusur, maka mobil di antara kami akan kami bakar semua…Kita punya sandera”

Terhitung sejak saya terkena pre-eklampsia ketika sedang mengandung anak kedua, barangkali saat itulah tensi saya naik lagi. Gemetar, kami keluar mobil. Dengan mendekap erat Lenovo retak, saya ikut bergerombol dengan para ‘tawanan’ lain.

Maka hari itulah sebuah lakon dimainkan.

Ketika cara ‘orang kaum beradab’ telah ditempuh, namun ternyata percuma saja, maka bolehkan cara ‘kaum tak beradab’ dilakukan? Lagipula, berhakkah kita, saya dan sampeyan, menentukan boleh atau tidak Dengan segala carut Negeri ini, masih adakah yang bisa dipersalahkan. Teori tak lagi relevan. Apalagi pendapat para pengamat, yang berbusa di tipi-tipi dan surat kabar, yang menganalisa sambil minum kopi. Sedapnya. Barangkali dengan mengutip pendapat ahli ditambah bahasa ‘langit’, akan lebih meyakinkan.

Warga vs Makbul bin Engkong. Masih di Pengadilan. Warga pakai lawyer, Silvester namanya. Pak Makbul punya tanah,komplet dengan sertifikatnya, 8 hektar konon. Warga juga punya : sertifikat, sambungan PLN, telpon, KK, KTP. Lalu di seberang, ada 2000an satpol PP, siap menyerang. Tak punya IMB, Pemkot bercerita. Maka dikerahkan pasukan penggusur. Di balik asap tebal, 400an Brimob berjaga. 1 water canon parkir di tengah jalan. Ambulance bersiaga. 500an warga, komplet dengan alat perangnya, berteriak. Mencaci. Mengancam. Kapolres melakukan hal yang sama : berunding, berteriak, juga mengancam. Tawanan bercakap dalam kalimat putus-putus : “asuransi..?”, “rumah mana?”,” kantor mana?”, jalan lain..?” Para pembawa berita berlarian.

Barangkali mereka hanya mencari perhatian, orang yang merasa punya Negara. Sungguh saat yang tidak tepat. Karena media lebih suka bercerita tentang Antasari. Juga Aburizal Bakrie. Orang-orang dari dunia antah berantah yang mungkin kita cakapkan setiap hari, seakan kita paling tahu tentang mereka. Orang-orang yang sudah selesai dengan materi. Maka mereka memanjat hirarki Maslow selanjutnya.

Hari telah lengas. Tawanan berwajah ketakutan. Kapolres yang tampak sebal. Satpol PP bertampang masam. Sopir trailer yang bosan. Brimob berwajah melas. Pemadam kebakaran berkacak pinggang. Warga yang masih ber-amarah. Pekerja proyek yang asyik dapat tontonan.

Ketika solusi jangka panjang hanya sebatas dicakapkan tanpa pernah ada wujud, maka cara instant akan sejenak membuat orang lupa. Dan begitulah. 4 jam setelah ban pertama dibakar, bolehlah kami melanjutkan lakon kami sendiri. Tak ada penggusuran hari itu. Entah kapan (lagi).

Dan rupanya gila itu penyakit menular.

Untuk kesekian kali, saya harus berdebat keras dengan juragan. Untuk suatu pengadaan. Tentu saja saya harus ‘dikalahkan’, karena konon,atasan punya ‘helicopter view’ yang lebih luas. Tapi apakah ‘helicopter view’ akan linier dengan hati nurani? Saya rasa tidak. Pada titik ini, rusuh Cilincing tiba-tiba menjadi sangat relevan.

Selamat pagi, Indonesia. Masih adakah yang memikirkanmu hari ini…?

Posted by: annaherdianto | May 20, 2009

Prioritas yang Salah

tiga monyet

Sungguh saya tidak tahu apakah saya berhak mengatakan apakah ini salah atau tidak, tapi dapatlah saya berpendapat bahwa urutan prioritas ini mesti disusun ulang.

Belakangan ini, perkara penghentian izin Permintaan Pengoperasian Kapal Asing alias PPKA benar-benar membuat pusing lima puluh lap. Kalang kabut, tentu saja. Karena banyak kapal di area migas yang masih menggunakan kapal asing, dari FSO, FPSO, sampai kapal-kapal penunjang macam AHTS, PSV, Crew Boat, dan sebagainya. Tak maulah kami dikatakan menggunakan kapal illegal.

Untuk kapal penunjang, kami masih dapat berharap-harap cemas semoga saja perusahaan pelayaran nasional dapat menyediakannya. Untuk floating storage dan floating production unit, rasanya ini benar-benar membuat mati kutu, karena mayoritas FSO dan FPSO yang dioperasikan di Indonesia masih berbendera asing dan berusia di atas 20 tahun.

Selama ini KM no. 71 tahun 2005 dijadikan acuan, bahwa masih ada tenggang waktu hingga 31 Desember 2010 untuk mengubah bendera kapal menjadi bendera Indonesia. Tapi rupanya Departemen Perhubungan berpendapat lain. KM no. 33 tahun 2001 dijadikan acuan. Bukannya saya tidak nasionalis. Saya cuma bingung. Departemen Perhubungan melalui KM no. 66 tahun 2005 jelas memberi toleransi bagi kapal tanker single hull berbendera Indonesia berusia lebih dari 20 tahun untuk tetap beroperasi. Alasannya tentu saja karena kondisi industri pelayaran Indonesia yang belum cukup mumpuni untuk menyediakan kapal-kapal tanker double hull.

Sayangnya alasan yang sama tidak bisa diterapkan bagi FPSO maupun FSO : bahwa industry pelayaran nasional juga belum mampu sepenuhnya untuk menyediakan kapal-kapal jenis ini. Maka fasilitas ini disediakan oleh shipowner asing. Maka, dengan bersemangat Pemerintah mulai melototi kapal-kapal migas, dan dengan gagah mengatakan bahwa kapal sudah harus berbendera Indonesia pada saat tender sedang dilaksanakan. Dengan kata lain, kapal harus sudah berbendera Indonesia sebelum ada kepastian siapa pemenang lelangnya. Matilah. Belum lagi untuk kapal-kapal survey seismic, misalnya. Ijin tetap saja mesti diberikan, atau kalau tidak ya tidak ada pekerjaan eksplorasi offshore. Bukankah dengan hal seperti ini malah membuka peluang “sing ora bener..” semakin menjadi…? Sengaja….? Saya setuju sepanjang itu untuk kepentingan Nasional, bukan kepentingan kantong belakang.

Mengapa saya mengatakan prioritas mesti ditata ulang….? Safety. Berapa nyawa melayang sudah karena safety adalah prioritas kesekian…? Padahal, mereka dibawa oleh kapal-kapal berbendera Indonesia. Dan bahkan floating storage kami hampir tidak pernah menyebabkan fatality, tetapi malah dipelototi komplet dengan umpatan-umpatan merendahkan…? Tidak nasionalis, sampeyan bilang….? Dan di sisi lain Departemen sampeyan seperti instansi “neraka” dengan begitu banyaknya korban…?

Duh….

Posted by: annaherdianto | April 8, 2009

Karbit

tiga-monyet

Nah, Pak. Mari kita duduk sebentar. Sebentar saja. Semampang orang masih terkaget dengan apa yang barusan terjadi.

Apakah bapak tahu karbit? Kalsium karbida. CaC2. Tak usahlah saya berurai dengan reaksi kimia yang membentuknya, karena saya tak ahli perkara itu. Bapak tahu. Las karbit. Buah di-karbit. Balon juga bisa di-karbit. Dan sekarang kita disini juga akan berbicara tentang perkara karbit, karbitan, dan sejenisnya, meskipun dalam konteks yang lebih humanis. Halah. Rasanya Bapak tidak pernah mengucap “halah…” kepada kami semua. Pasti lucu sekali seandainya pernah…

Bapak pernah melihat las karbit…? Panaskah….? Memang benar-benar panas. Karbit yang kita bicarakan juga sama panasnya. Lebih panas, bahkan. Bisakah Bapak membedakan buah karbit dengan buah matang di pohon? Tidak…? Nah. Bapak baru dapat meresapnya ketika Bapak mulai menggigit. Dan sering sesal baru terbit saat ini. Balon karbit…? Dengan karbit sebuah balon bisa membumbung tinggi, meninggalkan balon lesu di bawah sana, memandang banyak hal yang masih awam baginya. Dan ketika karbit perlahan lenyap, maka ia akan jatuh dari tinggi, kembali pada kelesuan. Pasti sakit rasanya.

Adalah naïf jika untuk semua kekacauan tingkat bawah ini Bapak hanya punya jawaban:”daripada ndak diisi…” atau “mengutamakan orang dalam…” Sebuah jabatan tak sebatas perkara gajian. Tak pula sebatas kedekatan. Ada tanggung jawab. Dan di dalamnya ia membawa respek, apresiasi, ilmu, sekaligus sejarah. Ia tak melulu nasib baik. Apalagi kebetulan. Karena ia layak diperjuangkan.

