Posted by: annaherdianto | November 1, 2007

Ronggeng Dukuh Paruk

 cover-ronggeng-dukuh-paruk.jpg

Pengarang                   : Ahmad Tohari

Ukuran                        : 15 x 21 cm

Tebal                           : 397 halaman

Terbit                          : Januari 2003

Penerbit                      : PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku favorit saya. Menurut saya, ini adalah masterpiece Ahmad Tohari. Mengapa saya sangat menyukainya? Karena karakter para tokoh dan setting ceritanya terasa begitu dekat dengan saya yang notabene lahir dan menghabiskan 12 tahun hidup pertamanya di perdukuhan yang sangat ndeso, di pelosok tenggara Jawa Tengah sana.           

“Jangkrik, gangsir, walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas” (hal. 111)  

“Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currr. Kemudian Rasus, Warta, dan Darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan amsing-masing. Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali” (hal. 11)

Hanya orang ndeso yang bisa menghayati setting di atas, dan hanya bocah ndeso yang berkelakuan seperti mereka.

Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus, dan Jantera Bianglala. Pada buku pertama “Catatan Buat Emak”, diceritakan bagaimana awal mula Srinthil bisa menjadi ronggeng, setelah Dukuh Paruk menunggu kehadiran seorang ronggeng baru selama dua belas tahun. Ronggeng terakhir mereka ikut tewas dalam tragedi tempe bongkrek.Indang telah merasuk ke tubuh Srinthil, membuat Srinthil menjadi seorang ronggeng sejati. Pertemanan antara Srinthil dan Rasus telah menimbulkan rasa cinta di antara mereka, dan Srinthil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus sebelum malam bukak klambu, dan hanya mereka berdua yang tahu. Rasus sendiri selalu mencari sosok Emaknya yang ikut tewas dalam tragedy tempe bongkrek.  Kecewa karena Dukuh Paruk merebut Srinthilnya, Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk untuk kemudian menjadi tentara. Rasus juga menolak perkawinan yang ditawarkan Srinthil, dan memberikan Dukuh Paruk apa yang paling berharga buat mereka : seorang ronggeng.

Dalam buku kedua “Lintang Kemukus Dini Hari”, diceritakan bagaimana Dukuh Paruk dengan segala keluguan, kebodohan, dan kecabulannya terseret dalam huru-hara 1965. Mereka tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi di negeri antah berantah bernama Jakarta. Mereka dengan mudah diprovokasi, dan Srinthil menari dalam kemarahannya sendiri, tak pernah mengerti apa itu revolusi. Srinthil yang waktu itu berusia duapuluh tahun akhirnya terpenjara secara fisik dan psikis, dan roh indang terbang dari tubuhnya.

Dalam buku ketiga “Jantera Bianglala”, Srinthil yang telah kehilangan roh indang dan telah merasakan pilunya menjadi seorang tahanan politik, berusaha memperbaiki citra dirinya, ingin menjadi wanita seutuhnya yang bermartabat. Harapan muncul ketika ia betemu Bajus. Namun jiwanya terhempas ke titik nadir yang paling bawah ketika Bajus yang demikian diharapkannya mampu membawanya ke harkat yang lebih tinggi, malah menyerahkannya ke atasannya. Srinthil gila. Dan Rasus dengan segala kebesaran hatinya, bersedia mengakui Srinthil sebagai istrinya.

Begitulah, sepertinya saya memang tak akan pernah merasa bosan membaca karya yang adiluhung ini. Dan saya paling suka pada bagian penutupnya, entah kenapa:           

Bulan berkalang bianglala di atas sana kuanggap sebagai sasmita bagi diriku sendiri, untuk mengambil wilayah kecil yang terkalang sebagai sasaran mencari makna hidup. Dukuh Paruk harus kubantu menemukan dirinya kembali, lalu kuajak mencari keselarasan di hadapan Sang Wujud yang serba tanpa batas”  


Responses

  1. kagem mbak Anna,
    sugeng ndalu mbak . . . . (jangan jangan bacanya pas pagi pagi)
    Kulo nembe pados buku ingkang sami kaliyan ingkang panjenengan remeni – “ronggeng dukuh paruk”.
    Kulo sampun ndatengi gramedia, namung sampun mboten wonten stok.
    Menawi dangan ing penggalih, kulo nyuwun info wonten pundi sagedipun pados buku, utawi down load, utawi foto copynipun.
    Matur nuwun

    best regards
    wisnuyd

  2. Mas-e,
    Kebeneran saya bacanya memang pas malam-malam :)
    Bagaimana kalau Gunung Agung, Kharisma, atau Toko Buku Utama…? Atau di toko buku online macam gramedia online,kutukutubuku atau bukukita, saya biasa beli ke mereka, karena ndak sempat lagi ke toko buku offline.
    Ngomong-ngomong, saya dulu belinya di Carrefour :)
    Nggak nyambung toh…

