PENGUMUMAN
Tanah ini dalam tahap pemeriksaan tingkat banding Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara Sesuai dengan Akta banding No. 193/6/2008/ PTUN JKT
tanggal 25 Juni 2009.
Sama sekali bukan plang yang istimewa. Tapi menjadi istimewa bagi saya hari itu. 05.40, kami, saya dan suami, sampai di Cilincing, dalam jarak antara Bekasi – Jakarta. Pada suatu titik, garis, atau apalah, mendadak ada yang mengacungkan bambu runcing di depan mobil kami.
“Stop, Pak…”.
Tak paham, tentu berhenti saja. Baru sadar akan apa yang dilakukan ketika sejumlah remaja tanggung mulai menggelar beberapa ban trailer di depan. Ah, betapa beruntung mobil di depan tadi. Sudah menebak apa yang akan terjadi, karena ini adalah yang kedua kali, maka lebih baik berputar. Terlambat. Ternyata sudah berjajar yang lain. Ajaib. Kendaraan pribadi yang biasa membunyikan klakson keras-keras, para kenek trailer yang suka mengumpat, pagi itu diam saja. Meski jelas mereka tak akan bisa lewat.
Sebagai yang di depan, kemana lagikah bisa berharap? Polda Metro Jaya. Maka nomor itu saya pilih, kesasar di Humas, kemudian disambungkan ke bagian Satlantas. Setelah mencatat posisi blokir, petugas di seberang berjanji akan menangani segera. Ketika mulai bakar-bakar, saya telpun lagi. Massa bakar-bakar di dua sisi. Puluhan kendaraan terjepit di antaranya, termasuk saya. Merdu petugas di seberang bilang : sedang koordinasi. Barangkali SOP customer servicenya memang begitu.
30 menit. Seorang yang saya kira berpangkat datang. Sendirian? Belakangan saya baru tahu, ia-lah sang Kapolres. Tak lama, mulai terdengar orasi. Berikat-ikat bambu runcing dikeluarkan. Bom molotov digenggam. Ada yang menyarankan tabung LPG segala. Putus-putus terdengar :
“Jika kami digusur, maka mobil di antara kami akan kami bakar semua…Kita punya sandera”
Terhitung sejak saya terkena pre-eklampsia ketika sedang mengandung anak kedua, barangkali saat itulah tensi saya naik lagi. Gemetar, kami keluar mobil. Dengan mendekap erat Lenovo retak, saya ikut bergerombol dengan para ‘tawanan’ lain.
Maka hari itulah sebuah lakon dimainkan.
Ketika cara ‘orang kaum beradab’ telah ditempuh, namun ternyata percuma saja, maka bolehkan cara ‘kaum tak beradab’ dilakukan? Lagipula, berhakkah kita, saya dan sampeyan, menentukan boleh atau tidak Dengan segala carut Negeri ini, masih adakah yang bisa dipersalahkan. Teori tak lagi relevan. Apalagi pendapat para pengamat, yang berbusa di tipi-tipi dan surat kabar, yang menganalisa sambil minum kopi. Sedapnya. Barangkali dengan mengutip pendapat ahli ditambah bahasa ‘langit’, akan lebih meyakinkan.
Warga vs Makbul bin Engkong. Masih di Pengadilan. Warga pakai lawyer, Silvester namanya. Pak Makbul punya tanah,komplet dengan sertifikatnya, 8 hektar konon. Warga juga punya : sertifikat, sambungan PLN, telpon, KK, KTP. Lalu di seberang, ada 2000an satpol PP, siap menyerang. Tak punya IMB, Pemkot bercerita. Maka dikerahkan pasukan penggusur. Di balik asap tebal, 400an Brimob berjaga. 1 water canon parkir di tengah jalan. Ambulance bersiaga. 500an warga, komplet dengan alat perangnya, berteriak. Mencaci. Mengancam. Kapolres melakukan hal yang sama : berunding, berteriak, juga mengancam. Tawanan bercakap dalam kalimat putus-putus : “asuransi..?”, “rumah mana?”,” kantor mana?”, jalan lain..?” Para pembawa berita berlarian.
Barangkali mereka hanya mencari perhatian, orang yang merasa punya Negara. Sungguh saat yang tidak tepat. Karena media lebih suka bercerita tentang Antasari. Juga Aburizal Bakrie. Orang-orang dari dunia antah berantah yang mungkin kita cakapkan setiap hari, seakan kita paling tahu tentang mereka. Orang-orang yang sudah selesai dengan materi. Maka mereka memanjat hirarki Maslow selanjutnya.
Hari telah lengas. Tawanan berwajah ketakutan. Kapolres yang tampak sebal. Satpol PP bertampang masam. Sopir trailer yang bosan. Brimob berwajah melas. Pemadam kebakaran berkacak pinggang. Warga yang masih ber-amarah. Pekerja proyek yang asyik dapat tontonan.
Ketika solusi jangka panjang hanya sebatas dicakapkan tanpa pernah ada wujud, maka cara instant akan sejenak membuat orang lupa. Dan begitulah. 4 jam setelah ban pertama dibakar, bolehlah kami melanjutkan lakon kami sendiri. Tak ada penggusuran hari itu. Entah kapan (lagi).
Dan rupanya gila itu penyakit menular.
Untuk kesekian kali, saya harus berdebat keras dengan juragan. Untuk suatu pengadaan. Tentu saja saya harus ‘dikalahkan’, karena konon,atasan punya ‘helicopter view’ yang lebih luas. Tapi apakah ‘helicopter view’ akan linier dengan hati nurani? Saya rasa tidak. Pada titik ini, rusuh Cilincing tiba-tiba menjadi sangat relevan.
Selamat pagi, Indonesia. Masih adakah yang memikirkanmu hari ini…?


