Barangkali saya iri. Mungkin dengki. Persetan. Saya tak sendiri. Tapi dengan iri saya ingatkan Bapak. Dengan dengki saya coba bawa ini ke jalurnya. Sayangnya, jalur lurus lempeng tak berlubang serta mulus ternyata hanya ada di buku biru. Buku biru yang awal tahun lalu dibagikan. Silahkan dibaca. Silahkan dimengerti. Tapi jangan berharap banyak kepadanya.

Jadi, analogi manakah yang sesuai? Las karbit? Buah karbit? Atau balon karbit? Bapak tak usah repot. Karena ia lebih buruk dari semua.

Posted by: annaherdianto | November 27, 2008

Aduh, Pak Menteri…!!!!

tiga-monyet

Pak Menteri,

Awal tahun 2006, saya dan 3 karib mendatangi satu pantai di Lampung, mencoba menilik garis pantai Pulau Jawa, karena kami ‘dihukum’ di Prabumulih tak boleh menginjak Jawa selama 3 bulan. Tapi sssttttt….Pak Menteri jangan bilang-bilang ke mantan juragan besar saya ya, karena kami sekejap melarikan diri dari Prabumulih, naik kereta api yang konon eksekutif namun kecoak berkejaran di sana sini dan bau pesing meruap di antara gangnya.

Halah. Kok malah mblakrak ya, Pak Menteri. Nah, saya lupa nama pantainya. Atau barangkali memang tidak bernama. Lupa. Kurang kerjaan, berempat kami ber-kano-kano-an (entah apa namanya itu..). Sendiri, saya kayuh itu kano-oranye-jeruk menjauh dari garis pantai. Entah kenapa, kano saya terbalik. Dan hilanglah saya dari pandang karib-karib saya. Sejenak tubuh saya sepenuhnya di dalam air. Tahu apa yang saya pikirkan, Pak Menteri ?

“Saya akan mati…saya akan mati…”

Begitu saya jejakkan kaki di dasar laut, maka nongollah kepala saya di permukaan, di sambut ketawa ketiga karib saya. Kejadian itu tak akan pernah saya lupakan, Pak Menteri. Sungguh.

Jadi saya tak bisa membayangkan orang-orang di Majene, di hari celaka itu, ketika KM Teratai karam.

Saya kok ragu, Pak Menteri pernah mendengar nama kapal ini. Nah, ini saya ambilkan dari berita :

Disertifikat tercantum, KM.Teratai Prima Kosong, tahun pembangunan 1999, panjang 50,4 meter, lebar 9,36 meter dan kedalaman 3,75 meter. KM. Teratai Prima Kosong memiliki Tonase Kotor GT 747 sementara Tonase Bersih MT 225 dengan daya mesin berkekuatan 2×520 PK….”(Surya Online, 12 Januari 2009)

Tahukah, Pak Menteri, bahwa kapal ini tak bersertifikasi dari Biro Klasifikasi….? OMG PDA…O My God Please Dong Ahhhh…

Yang lebih konyol lagi, bagaimana mungkin staff Bapak mengatakan ini di koran yang sama…?

“Sementara itu, Kepala Seksi Penjagaan dan Keselamatan Kantor Administrator Pelabuhan Samarinda, Helmin mengakui, pergantian mesin KM.Teratai Prima Kosong dari 2×1500 PK menjadi 2×520 PK itu tidak mempengaruhi ketahanan dan daya angkut kapal.

“Pergantian mesin itu hanya berpengaruh pada kecepatan dan tidak mengganggu keamanan dan keselamatan kapal itu,” ujar Helmin.”

GUBRAK….!!!!!!!!! *&%$#@ Ingin rasanya saya ditelan bumi saat ini juga, Pak Mentri. Dari 3000 HP menjadi 1040 HP. Dari marine use menjadi land use (Konon mesinnya diganti mesin mobil Mitsubishi…Tronton 22 ban, eh…?).

Di tempat saya bekerja, Pak Menteri, kami mengoperasikan kapal yang juga bisa mengangkut hingga 200 orang, masih ditambah barang-barang. Tapi kapal kami berdaya 10,000 HP, hingga kami merasa aman melawan ombak di buruknya cuaca.

Ada baiknya Pak Menteri sejenak turun dari singgasana yang empuk. Barangkali dimulai dari orang-orang di gedung sendiri. Yang sekali cap Rp 5 juta itu. Yang pernah “malak” rekan saya senilai ribuan dollar itu. Yang baca koran itu. Yang nongkrong di kantin itu. Yang cekakak cekikik itu. Setelah itu panjangkanlah tangan Pak Menteri…ke Adpel-adpel, di daerah-daerah…membersihkan fulus-fulus…

Nah, apakah perlu saya ceburkan Pak Menteri dari kapal…? Tanpa lifejacket…? Agar Pak Menteri punya ’sedikit’ empati..itupun jika Pak Menteri masih punya hati…

Posted by: annaherdianto | November 3, 2008

Para Lelaki dalam Phonebook Saya

Sampeyan pernah dilabrak…? Maksud saya : dilabrak oleh sesama perempuan…? Saya pernah.

Karena latar belakang keluarga yang didominasi oleh laki-laki, karena saya kuliah di jurusan “laki-laki”, dan juga karena tuntutan pekerjaan yang (lagi-lagi) kebanyakan dilakukan oleh para lelaki, maka bukan hal aneh apabila phonebook saya penuh dengan nama laki-laki. Bukan pula hal yang perlu dipertanyakan bilamana saya dekat dengan beberapa di antara mereka. Wajar juga jika beberapa di antara mereka kemudian naksir kepada saya :) . Para lelaki di phonebook saya itu.

Kembali ke perkara labrak-melabrak.

Pertama kali saya dilabrak, sekitar enam tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang mengumpulkan data untuk Tugas Akhir yang sedang saya kerjakan, semester akhir kuliah saya di ITS Surabaya. Saya norak sekali waktu itu, saya akui dengan segenap ketulusan dan kejujuran :) . Demi data yang saya inginkan, saya dekati sang second engineer kapal bersangkutan. Masih muda :) . Saya hujani kata manis. Perhatian gombal. Dan sebangsanya. Tentu saja tanpa sepengetahuan pacar saya waktu itu. Celaka duabelas buat saya. Gombalan saya itu diketahui tunangannya. Pertama kali kena tegur sang tunangan, pantang mundur buat saya. Data belum lengkap. Setelah sekian kali, akhirnya datang juga labrakan ini :

“DASAR PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU…!!!GANGGUIN CALON SUAMI ORANG. KAYAK TIDAK ADA LAKI-LAKI LAIN SAJA…!!”

Ha ha ha ha. Untunglah waktu itu data yang saya perlukan sudah saya dapatkan sepenuhnya. Maka terhapuslah nama sang second engineer dari phonebook saya.

Seperti de javu. Hari ini saya mendapat labrakan yang sejenis. Dari istri seorang teman saya. Labrakan yang pada intinya menanyakan siapa saya, yang mendapat perhatian lebih dari suaminya. Yang mengingatkan saya, bahwa saya sedang hamil, dan agar anak saya selamat karenanya. Yang memperingatkan, agar menjaga nama baik saya.

Arogan adalah nama tengah saya. Tapi tidak dengan sesama perempuan. Bagi saya, pantang bertengkar dengan sesama perempuan. Apalagi perkara laki-laki. Ambil saja, dehhhh…Jawaban saya..?

“Saya bukan siapa-siapa.

Saya tidak bertelanjang di depan suami Anda. Saya tidak menggodanya. Apalagi memeletnya.

Kalau suami Anda memberi perhatian lebih, saya bisa apa…?”

Pesan itu itu saya cc-kan ke teman saya. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap istrinya. Sungguh tidak tahu. Dan tidak mau tahu.

Bedanya dengan yang dulu, namanya masih ada dalam phonebook saya.

Buat teman saya yang baru diangkat menjadi Direktur : forgiven but not forgotten…

Posted by: annaherdianto | October 19, 2008

Cerita Kepiting

Terpekur saya ketika menerima laporan hasil direct selection yang baru kami adakan : tawaran dari satu-satunya penawar yang lolos kualifikasi adalah 250% dari OE yang pernah kami perhitungkan. Ini tidak biasa. Sungguh tidak biasa. Ada nyeri di ulu hati, ada sesak yang minta dilegakan, dan ada ngilu di tiap sendi.

Saya pribadi merasa dikerjain. Dikerjain oleh bidder yang…well…entahlah. Mereka tahu persis kami terjepit, dan besarnya konsekuensi yang akan kami tanggung bilamana tanker tidak kami dapat tepat waktu. Tapi bukan begitu caranya, bung…!!!! Sampai kucing bertanduk pun tak kan ada tanker Aframax dengan harga seperti yang telah sampeyan tawarkan…

Tapi, sampai kucing bertanduk pula, tak kan pernah sama sudut pandang saya dengan penawar itu. Maklum, mereka bekerja dengan prinsip how to maximize shareholder’s value. Sedangkan saya lebih pada how to maximize Indonesian value.

Nah, itu sekedar introduksi. Kepiting..? Begini ceritanya…

Suatu kali, saya mendapatkan kiriman 2 kardus berisi kepiting, masing-masing kardus berisi kepiting dengan rasa yang berbeda : asam masin dan lada hitam. Kepiting dari Balikpapan. Nah, sampeyan yang biasa menjelajah Balikpapan, tentunya tahu dimana akan mendapatkan kepiting yang rasanya beginian.