  3. mbak, saya lagi nyari2 judul skripsi neh
    rencananya saya mau bahas tentang Ronggeng
    karna menarik sih
    ada hal yang pengen saya tanya ma mbak selaku orang yg menyenangi buku ini
    menurut mbak nilai kebudayaan dan nilai spiritual yg seperti apa sih yg ada di buku ini?
    saya agak sedikit kewalahan nih karena saya bukan orang jawa (hehehehehe)
    ada gak buku2 yg bisa saya pakai buat menyelesaikan calon skripsi saya. tolong y mbak.
    Makasih….
    Saya tunggu Lho

  4. mbak saya lag nyusun skripsi nih
    rencananya saya ingin bahas tentang ronggeng dukuh paruk.
    bisa bantuin saya kan mbak?
    Saya AgaK kewalahan nih….
    Saya bukan orang Jawa (heheheheheheh :P )
    menurut mbak nilai budaya dan nilai spiritual yg seperti apa sih yg terdapat dalam novel ini.
    dan ada g buku2 rujukan yg bisa saya baca untuk melengkapi calaon skripsi saya ini?
    Saya tunggu y Mbak jawabannya.
    Makacih..

  5. Wah…
    Kayaknya panjang deh kalo mau cerita…
    Mesti bagaimana…?
    E-mail saya : annaherdianto79@gmail.com :)

  6. Saya orang Indonesia tapi bukan alumni sastra Indonesia, saya lulusan sastra Amerika. Sebagai orang Indonesia saya mencoba menyukai sastra Indonesia. Sejmlah novel Indonesia saya baca. Eh, ada manfaatnya juga. Ketika anak saya disuruh menelaah novel-novel Indonesia, buku-buku saya bisa dipakai oleh anak saya, termasuk trilogi ronggeng duku paruk karya Ahmad Tohari. Karya-karya Ahmad Tohari saya suka. Dan ketika anak saya minta bantuan saya bisa memberikan ulasan sedikit. Namun saya tetap saja minta anak saya untuk membaca karya yang ditugaskan oleh gurunya.

    Bila anda seorang mahasiswa sastra Indonesia yang akan menelaah karya A Tohari, hendaknya anda baca buku kebudayaan jawa oleh Koentjaraningrat dan buku karangan Clifford Geertz “religion of java” dan buku-buku lain yang membahas kebudayaan jawa. Banyak banget kok.

    moga ada manfaatnya. dan untuk mbak anna, matur nuwun, dan mohon izin tulisan sampeyan, saya kutip.

  7. He…? Dikutip…? Tulisan ndak jelas begini kok he he he :)

    Terima kasih sudah mampir…

  8. Tadi pagi anak saya minta dicarikan ulasan tentang ronggeng dukuh paruk. Sebagai bapak yang baik, kata orang, harus mensupoort anaknya. Mbah bisa juga melihat-lihat website saya: fatchulfkip.wordpress.com. Saya orang Jawa yang tinggal di Kalimantan Selatan. Matur nuwun.

  9. saya sedang menulis esai ronggeng dukuh paruk (RDP). kalau tidak keberatan, tolong kirimkan beberapa ulasan tentang RDP sebagai bahan bacaan saya. terima kasih.

  10. sy lg ad tgs rDp ini,cr2 di google ad web ini..wah blh ksh masukan y walau kyanya comment trakhr ud lm bgt.yg sy bc,rasus bkn pengen jd tentara tp…nah yg bnrnya cB dibaca lg =).ini masukan aja lho..

    oke, teng kiu masukannya.. :)

  11. Akhir2 ini saya, mahasiswa yang lagi bosen2nya hidup di kampus nyoba mbaca novel yang katanya bagus. (Karena sejak SMP judul “Ronggeng Dukuh Paruk udah “ngulandara”, tapi saya belum pernah baca). Akhirnya setelah baca, saya jadi penasaran sama novel ini. Ternyata……… ceritanya yang adiluhung ini bener2 sae. Nggak rugi baca novelnya. Seakan nostalgia sama kehidupan tahun 60-an. Yah…. Inilah INDONESIA jaman 60-an. :)

  12. katanya ronggeng dukuh paruk mau di bikin film, kayanya pantes di tonton. kata kang Tohari pas kemarin ketemu.

  13. buku favorit yo mbak?

  14. ku ngebet banget pengen cari,tapi susah mbak!mulai dari kota malang n jakarta sudah di jelajahi!tapi lum dapat-dapat.mungkin aku kurang kerja keras kali ya nyarinya

    • Beli via onlen aja kale, mbak…


Leave a response

Your response:

Categories