Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Juli 2003
Saya berjanji kepada seorang karib untuk menceritakan kembali buku ini.
Berasal dari sebuah perkampungan nelayan di Pantura, Gadis Pantai baru berusia empatbelas tahun dan belum menstruasi (!) ketika seorang priyayi Jawa, pembesar santri setempat, mengambilnya sebagai istri percobaan. Ya, istri percobaan sebelum ia mengambil istri “sebenarnya” yang datang dari kalangan yang sederajat. Dan Gadis Pantai bukanlah yang pertama yang mengalaminya. Di rumah si Bendoro (priyayi itu), Gadis Pantai diajari sholat dan banyak hal lainnya yang terkait dengan gaya hidup para priyayi.
Tentu saja ada yang tak suka dengan keberadaan Gadis Pantai di rumah Bendoro, terutama dari keluarga besar si Bendoro. Mereka mengharapkan Bendoro secepatnya mengambil istri yang sederajat. Seorang Bendoro Demak yang menginginkan putrinya kawin dengan si Bendoro akhirnya mengutus Mardinah untuk menghabisi Gadis Pantai, dengan imbalan Mardinah akan diangkat menjadi istri kelima. Rencana dilaksanakan ketika Gadis Pantai pulang ke rumahnya di pinggir pantai, namun gagal.
Gadis Pantai kemudian hamil. Dan kemudian ia melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi 3 bulan kemudian, Gadis Pantai “diceraikan”, dipulangkan dengan paksa dan anaknya harus ditinggal di rumah Bendoro. Dengan hati hancur Gadis Pantai meninggalkan anaknya di rumah si Bendoro. Malu dengan keadaannya yang tak bersuami, tak punya rumah, dan anaknya dirampas Bapaknya sendiri, Gadis Pantai memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halamannya sendiri. Tapi ia berbelok ke selatan, ke Blora. Selama sebulan setelah kepergiannya, ia selalu mengawasi keadaan rumah si Bendoro. Namun setelahnya, ia tak kelihatan lagi.
Sebenarnya Gadis Pantai adalah sebuah trilogi. Namun dua buku lanjutannya raib oleh keganasan kuasa. Emosi rasanya campur aduk ketika membaca buku ini. Bayangkan saja, Gadis Pantai ”dikawinkan” dengan keris, sebagai wakil dari si Bendoro…Benar-benar #!%&!!#?!!….Ketika hamilpun si Bendoro tak peduli. Dan dia hanya berkomentar “Jadi cuma perempuan?” ketika tahu anak yang dilahirkan oleh Gadis Pantai adalah perempuan. Ingin rasanya saya menggampar si Bendoro saat itu juga, meskipun saya juga seorang Jawa tulen. Roman yang indah dan sangat menyentuh. Sayang, tak ada kelanjutannya….
“Dia akan jadi priyayi. Dia anakku. Dia akan tinggal di gedung. Dia akan memerintah. Ah, tidak. Aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan…”
Suruh pindah ke firenze aja gadis pantainya…:P
By: ardiantyn on November 24, 2007
at 7:16 am
Di Firenze mana ada feodal macam beginian…?
By: annaherdianto on December 4, 2007
at 12:57 am
saya pernah baca buku ne mbak..
dalam hati saya misuh2…sakno ne gadis pantai..terus terang saya bisa tidur beberapa malam membayangkan klo feodal macam tu terus bertahan..
gara2 bku itu juga saya kenal mantan saya..hehehe..gara2 rebutan buku itu.
By: ichwan on March 5, 2008
at 5:26 pm
Saya juga merasa amat jengkel dengan Sang Bendoro yang segitu kejamnya. Inikah cermin penguasa yang amat semena-mena terhadap orang kecil? ingin rasanya saya membunuh Sang Bendoro, seandainya saja saya ketemu dengannya…
sabar…sabar….
By: sigit on October 10, 2008
at 12:23 pm