Kiriman tanpa pesan. Hanya kepiting berwarna merah dan hitam, siap dimakan. Saya tidak doyan kepiting, sungguh. Entah kenapa. Barangkali saya masih terbayang ketika mereka terikat bergerak-gerak ketika dimasukkan ke wajan. Atau karena saya alergi dengan beberapa makanan laut. Saya tidak tahu. Hanya tidak suka saja, itu yang pasti. Suami saya yang menyukainya. Dan begitulah, di meja makan, saya hanya menatap kosong si kepiting. Dan ternyata mereka juga sedang menatap saya. Saya bertanya-tanya, apa yang akan disampaikan si pengirim kepiting kepada saya..? Kepitingya enak. Itu sajakah..?Ah, seandainya saja kepiting-kepiting ini bisa berbicara.

“Enak…?”

“Enak…”

“Yang mana…?”

“Semuanya…”

Jika suami saya menganggap kepiting Balikpapan enak, bagaimana dengan kepiting Paris..? Atau London, barangkali…? Ah, saya jadi teringat dengan juragan sebelah. Yang olehnya saya pernah dipanggil dan hingga detik ini pun saya tak pernah bisa memahami bahwa betapa pengecutnya beliau dengan memanggil saya, bukan memanggil juragan-juragan saya yang nota bene lebih bertanggung jawab atas apa yang ingin beliau doktrinkan kepada saya. Baiklah, Bu, Jeng, Madame…kesimpulan sementara yang dapat saya ambil adalah : bahwa kepiting Paris bisa menyebabkan orang menjadi kehilangan sebagian dari moralnya.

Kembali ke kepiting Balikpapan.

Suatu kali, si pemberi kepiting menghubungi saya. Basa-basi sebentar. Dan tak lama dikatakanlah apa maksudnya : ‘meminta bantuan’. Selama ia menelpon, saya kembali terbayang kepiting-kepiting itu. Dan saya juga yakin seyakin-yakinnya bahwa orang di seberang sana juga sedang membayangkan hal yang sama.

“Itu bukan wewenang saya. Maaf tak bisa bantu…”

Dan dalam bayangan saya, saya melihat kepiting-kepiting itu tersenyum…

Posted by: annaherdianto | October 9, 2008

Mengintip Jagoan Cilik

Entah terbuat dari apa kenangan itu, tapi jelas ia tak bisa disandingkan dengan apapun, kecuali dengan kenangan itu sendiri :)

Karena itulah, maka siang ini saya datang mengunjungi ginekolog langganan sekaligus favorite saya, dr. Yusfa Rasyid, SpOG (siapa lagi :) ), untuk mengintip jagoan cilik saya, dengan USG 3D/4D. Barangkali sampeyan berpendapat bahwa apalah guna membuang uang lebih setengah juta rupiah hanya untuk menjawab rasa penasaran : laki perempuan, normal atau tidak, dan sejenisnya. Toh kalaupun yang terburuk terjadi tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Barangkali sampeyan benar. Tapi saya tidak melihatnya begitu. Karena kenangan. Dengan foto 3D dan film 4D ini, bolehlah saya berharap, jagoan saya nanti tetap mengingat darimana dan bagaimana dulu ia berasal, agar tetap mencintai saya sebagai Ibunya :) Semoga…

Nah, lihatlah..engkau menutupi wajah dengan kedua tangan. Dan jelas terlihat bahwa engkau seorang laki-laki. Seorang laki harus kuat, Nak, hati, kepala, dan badan…menghadapi apa dan siapapun. Dan apakah engkau baik-baik saja..? dr. Yusfa yang sedang pilek mengatakan engkau normal-normal saja. Terima kasih, Tuhan…

Bapakmu senang karena akan mendapat anak laki-laki, karena katanya ia selalu khawatir dengan kakakmu yang perempuan. Tapi suatu kali ia mendapati segerombolan anak laki dengan kebandelannya, menggelantung di angkot tanpa peduli bahaya. Seketika ia mengucap do’a-yang menurutku agak ganjil- “mugo-mugo anakku lanang ndak nggandhol angkot seperti itu…” Sepertinya ia akan tetap selalu khawatir…

Di dalam sana terlalu sempit ya..? Makanya engkau selalu bergerak mencari leluasa. Segeralah keluar bilamana sudah waktunya. Dan hadapi hidup dengan segenap keberanianmu…Nak…

Posted by: annaherdianto | September 15, 2008

Jerapah, LPG, dan Chanel No. 5

Kalau ada lomba mengeluh, jangan-jangan kita jadi juaranya ya.

Saya mengeluh. Sampeyan mengeluh. Kita mengeluh sama-sama. Kita mengeluh kenapa Jakarta tambah macet saja. Dan di saat yang sama kita mengepulkan premium bersubsidi dengan sia-sia di tol dalam kota. Tentu saja kita ada pembenaran mengenai itu : tidak layaknya layanan transportasi umum.Kita mengeluh kenapa PLN byar-pet padahal kita tidak pernah telat membayar iuran, lupa bahwa bohlam lampu taman masih menyala ketika kita berangkat tadi pagi. Mengeluh kenapa banjir selalu datang tiap Februari. Pejabat yang korupsi. Gaji yang selalu dirasa kurang tapi di lain waktu begitu mudah mendapatkan SPD untuk pekerjaan yang…well…sebenarnya tidak cukup layak untuk mendapatkan bayaran sebanyak itu.

Pagi ini pun saya sudah mengeluh. Mengeluh karena Sosro dengan gobloknya membiarkan truk-truknya parkir di depan pintu keluar kompleks tempat saya tinggal, membuat motor-bus-sedan-MPV-truk tumpah ruah berdesakan seperti air di selang yang kita pejet pada saat menyiram taman. Pagi-pagi saya juga sudah mengeluh, kenapa juragan saya punya penyakit job desc myopia kronis dan tidak sembuh-sembuh. Jangankan sembuh, sadar saja tidak :) .

Kita mengeluhkan banyak hal. Semuanya, bahkan. Apakah keadaan memang sudah seburuk itu ? Atau saya, sampeyan, dan kita semua sudah tidak sanggup lagi menyesuaikan diri, berevolusi? Ngomong-ngomong soal evolusi. Seandainya saya percaya bahwa Darwin memang benar (sayangnya tidak :) ), saya pikir jerapah telah memilih keputusan yang keliru. Ia konon memanjangkan lehernya agar bisa menyeimbangi pohon makanannya yang tambah lama tambah tinggi. Di sisi lain, ia pasti akan kesulitan minum air dari permukaan tanah. Coba bayangkan, betapa kemengnya si jerapah menjulurkan leher agar bisa minum dari permukaan tanah. Coba hitung juga, berapa head yang diperlukan si jerapah agar air bisa naik melewati kerongkongannya yang panjang itu untuk kemudian jatuh ke lambungnya. Kenapa jerapah tidak makan jenis daun lain saja. Ah, sayangnya saya tidak tahu. Kalau suatu kali sampeyan bertemu dengannya, coba sampeyan tanyakan ini kepadanya.

Saya bukan penggemar Aa Gym. Setidaknya tidak separah suami saya yang begitu nge-fannya sampai merasa perlu untuk datang langsung ke Geger Kalong dan membeli buku-buku karya beliau. Tapi ada satu hal yang saya ingat dari Aa Gym : mulailah dari diri sendiri, sekecil apapun. Baiklah. Ternyata tidak begitu mudah ya…? Tempo hari ketika mendapati bahwa LPG 12 kg mengalami kenaikan lagi, saya ngomel. Omelan saya kira-kira begini :

“Ini Pertamina bisa kerja nggak,sih…? Sudah digaji besar, fasilitas komplet, ngurusin distribusi gas saja nggak bisa. Mana dinaikin terus lagi. Pemerintah juga, ndak bisa diarepin dehhhh…Katanya konversi. Konversi apaan….? Minah ilang, gas lenyap. Trus bini-bini mereka itu di rumah masak pake apa ya…? Kayu bakar…? Dikate Menteri Kehutanan, bisa mbakar kayu tiap hari…”

Suami saya, dengan tanpa melepaskan mata dari koran yang sedang dibacanya, enteng berkomentar :

“Kamu itu…LPG naik segitu saja sudah kayak mau kiamat. Padahal kemarin di Singapore kamu baru beli Chanel No. 5 yang baunya kayak nyong-nyong itu, dengan entengnya. Chanel no. 5-mu itu bisa ditukar dengan 15 tabung LPG 12 kilo lo…”

Oops…!! O’o…..

Baiklah, kalau begitu. Kalau saya tidak bisa mengharapkan orang lain apalagi Pemerintah untuk melakukan perubahan, kenapa saya tidak mengharapkan diri sendiri saja dulu untuk berubah…? Setidaknya untuk tidak mengeluh…

Posted by: annaherdianto | July 15, 2008

Surat Buat Juragan Paling Besar di Kantor Saya

Nah, juragan…jadi bagaimana rasanya “diundang” KPK…? Sepertinya baik-baik saja, bukan…? Saya harap begitu…Saya hanya kepengin tahu, bagaimana perasaan juragan mendapat berlembar surat pengunduran diri, dari para “pembantu” yang salah urus…

Selembar kertas itu bukan datang begitu saja, tahu-tahu ada di meja juragan. Ia datang dari sejarah, bisa panjang bisa pendek, dari orang yang mengirimkannya untuk juragan. Ia datang dari kecewa. Barangkali sakit hati. Dan kecewa bermula dari setumpuk putus asa, juga ketidakadilan. Setidaknya keadilan menurut orang yang menorehkan tanda tangannya di situ, karena adil adalah relatif. Bukan begitu juragan….? Dan memang bukan perkara mudah bagi juragan untuk membuat “standar keadilan” itu, seperti membuat SOP atau PTK, tapi nyatanya ada, juragan…”Standar” itu ada. Tapi, lagi-lagi, adalah relatif untuk menginterpretasinya…

Adalah naif apabila kemudian juragan menganggap kecewa itu akan berhenti di situ saja. Karena ia akan membentuk segores dendam. Dan dendam bukanlah sebagaimana kita menorehkan garis atau gambar di pasir laut, seperti kita pernah menorehkan nama-nama pacar kita di sana, untuk kemudian hilang disapu ombak. Ia adalah seperti kita merajahkan goresan dalam di pohon kayu keras. Lama ia tak terlihat. Bukan menghilang. Karena ia terbawa tinggi seiring tumbuhnya si pohon. Dan ketika pada saatnya kita akan membuat ukiran indah, kita “disakitinya” karena ternyata goresan itu merusak segala pola.

Juragan pilih mana, kehilangan Main Engine sebagai penggerak utama atau kehilangan Auxilliary Engine sebagai mesin bantu….?

Jika juragan kehilangan penggerak utama, maka juragan masih mempunyai beberapa kemungkinan : men”start” kembali mesin induk, menjalankan peralatan-peralatan pendukungnya, serta memberikan penerangan penuh ke seisi kapal. Tapi ketika juragan kehilangan mesin bantu, maka mesin induk juragan akan ngambek, pompa-pompa pendukungnya tak berfungsi, tak ada penerangan, dan juragan tinggal meratapi batere yang sekian lama tak digubris. Kapal juragan black out. Dan pada saat itulah juragan  akhirnya melepaskan rocket flare. Atau bahkan menenggelamkan EPIRB….? Karena juragan telah sedemikian putus asa dan menyatakan SOS…? Karena itu, juragan, mohon diperhatikan siapa sajakah yang telah menyampaikan lembar-lembar kertas itu. Staff ataupun pembantu hanyalah perkara sebutan. Sekali lagi, hanya sebutan.

Saya yakin, juragan masih ingat dengan hirarki Maslow. Tidak, saya tidak akan menganggap kita semua masih berada di level Physiological, bukan..bukan itu. Namun sayang sekali bilamana juragan masih menganggap kami, para pembantu ini, di level safety. Maka untuk itukah maka juragan menanamkan pada kami bahwa perjalanan Dinas adalah bagian dari pendapatan…? Dan karena itukah maka juragan tak menganggap perlu kenaikan golongan dan sejenisnya, karena pendapatan kami justru bisa lebih besar dari gaji…? Maka juragan tak perlu menyalahkan kami, bilamana kami lebih mengharapkan SPD daripada slip gaji. Alagkah eloknya bilamana juragan menempatkan kami di level Esteem.

Barangkali juragan menganggap kami tak bersyukur. Sebagaimana keadilan, juragan, bersyukur atau tidak adalah relatif. Dan kami akan memperjuangkan keadilan itu, setidaknya keadilan menurut kami sendiri, dengan cara kami sendiri..termasuk dengan mengirimkan lembar-lemar kertas itu, agar juragan tahu….

Posted by: annaherdianto | June 17, 2008

Kumpulan Nama

Kemarin sore, akhirnya saya menerima Direktori Bisnis alumni Institut tempat saya pernah berguru. Buku tebal itu saya temukan telah tergeletak manis di meja saya yang akhir-akhir ini semakin meyerupai “kapal pengangkut container tabrakan dengan general cargo yang semua muatannya tumpah ruah dan pating tlecek koyo telek…” Biasanya, barang kiriman seperti itu akan langsung saya tumpuk begitu saja, dibaca entah kapan nanti manakala sempat.

Tapi yang ini tidak.

Saya robek plastik pembungkusnya, saya timang-timang, sambil mengira-ngira siapa kiranya orang yang begitu peduli dengan Ikatan Alumni Institut kami, sehingga berinisiatif membuat direktori ini. Setelah itu, yang pertama kali saya cari adalah (tentu saja) nama saya.  Siyalan..!! Jurusan saya ditulis tidak dengan semestinya. Saya ditulis sebagai alumni jurusan sebelah. Bukan itu saja, tempat bekerja saya juga salah. Padahal data yang pernah saya kirimkan kepada penerbitnya tidaklah salah. Belum apa-apa sudah membuat saya uring-uringan.

Kemudian saya mencari nama teman saya yang kini jadi suami saya :) Walah, ndak ada pula. Padahal dulu ngirimnya juga berbarengan. Sabar..sabar..sabar…Nama teman saya yang lain yang kini saya cari. Ada beberapa, memang. Kemudian mantan-mantan pacar saya :) Lumayan menjawab rasa penasaran ada dimanakah mereka kini…

Lalu, apa yang dapat saya harapkan dari buku ini..?

Saya menemukan banyak nama, tertulis rapi kecil-kecil lengkap dengan tempat bekerjanya. Barangkali ada puluhan ribu, atau ratusan, saya tidak tahu. Hampir semuanya tak saya kenal. Saya juga menemukan profil alumni-alumni yang bisa dikategorikan sukses di sini, yang sudah menjadi Dirut A, Dirut B, pengusaha A, pengusaha B…Barangkali untuk menimbulkan rasa bangga. Barangkali sebagai inspirasi. Saya tidak tahu. Karena sayangnya dua hal tadi tidak terasa benar di kepala saya. Kosong saja. Mungkin agar “networking” kita semakin luas, mempermudah karier dan sebagainya. Untuk mempererat tali persaudaraan. Halah. Entahlah.

Rasanya seperti ketika berjalan di kuburan : kita melihat banyak nama, ada yang kita kenal, banyak yang tidak. Kenangan. Barangkali itu yang saya harapkan ketika memesan buku ini akhir tahun lalu. Kenangan yang saya harapkan setidaknya dapat tetap tersimpan dengan adanya buku ini. Ah, betapa naifnya.

Terbuat dari apakah kenangan itu…? Mengapa kita sesekali merasa perlu untuk melihatnya kembali…?

Note :gambar diambil dari National Geographic.

Posted by: annaherdianto | June 2, 2008

Kapal Bodong dan Senior

Akhirnya, bulan Mei yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran bisa dilalui juga :)

Karena saya dianggap kebanyakan “makan kue Ibu-ibu Dharmawanita” (kebanyakan miting-red), maka juragan akhirnya menitahkan saya untuk “beranjangsana” ke Balikpapan. Crew Boat 25 pax sekarang jadi bagian saya. Halah. Agak gagu juga, karena “mainan” saya selama ini FSO/FPSO (sombong mode on).

Setelah berjuang menahan syndrom hamil muda, ditambah turbulen yang bikin isi perut bergejolak ndak karuan, akhirnya sampai juga saya di Sepinggan, dengan sehat walafiat tanpa pucat. Tapi perjuangan belum berakhir. Ternyata orang-orang seperjalanan saya lebih suka mampir ke Dandito daripada langsung ke hotel, menyantap berpiring kepiting yang membuat saya langsung lari ke wastafel, offloading sedikit yang masih tersisa di lambung (ngguiliani puoll…).

Setiba di kapal keesokan harinya, hal pertama yang saya lakukan adalah garuk-garuk kepala. Datang bersama juragan besar Divisi sebelah yang gajinya 8 kali lipat gaji saya benar-benar membuat saya mati langkah, ndak tau mesti ngapain, mendadak terserang penyakit goblok akut. Setelah bermenit cengar-cengir dengan dokumen lelang, akhirnya saya mendapat tema yang asli garing banget : kapal ini belum mempunyai sertifikat klas. Halah.

Cek-ricek kanan kiri, akhirnya saya mengontak BKI pusat :

“Kapalnya lagi diperiksa gambarnya, buat penerimaan klas bangunan lama..”

“He…? Penerimaan klas bangunan lama…? Lha…kan kapal baru”

“Iya….tapi pas dibangun sepertinya owner tidak mengundang klas, jadi sebelumnya tidak ber-klas. Ya notasinya bangunan lama. Kan BKI ndak supervisi selama kapal dibangun…”

“Lho…Kok statutory certificate-nya keluar…Load Line-nya juga…”

“Wooo…yo mbuh maneh…takok-o wong Perla…”

Saya garuk-garuk kepala lagi. Jadi…? Usut punya usut, ini kapal dibeli owner dari luar negeri, entah sebagai apa, tapi yang jelas bukan sebagai kapal karena tak ada selembar sertifikat kapal pun yang menyertainya dari luar negeri. Kapal bodong..? Barangkali. Baiklah. Ia kemudian didaftarkan di Jakarta. Kemudian ia “jalan” sendiri melintasi Laut Jawa ke Kalimantan, dengan bekal sertifikat statutory, termasuk load line. Entah saya yang kelewat goblok atau memang begitu aturannya, tapi setahu saya flag state baru dapat mengeluarkan load line certificate setelah ada evaluasi stabilitas dari biro klasifikasi. Jadi, bagaimana mungkin load line certificate sudah ada di tangan sementara stabilitas masih ada di BKI….?

Praktek membangun kapal tanpa disupervisi klas juga baru saya ketahui sekarang ini :) Barangkali saya saja yang kelewat kuper, karena saya yakin praktek seperti ini sudah umum dilakukan. Atau barangkali karena “mainan” saya hanya kapal-kapal besar saja (sombong mode on lagi). Irit, toh….? Tapi, owner melakukannya tentu dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya bahwa klas toh nanti PASTI akan menerima kapalnya. Entah yakin karena dari sisi teknis kapal sudah memenuhi rule, atau yakin karena hal yang lainnya :)

Kejutan belum selesai.

Saya bertemu dengan salah satu senior saya (Halah. nggak penting banget). Ia 19 angkatan di atas saya *&%$#!#….Ada beberapa kemungkinan manakala kita bertemu dengan senior.Pertama : ia akan bernostalgila dengan kita, tanya si A si B, dan sejenisnya. Type senior favorit saya. Kedua : ia akan  berlagak sebagai “senior sejati”. Memberi wejangan Do dan Dont’s.  Type seperti ini biasanya orang yang “dianggap” sudah sukses. Sebagai yunior yang baik, sebaiknya sampeyan berlagak juga “Oh begitu ya, Mas”, “Wah..hebat sekali…”, atau “Sangat inspiratif (halah)”. Siapa tahu sampeyan nanti bisa melejit kariernya atas bantuan senior seperti ini. Ketiga :sampeyan dianggap bukan apa-apa atau siapa-siapa. Ini biasanya diawali dengan keluhan :”Ah, anak-anak jaman sekarang, enak. Jadi manja. Jaman saya dulu bla..bla…bla….” Karena terikat kode etik bahwa :

Pasal 1 : senior tidak pernah salah,

pasal 2 : kalau senior salah maka kembali ke pasal 1,

maka yang dapat sampeyan lakukan hanyalah beriya-iya dan merendahkan diri, sama dengan ketika sampeyan disuruh push up saat pengkaderan, dulu.

Balik ke senior saya tadi. Awalnya ia berlagak seperti type ketiga, membuat saya “hampir” menyibukkan diri dengan HP. Tapi, lama-lama ia jadi curhat. Wah, baru kali ini ada senior curhat ke yunior :) Saya langsung tertarik. Rupanya, ia lama bekerja di negeri para Emir, dan baru beberapa tahun ini balik ke NKRI. Rupanya ia shock. Shock dengan perilaku orang-orang sini :) Tak mengerti ia korelasi antara BPMIGAS – KKKS. Tak paham ia dengan Pertamina sekarang. He he he he he…… Tapi karena merasa terikat pada kode etik di atas, maka saya hanya mendengarkan dengan sok simpatik. Lagipula, pertanyaannya memang tak perlu dijawab…

Begitulah, pengalaman Balikpapan suatu hari…

Posted by: annaherdianto | May 19, 2008

Sandal Lily Simbah

Tempo hari, setelah mengantarkan pembantu pulang kampung malam-malam, di kawasan yang banyak dihuni oleh orang Madura, saya berpapasan dengan seorang kakek. Kakek berpeci, bersarung, dan memakai sandal Lily. Dan entah kenapa pula, tiba-tiba saya jadi teringat dengan almarhum Simbah. Simbah dengan sandal Lily-nya.

Ia adalah Simbah saya, Bapak dari Ibu saya.

Tak ada yang saya warisi darinya, kecuali darah tinggi yang sepertinya memang sudah menjadi “kutukan” di keluarga kami. Adik saya adalah replika hidupnya : tinggi, bertulang besar, bermata lebar, dan bersuara menggelegar. Ia adalah horor bagi Mas-mas saya. Sepupu-sepupu saya akan mlerik koyo thinthir (analogi yang aneh :) ) manakala berhadapan dengannya. Dan tak ada yang berani berkata :”Tidak” kepadanya. Kecuali saya : satu-satunya cucu yang dimomongnya sejak balita.

Karena saya berwuku Sinto. Maka saya sugih tangis. Dan demi membuang watak buruk Sinto, maka Simbah melakukan ritual ini : saya dibuangnya ke jugangan resak (tempat pembuangan sampah-red). Tak lama, memang. Hanya beberapa menit, untuk kemudian diambil lagi. Berhasil? Ternyata tidak. Karena saya pernah hampir digampar Simbah dengan sandal Lily-nya, setelah berjam-jam tak berhenti menangis juga.

Sandal Lily. Dulu, benci sekali saya dengan barang satu ini. Dulu, manakala saya masih eS-De, pertengahan tahun 80an. Bukan karena permukaan karetnya hampir menggampar mulut saya. Juga bukan karena Simbah selalu memakainya. Lebih tepat, saya malu. Tidak modis, tidak keren, apalagi up to date. Halah.

Setiap Simbah membeli sandal Lily baru, tak lupa ia membelikannya sepasang buat saya. Sekali lagi : cuma buat saya. Tidak dengan Mas-mas ataupun adik saya. Dan selalu warna coklat, coklat susu. Ia beralasan, awet katanya. Memang, saya akui itu. Dan gampang ditebak, ketika kawan-kawan sepermainan telah berkali-kali berganti sandal, dengan model dan warna yang cerah-meriah, kaki kecil saya masih setia dengan sandal Lily.

Sandal ini, selalu licin setiap kena air. Dan menyakitkan manakala dibawa lari. Maka saya jarang memakainya. Akibatnya, jari kaki saya “mekar” hingga sekarang. Mas-mas saya sering meledek kaki saya sebagai “ceker ndeso”. Tentu saja. Karena mereka tidak berkewajiban untuk memakai sandal Lily seperti yang selalu dijatahkan Simbah untuk saya.

Simbah adalah orang yang apik. Tulisan latinnya (sambung-red) selalu rapi, miring ke kanan, dengan tinggi, panjang, dan tebal yang selalu seimbang dan konsisten. Ingat pelajaran menulis halus…? Seperti itulah. Ia mengajak saya menonton pagelaran wayang kulit di rumah Pak Tir, dekat-dekat dalang. Memaksa saya nembang Macapat dengan baik benar (Saya selalu nyerah untuk Asmaradhana). Mengajari aturan baku dalam gendhing. Dan menghabiskan waktu setelah Maghrib selalu dengan aksara hasil karya Aji Saka itu.

Ia juga seorang modin.Tak lupa, selalu saja ada orang yang datang kepadanya untuk bertanya : kapan pendhak pisan, pindho, atau entek-entekan si A ; Wuku si B begini-begitu, mesti bagaimana ; kapan tanggal baik untuk kawinan, hajatan atau pindahan, dan sebagainya. Umur 12, saya resmi “berpetualang”, keluar rumah untuk nge-kost, hingga saya berumur 26 tahun. Sejak itulah tak saya terima lagi ajaran-ajaran Simbah. Hingga serangan stroke keduanya membuatnya pergi tak kembali, sebelas tahun lalu.

Dan sandal Lily selalu mengingatkan saya kepadanya. Bahkan bau karetnya pun masih dapat saya ingat, sampai kini.

Posted by: annaherdianto | April 29, 2008

Erika, RINA, dan Pendopo

Sampeyan ingat Erika ?. Bukan…bukan Erika yang itu. Erika, tanker 37,238 DWT yang pada tanggal 12 Desember 1999 patah menjadi dua dan akhirnya tenggelam di perairan Prancis. Erika yang membawa sekitar 30,000 ton heavy fuel oil dan memuntahkan sekitar 14,000 ton muatannya, membuat Atlantic coastline tercemar hingga lebih dari 100 miles. Erika yang membuat IMO uring-uringan dan mempercepat “penghapusan” tanker single hull.

Erika yang dibangun di Jepang, Italian owned, controlled by 2 Liberian companies, ABK orang India, berbendera Malta, dan disewa oleh perusahaan pelayaran yang didaftarkan di Bahamas untuk Total, perusahaan minyak dari Prancis (halahhhh…mbulet wae…). Dan Erika yang boleh dibilang sebagai biang kerok “one of the greatest environmental disasters in the world”

Januari 2008, pengadilan Prancis akhirnya mewajibkan Total, ship owner, manager, dan RINA (Registro Italiano Navale, BKI-nya Italy), untuk membayar kerugian kira-kira sebesar USD 289 juta (Wah..bisa dapat Double Hull VLCC 2 biji tuh…). Selain itu, Total diwajibkan pula membayar sebesar 375,000 Euro karena dianggap “meremehkan” umur kapal dan perawatan Erika. Sementara ship owner dan ship manager diwajibkan pula membayar sebesar 75,000 Euro karena telah memangkas biaya perbaikan Erika. Mayoritas dari uang tersebut harus dibayarkan kepada pemerintah Perancis, meskipun beberapa kelompok lingkungan regional termasuk Greenpeace juga ikut mendapatkannya.

Sejujurnya, saya tidak menduga kalau RINA (yang IACS member itu) diikutsertakan juga dalam vonis. Begini kata pengacara RINA:

“My line of defence is that Rina was contracted by Malta, and that Rina did its job, it respected the rules. The contract that Rina signed is a “Republic of Malta” document.”

Ya ya ya…RINA memang mengeluarkan sea worthy certificate.Tapi, memang bukan jaminan sepenuhnya bahwa apabila biro klasifikasi telah mengeluarkan sertifikat laik laut, maka kapal dalam kondisi sehat wal afiat. Pemeriksaan klas hanya pada waktu-waktu tertentu, pun apabila dilakukan thickness measurement, misalnya, tidak dilakukan pada semua bagian, hanya pada bagian-bagian tertentu. Mestinya rule RINA sudah menentukan bagian-bagian mana yang perlu diperiksa.

“Niat baik” ada pada pemilik kapal dan operator, apakah cukup dengan rekomendasi dari klas atau masih memerlukan klarifikasi dari pihak ketiga lain. Pun apabila rekomendasi klas dijalankan ketika klas masih melakukan klarifikasi (sehingga sertifikat terbit), tidak ada yang bisa menjamin juga bahwa dalam operasionalnya kapal akan tetap menjalankan rekomendasi dari klas. Tapi, perkara akan menjadi lain samasekali manakala klas terbukti teledor dalam mengimplementasikan rule-nya (saya jadi teringat dengan salah satu FSO kami yang “jebol” heating systemnya :) ).

Ada apa dengan RINA…? Apakah mereka teledor…? Apakah mereka juga dipasang target…? Sesuatu yang menurut saya menggelikan karena mestinya biro klasifikasi adalah organisasi non-profit…Konon, gara-gara Mbak Erika ini, Uni Eropa akan mengaudit para IACS member (whue..he….he…..sapa bilang IACS member itu DEWA).

Dan beginilah tanggapan dari Total :

“At the time there was one vessel available, it was the Erika, it had all the required certificates, we didn’t try to strike a good deal, we have under-contracted the ship at the price of the market.”

Jadi, kalau semua sertifikat sudah punya, tak perlu inspeksi lagi…? Begitu….? Wah, saya bisa dijitak juragan saya kalau begitu….

Entah kenapa, saya jadi teringat dengan obrolan saya bersama seorang kawan kuliah, staff Pertamina Perkapalan, tempo hari.

Biasalah, obrolan para staff selalu dimulai dengan ngrasani juragan masing-masing. Kebetulan, juragan saya adalah teman dari juragan dia. Kemudian, mengenai perlu-tidaknya Pertamina mempunyai armada tanker sendiri. Masalah berlanjut pada beberapa kejadian kecelakaan kapal-kapal Pertamina.

Saya bertanya mengenai kemungkinan klaim dari LSM. Ia kemudian bercerita tentang banyak hal : LSM, Tentara, Polisi, Nelayan, DPR, dan masih banyak lagi. Memang, sungguh membuat hati miris :( Barangkali itulah mengapa kasus terbakarnya MT. Pendopo tak pernah mencuat ke permukaan, sebagaimana Erika dan Prestige.

Ngomong-ngomong postingan nggak mutu ini saya tulis dalam rangka “meminta maaf kepada juragan saya, yang karena satu dan lain hal maka saya tak dapat melakukan on hire inspection, setidaknya sampai satu setengah tahun ke depan…” :)


Posted by: annaherdianto | April 21, 2008

De Prinsessen Van …

Konon, menurut Pram dalam Anak Semua Bangsa, R.A. Kartini beserta saudarinya dengan diiringi Ayahnya pernah mengunjungi H.M.S Sumatra, kapal yang dikirimkan Nederland ke Hindia untuk membikin survey mencari tempat yang baik untuk Pangkalan Angkatan Laut Hindia. Di sini, De Prinsessen van Japara ini disambut dengan segala kehormatan dan kebesaran. De Prisnsessen van Japara, gadis pribumi yang berpikiran Eropa, waktu itu.

Seabad lebih kemudian, saya, De Prinsessen van Wonogiri (wakakakakak….), juga menaiki kapal. Sambutan yang saya terima? Paling enteng lirikan mesum. Suitan, towelan, sampai ditanyai nomer kamar hotel, biasa itu. Tanggapan saya? Paling sering saya kasih senyum paling manis, meski menurut beberapa teman saya senyum saya itu kayak senyumnya orang mesum. Paling sering ditanyain begini :

“Aih..aih..Neng geulis mau kemana…?”

“Ke steering gear room, Pak. Mari…”

Kalau sudah dijawab begitu, biasanya mereka tak menggoda lagi.

Seandainya De Prinsessen van Java hidup di jaman sekarang, kira-kira apa ya yang ada dalam pikirannya…?

Banyak macam perempuan sekarang. Ada yang gilang-gemilang dalam kuasa dan harta, cerdas sekaligus mempesona, didukung suami tercinta. Ada yang sedang “berjuang”, turun ke jalan, konon demi emansipasi. Di sisi lain, masih banyak yang berkutat dengan masalah “keperempuanan” mereka sendiri : digampar suami, aborsi, buang anak, diperkosa, dimutilasi, dsb. Ada yang sibuk dengan masalah pornografi (Menurut saya, DP berpose begitu kan karena hukum supply and demand :) ). Ada yang pula yang pernah menanyakan : mengapa pornografi selalu mengarah kepada perempuan…? Embuh. Ngomong-ngomong, pernah lihat pose bugilnya Fabio Cannavaro? Jangkrik…!!! Saya langsung horny seketika :) .

Saya rasa, “emansipasi” bagi setiap perempuan adalah tidak sama. Ada yang menginginkan persamaan kesempatan dalam segala hal, ada pula yang sederhana saja : terbebas dari gamparan suami, misalnya. Dulu, dulu sekali, seperti banyak diceritakn kitab suci, Tuhan akan memberikan banyak mu’jizat untuk ummatnya yang tertidas (halah…). Sekarang kok rasanya tidak terdengar lagi ya.

Barangkali Tuhan memang sudah bosan. Capek. Bete. Tuhan kasih kita kepala, komplit dengan otak sebagai pengisinya. Sebagai perempuan, baiknya kita pakai otak kita sendiri, mau jadi apa kita sebenarnya, tak usahlah tergantung pada orang lain, laki dan perempuan. Rasanya tak ada lagi yang setulus Kartini.

Jadilah De Prinsesses van…….(terserah sampeyan mau mengisinya dengan apa….)

Posted by: annaherdianto | April 11, 2008

Office Romance

Karena saya sedang terkena sindrom hamil muda, maka bisa dipastikan dalam waktu tiga bulan ke depan saya tidak akan bisa berpikir “agak jernih”, sehingga mohon dimaklumi kalau tulisan belakangan ini semakin tidak bermutu, memperparah postingan-postingan sebelumnya yang memang sudah tidak bermutu :)

Karena saya hobby cangkruk di pantry sambil menyeruput teh tubruk, maka saya jadi banyak mendengar gosip-gosip seram seputar kantor, yang tidak akan pernah saya dengar dari rekan sekerja. Penghuni pantry ini biasanya terdiri dari para office boy/girl, cleaning service, pengantar surat, tukang foto copy, serta penjaga ruang fax. Karena mereka pegawai outsourcing, sering dirotasi antar bagian, dan kerap pulang larut, maka gosip yang keluar dari mereka biasanya “lebih realistis” dan auditable :)

Kadang saya geli. Kadang trenyuh. Tapi lebih sering misuh-misuh. Saya tidak tahu apakah yang mereka gosipkan itu benar atau tidak, tapi tetap saja bisa membuat saya berlama-lama di pantry, dan terhanyut :)

Gosip tentang perselingkuhan seorang senior manager dengan seorang kawan kerja, yang janda muda. Isyu tentang boss yang sudah bau tanah ini merebak ketika sang Nyonya mulai sering telpun ke kantor yang (sayangnya) lebih sering diterima oleh si office boy. Si office boy ini, dengan nada seperti berkeluh kesah, bercerita bahwa ia sekarang harus menjadi seorang pembohong berat. Dan bahwa ia pernah mempergoki si boss berasyik-masyuk dengan kawan selingkuhannya di emergency exit, suatu kali selepas jam kerja. Saya diam saja. Tidak bertanya. Hanya menyeruput teh lebih kencang lagi.

Suatu kali, ada gosip lain lagi. Perselingkuhan seorang boss lain dengan rekan kerja lain juga terungkap gara-gara print out tagihan HP (Sekedar informasi, kami menggunakan Halo Corporate yang masing-masing pekerja mendapat “jatah” pulsa sesuai dengan jabatannya). Yang ini jelas membuat saya misuh-misuh. Nomer mana saja yang sudah dikontak itu mestinya bersifat rahasia, bukan diumbar begitu saja. Mestinya petugas melihat total tagihannya saja, bukannya meneliti satu per satu nomer yang sudah dikontak dan menyebar isu itu sedemikian rupa. Siyalan.

Dan bagaimana jika antar pekerja, yang sepantaran, terlibat percintaan…? Tak akan menjadi masalah apabila dua-duanya tak  mempunyai komitmen dengan orang lain, gosip tak akan sekencang itu. Tapi sepertinya mereka berdua, yang digosipkan itu, juga tak terlalu ambil pusing dengan rasanan para penghuni pantry itu. Tak elok…? Elok relatif, bukan…? Kasian pasangannya….Masak…? Selama mereka tidak tahu, bukan…? Barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Dan entah apa lagi.

Masih banyak gosip yang lebih “seram” lagi. Dengan pelaku yang lebih menakjubkan lagi. Saya rasa kantor saya bukan satu-satunya, sepertinya hal seperti itu sudah jamak terjadi. Saya tidak tahu mengapa, karena saya belum pernah mengalaminya. Barangkali karena memang tidak ada yang cukup layak untuk menjadi selingkuhan saya.

Menurut saya, seorang selingkuhan harusnya jauh lebih baik dari pasangan sendiri, dalam segala hal. Kalau tidak, berarti dia goblok. Kalau saya tidak selingkuh, itu berarti memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dari suami saya :) Dan kalaupun ada, pasti tidak dalam segala hal. Dan itu berarti tidak ada cukup alasan untuk menggantikannya.

Ah, jadi kepengin menelepon suami saya, mendengarkan suara rendahnya yang kebapakan itu… :)

Posted by: annaherdianto | April 8, 2008

Wew….!!! Hamil Lagi….

Karena sudah telat seminggu. Karena merasa ada “sesuatu”, maka tadi pagi saya memakai s**si*i*. Dan, tak menunggu lama, muncullah dua garis merah :)

Dan begitulah. Pukul 11.00 hari ini saya sudah ber-hai-hai lagi dengan ginekolog saya yang…ehmmm…itu…di RSB YPK, Menteng.

“Hai, Dok…”

“Sudah hamil lagi…?”, Dokter favorit saya ini terkekeh sambil geleng-geleng kepala, kebiasaannya yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.

Kemudian…bla-bla-bla…..periksa pakai USG…sudah 5 mingguan…darah tinggi…dan sebagainya…

“Tensivask-nya saya ganti ya…?”

“Oke..ganti apa, Dok..?”

“Aldomet, aman buat Ibu hamil…”

“Wokeh. Tapi saya ndak mau Adalat”

“Kenapa..? Deg-degan…?”

“Iya. Keringetan lagi. Kayak kalo mau ketemu Dokter (wakakak…yang ini khayalan doang..)”.

Itulah kenapa saya “setia” dengan dr. Yusfa. Berbicara dengannya seperti berbicara dengan teman lama, tak merasa “terintimidasi”, seperti kalau saya berkunjung ke Dokter lain pada umumnya :)

Kehamilan kedua ini rasanya jadi lebih santai. Enggak gabruk-gabruk macam dulu lagi, tinggal melakukan ritual ini. Semoga juga lancar.

“Nomer HP Dokter masih sama kayak yang dulu kan…?”

“Iya…Eh, selamat dulu dong..” Pak Dokter menyalami saya dengan hangat….

Kalau dr. Yusfa saja mengucapkan selamat atas kehamilan kedua saya ini, mengapa saya tidak mengucapkan selamat pada diri sendiri..?

Baiklah, selamat atas kehamilannya lagi, buat diri saya sendiri :)

Posted by: annaherdianto | March 21, 2008

Sea Truck Rasa Tanker

tiga-monyet.gif 

Ungkapan ini selalu digunakan oleh seorang kawan saya ketika sedang mencibir Biro Klasifikasi kita, PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero). Entah maksudnya apa. Dan entah mengapa pula ia menggunakan ungkapan itu. Sepertinya ungkapan itu muncul dari segunung prasangka dan kekecewaan.

Saya sendiri juga selalu kesulitan untuk dapat memasukkan kriteria “kapal harus berbendera Indonesia dan diklaskan oleh BKI” dalam spesifikasi teknis lelang. Dasarnya jelas : KM No 20 tahun 2006 tentang Kewajiban Bagi Kapal Berbendera Indonesia untuk Masuk Klas pada Biro Klasifikasi Indonesia. Pada hirarki yang lebih tinggi ada Inpres No. 5 tahun 2005. Juga KM No 71 tahun 2005. Seabrek peraturan pendukung, kenyataannya sendiri bagaimana…?

Kredibilitas BKI sepertinya susah sekali untuk diakui. Banyak hal penyebabnya. Tak sedikit yang menyatakan itu karena BKI belum menjadi anggota IACS, yang kalau tidak salah saat ini beranggotakan 10 biro klassifikasi + 1 associate. Apakah memang perlu bagi untuk menjadi anggota IACS….? Asuransi barangkali memang hanya mempercayai kumpeni-kumpeni di bawah IACS. Kalau begitu, “pencerahan” perlu dilakukan pada pihak Asuransi.

Saya pribadi tidak terlalu ‘mengagungkan’ IACS member. Secara teknis, saya punya banyak pengalaman tak mengenakkan berkaitan dengan kompetensi mereka.

Dari gagalnya sistem cargo heating pada tanker yang membuat ribuan barrel crude oil berubah menjadi seperti….aspal yang bertahun-tahun disimpan di dalam kulkas, sampai miringnya salah satu supply vessel  karena modifikasi pada deck-nya tak memperhitungkan stabilitas dan sebagainya. Kesalahan itu saya timpakan kepada biro klasifikasi yang menanganinya (IACS member loh….) karena mereka benar-benar teledor, menurut saya. Belum lagi ketika suatu kali di meja saya mampir secarik ‘rekomendasi’ dari biro klasifikasi asing, yang mana rekomendasi itu diminta oleh salah seorang peserta tender. Dengan modal rekomendasi itu, si peserta tender bisa lolos dari kualifikasi teknis. Sang IACS member yang agung itu hanya memperhitungkan volume minimum suatu tangki yang dipersyaratkan, tanpa memperhitungkan akibat buruk terkait faktor konstruksi, kekuatan kapal dan lain sebagainya yang dapat timbul sebagai akibat dari modifikasi tangki tesebut. Pikir saya waktu itu : “Halahhhhh….jebul cuma segitu tok…”Secara teknis, kemampuan personel tjap alap-alap tak jauh beda dengan tjap jangkar dan palu ketok :)

Ada yang lain lagi. Begini. Ketika seorang Surveyor BKI datang, memberikan rekomendasi yang meteran panjangnya, apa yang akan dilakukan para OS..?Biasanya, minta korting dulu. Ada banyak alasan : biaya enggak ada, peralatan enggak penting, dan lain sebagainya. Tidak bisa…? Ah, selalu ada cara lain :)

Kompromi pada implementasi rule jelas harus ada, karena menurut saya jelas tak mungkin rule BKI-yang konon persis dengan rule Germanischer L’loyd-itu secara saklak diterapkan, mengingat kondisi pelayaran tanah air yang masih begini adanya. Tapi tunggu dulu, tidak setiap OS minta korting. OS dari perusahaan-perusahaan tertentu justru minta rekomendasi yang lebih banyak lagi. Gampang saja toh, akan ada pengadaan material dan peralatan, akan ada vendor, dan tentu saja margin :)

Lalu, bagaimana jika klas asing yang memberikan rekomendasi. Minta korting…?Walahhhhh…..mana beraniiii……Aneh juga ya, padahal tak sedikit surveyor BKI yang kadang bertindak atas nama biro klasifikasi asing anggota IACS. Tapi di sini mereka dihargai, tak ada korting rekomendasi, dan sebagainya. Jadi….? 

Konon INSA pernah mem-PTUN-kan Departemen Perhubungan dan BKI karena pengeluaran peraturan tadi dianggap salah prosedur atau bagaimana, kurang jelas. Yang jelas, penetapan seperti itu akan memberatkan mereka. Pihak financing mereka tentu menghendaki IACS, sedang peraturan dalam negeri seperti ini. Dual class akan menambah biaya, tentu saja. Well….Menambah biaya sebesar apa…? Setahu saya, apabila dual class, BKI “tinggal ngikut” saja. Dan setahu saya lagi, besarnya biaya terkait pengurusan klas ke BKI, tak lebih besar dari biaya maket kapal dan parcel yang dibagikan kepada para “rekanan” :)

Indepedensi. Selama BKI masih ”di bawah” Departemen Perhubungan, konon BKI tak akan bisa bebas begerak. Juga, mengenai pembagian lingkup kerja. Seingat saya, pada banyak flag state lain, segala urusan yang berkaitan dengan teknis kapal diserahkan kepada Biro Klasifikasi yang mereka akui. Untuk Indonesia, masih bagi-bagi. Sebagian ke Departemen Perhubungan, sebagian lagi ke Biro Klasifikasi, ada pula yang ke Depnakertrans. Belum lagi untuk kapal di migas, ya musti ke ESDM juga dong. Walahhhhhh………

Belum lagi masalah setoran ke Pemerintah, target yang diberikan kepada masing-masing cabang, dan sebagainya. Banyak.

Kalau kredibilitas BKI tak juga diakui, saya pikir itu bukan kesalahan BKI semata. Ini kesalahan kolektif kita semua.

Mengenai Sea Truck Rasa Tanker, seharusnya ungkapan ini sudah cukup familiar bagi salah satu cabang utama BKI :)

Posted by: annaherdianto | March 18, 2008

Cerita Ibu-ibu

 mother-cartoon.jpg

Ada banyak cerita tentang para Ibu. Apakah Anda suka mengamatinya…?

Ibu ini akhirnya mati bersama bayi yang dikandungnya, sedang anaknya yang lain juga sedang menunggu waktu untuk menyusulnya. Si Bapak lebih suka mabuk, mungkin untuk melupakan kepedihan hidup. Saya tidak tahu…

Ibu yang ini lain lagi. Ia menumpuk 600 ribu dollar Amerika di kardus begitu saja, seperti menaruh uang monopoli setelah permainan usai. Dan lihatlah, sekarang sering sekali mukanya terlihat di tipi, di sela berita kriminal, kerusuhan, dan bencana.

Sementara Ibu ini  kabar perceraiannya tambah “seru” saja. Makin banyak kabar-kabur, makin banyak tuntutan, makan banyak pengacara berkoar, dan makin membikin bosan para penonton tipi. Rupanya aib sekarang juga bisa ‘menghasilkan’ : uang, popularitas, sakit hati, dan banyak lagi. Wah…wah…wah…

Entah Pemerintah yang goblok, entah Pertamina dan BPHMIGAS yang tidak bisa menangani manajemen bahan bakar, atau entah masyarakat yang (kata sebagian orang ‘pintar’) kelewat bodoh, yang jelas para Ibu ini harus bersusah payah untuk mendapatkan minyak tanah. Minyak goreng…? Terigu…? Tempe…? Naik semua….? Ah, urusan dapur memang sering bikin pusing.

Nah, cerita (calon) Ibu yang satu ini lain lagi. Ia dipenjara karena berkelahi dengan istri kekasihnya (Dan mengapa tiba-tiba saya jadi teringat sampeyan, Mas?). Di penjara, ia justru diperkosa oleh si penjaga.

Sementara itu, Ibu yang ini dari kemarin misuh-misuh saja. Karena ditinggal para boss-nya ber-ajojing ria di Surabaya, sementara ia ditugasi me-review LPG FSO yang jelas-jelas bukan proyek bagiannya :(

Syukur atau sukur…..?

Posted by: annaherdianto | March 14, 2008

Minyak dan Kemladean

benalu.jpg

Mungkin tidak ada hubungannya.

Anda tahu kemladean…? Ini adalah semacam tumbuhan parasit, ia mengambil jatah makan dari pohon induknya. Daunnya ada yang menjuntai, sekilas terlihat indah dan bisa disangka tanaman hias. Ia biasa ditemukan pada tanaman kayu keras : jambu, rambutan, petai, dan lain-lain. Kadang berguna juga untuk pengobatan.

Entah karena hobby kawan saya yang sudah kelewatan atau karena saya yang tidak sempat membaca berita, tempo hari kawan saya itu mem-forward berita tentang diusulkannya penggantian Kardaya Warnika, Kepala BPMIGAS saat ini, oleh Menteri ESDM (Sejak kapan Menteri mengusulkan penggantian Kepala BPMIGAS? Seingat saya ini wewenang Presiden :) ). Sebabnya gampang dimaklumi : penurunan produksi minyak dalam negeri. Kinerja BPMIGAS dinilai tidak bagus.

Ah, saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan itu semua. Tapi karena saya mengais rejeki dari sektor migas juga, maka mau tidak mau saya saya jadi tertarik juga.

Ada banyak usulan mengenai penilaian kinerja BPMIGAS : produksi minyak, cost recovery, rasio revenue to cost, jumlah investasi, dan lain sebagainya. Yang jelas semuanya berupa data statistik. Tapi statistik tinggallah statistik. Entah para pengambil keputusan yang terhormat tidak tahu statistik atau justru kelewat tahu, data ini tinggallah alasan, dicomot mana yang sekiranya paling justified di mata awam, sedang alasan sebenarnya…entahlah.

Rasanya sudah jadi pengetahuan umum kalau para petinggi negara dipilih bukan berdasarkan kinerja. Para Menteri, Kepala Badan-badan Negara, juga BUMN. Banyak hal : jumlah setoran, kedekatan, dan lain-lain. Ah, dimana-mana juga sama saja bukan? Pengambilan data statistik barangkali cuma biar kelihatan intelek, dan ada Key Performance Indicator-nya. Mungkin pemilihan Rektor PTN berstatus BHMN saja yang bersih dari beginian :) Tapi tidak tahu juga, dhing….

Ah, entahlah. Saya kok menganggap para pengambil keputusan yang terhormat ini seperti kemladean saja, parasit bagi negara. Tidak ada mereka, rasanya Negara akan baik-baik saja.

Saya memang bukan warganegara yang baik. Dulu, pada Pemilu pertama saya, saya bela-belain pulang dari Surabaya hanya untuk mencoblos partai yang saya percaya, karena saya terdaftar di kampung. Setelah Pemilu, keyakinan saya jadi tidak jelas lagi, mungkin rasanya seperti krupuk yang kecemplung jangan gori : mlempem, tak renyah lagi, dan asem. Sejak saat itu, saya tak pernah ikut Pemilu lagi: Presiden, DPR, apalagi Pilkada. Rasanya sayang kalau suara saya turut memberi makan pada para kemladean itu.

Kepada Pak Kardaya, kenapa tidak bilang saja : “Ora patheken…?”

Sweet Nancy was so fancy
To get into her pantry
Had to be the aristocracy
The members that she toyed with
At her city club
Were something in diplomacy
So we put her on the hit list
Of a common cunning linguist
A master of many tongues
And now she eases gently
From her Austin to her Bentley
Suddenly she feels so young

(Knocking at Your Backdoor – Deep Purple)

Note : gambar diambil dari www.iptek.net.id

Posted by: annaherdianto | March 12, 2008

Habitability Notation untuk Floating Installations

petrobras.jpg

Mungkin ini cerita basi. Tapi karena saya baru mengetahuinya, ya tidak basi buat saya :)

Berawal dari keisengan saya keluyuran di situsnya ABS. Dari berita lama mereka saya ketahui bahwa Rig Soehanah (milik Apexindo) merupakan MODU pertama yang mendapat notasi HAB+ dari ABS. Penasaran, saya kulik apa itu HAB.

Pada tahun 2002, ABS rupanya telah mengeluarkan Guide for Crew Habitability on Offshore Installation. Selain itu, mereka juga mengeluarkan Guide for Crew Habitability on Ships. Penerapan guide ini diharapkan dapat mengurangi crew featigue serta meningkatkan crew retention, baik di floating installation maupun di kapal.

Manurut ABS, habitability didefinisikan sebagai acceptability of conditions of an offshore installation in terms of vibration, noise, indoor climate, and lighting, as well as physical and spatial characteristics, according to prevailing research and standards for human efficiency and comfort.

Untuk mendapatkan notasi HAB, terdapat 5 kriteria yang dinilai, yaitu :

  • accommodations design,
  • human whole-body vibration,
  • noise,
  • indoor climate,
  • lighting

Sedangkan untuk mendapatkan notasi HAB+, kriteria yang lebih ketat diaplikasikan pada kriteria vibration dan indoor climate.

Floating installations sendiri termasuk namun tidak terbatas pada : Tension Leg Paltform (TLP), Spar Buoy, Semi Submersibles, serta Permanently Moored Shipshape Hulls (FPSO, FSO, FPO).

Saya pribadi sepakat dengan adanya guide ini. Bukannya apa, karena menurut saya, bekerja di floating installations itu tidak enak. Meskipun banyak juga yang bilang enak: on-off tiap 2 minggu (tergantung kebijakan masing-masing perusahaan), kompensasi yang jelas lebih besar apabila dibandingkan dengan onshore, makanan yang sedap-sedap (jam 07.00 makan pagi, jam 10.00 coffee break, jam 12.00 makan siang, jam 15.00 coffee break lagi, sehabis magrib makan malam. Dan coffee break di sini berarti makan mie atau roti….), fasilitas hiburan dan kebugaran yang memadai, dan lain sebagainya.

Saya tidak bekerja di floating istallations, dan kalau saya ke sana status saya hanya sebagai visitor, paling lama 3 hari saya sudah pulang. Dan pada hari kedua, biasanya saya sudah ribut bertanya ke radio room, kapan ada crew boat yang bisa membawa saya segera cabut dari tempat itu he he he….

Kenyamanan bagi para crew di floating installation itu perlu. Mereka bekerja pada kondisi yang…well…boleh dibilang membutuhkan standart safety yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan onshore installation. Ketegangan atau stress bisa berdampak buruk pada mereka sendiri maupun fasilitas yang ada di sana.

Saya belum tahu, apakah biro klasifikasi lain sudah mempunyai guide seperti ini atau belum. Tapi bagaimana dengan floating installations kita..? Saya check notasi FPSO Belanak Natuna, floating installation paling keren yang ada di Indonesia, well…ternyata belum ada.

Tapi, kalau sudah comply dengan peraturan itu, apakah saya masih boleh mendengarkan Deep Purple di atas FSO lagi..? Haiyyahhh….ora ono hubungane blasss….

Older Posts »

Categories