Posted by: annaherdianto | December 15, 2007

Galangan Kita

 kapal-ngedock.jpg

Akhir-akhir ini pusing juga saya ini. Ada beberapa tender kapal terpaksa terlambat delivery atau bahkan batal gara-gara ketiadaan galangan yang bisa membangun kapal. Penuh, selalu begitu alasannya. Benarkah begitu?

Berikut ini adalah data yang saya dapat dari salah satu presentasi Departemen Perindustrian pada suatu seminar yang pernah saya ikuti :

Jumlah Perusahaan : 240 perusahaan

Jumlah Fasilitas :

  • Bulding berth dan Building dock untuk bangunan baru : 160 unit
  • Floating dock, graving dock, slipway, shiplift untuk reparasi kapal : 210 unit

Fasilitas terbesar : PT ASL Shipyard, s/d 150,000 DWT 

Banyak toh…?Kapal-kapal yang kami tenderkan juga tidak gedhe-gedhe amat kok.

Apakah ini indikasi semakin membaiknya industri perkapalan dalam negeri? Semoga saja…

Entah kenapa, kalau saya lihat, dari kacamata awam, ada perbedaan yang cukup mencolok dalam management galangan di Jakarta, Surabaya, dan Batam. Boleh dibilang galangan di Jakarta sedang mati suri. Dok Kodja Bahari? Ada berapa galangan di sana? Dan berapa yang beroperasi?Surabaya lumayanlah…Yang spektakuler ya di Batam.Banyak kapal-kapal besar cangkruk di sana.Teman saya yang luar biasa itu bahkan bilang “Cinta Natomas nggak ada bagusnya…Kotak sabun doang…”Ya, karena ketika di ASL dia biasa memegang supertanker yang jarang-jarang cangkruk di Republik kita ini.

Di manakah masalahnya?Pekerjanya rata-rata juga orang-orang kita, kebanyakan Saudara seperguruan saya :p. Well..kalau yang saya lihat, sepertinya masalah-masalah berikut ini masih menjadi kendala terbesar di sini :

  • Pendanaan
  • PPN untuk pembelian kapal dibebaskan, tapi untuk pemebelian bahan baku/komponen kapal masih dibebani dengan PPN,
  • Ketergantungan pada impor komponen kapal,
  • Sewa tanah dan perairan relatif mahal

Masih masalah yang sama, bukan? Keluhan yang paling sering nongol ketika kapal nge-dock di galangan dalam negeri pada umumnya adalah tidak bisa dipenuhinya tenggat waktu. Tapi hal yang sama jarang terjadi di Batam. Saya penasaran sekali, kenapa bisa demikian? Ada yang bilang mereka terkendala dana. Tapi ada yang bilang, management-nya payah.

Ah, tak tahulah saya. Postingan ini memang postingan iseng, masih kalut karena kemarin..;p


Responses

  1. mengenai masalah di galangan dalam negeri, gw juga pusing mikirin nya..terlalu kompleks..
    galangan di batam bisa maju salah satu faktor nya ya management nya yang rada bersih. pernah salah satu superindentent local bilang, kalo gw kerja di galangan di jawa dengan posisi sama (commercial) dijamin udah kaya raya. kalo di batam boro2..wong yang punya shipyard rata2 singaporean dan mereka itu very well informed each other. so gw takut banget bikin salah. kontraktor ngajak dinner aja gw gak mau..
    faktor yang laen, mungkin karena shipyard di batam betul2 di support oleh masing head office di singapore baik dana maupun supply materials & spares, jadi untuk repair kapal (dari dolo gw di marine repair) bisa dibilang 100% on time (kecuali untuk special case)
    Gw yakin galangan di batam khusus nya dan di indonesia bakalan lebih maju lagi, dengan dukungan dari pemerintah apalagi dengan booming di marine industry seperti sekarang ini. (naif banget ya gw..hiks..hiks..)

  2. Mantapppp….! Langsung oleh praktisi…
    Eh, kapan-kapan gw mo nanya soal VLCC conversion…
    Siapin ye…he he he…

  3. Wah…aku jadi tertarik lagi neh…Boleh nimbrung neh…? Memang benar semua uraian diatas…semuanya tergantung dari pendanaan ( finance ) dan manejemen produksi yang bagus. Di Batam, semua galangan besar disana under control orang singapore. Mungkin reward & punishment benar2 diberlakukan. Maklum “Wong Cino”, perhitungan bisnisnya matang. Kapal terlambat delivery, ya manejernya langsung di pecat. Beda sama menejer galangan di salah satu BUMN di Jawa. Kapal terlambat setahun, malah di beri proyek baru lagi oleh direkturnya…Ajur…ajur. Mangkanya beberapa menejer yang tdk sepaham dengan direkturnya langsung hengkang ke ASL…

    D Jawa sebenarnya cuman ada 3 besar : PAL, DPS & DKB…lainnya galangan kaki lima. Untuk bangunan baru, PAL overload sampai 2010, tapi menejemen produksinya payah. Semua delivery kapal terlambat. Overbudget masih banyak terjadi….DPS tetap exist di repair & Maintenace & nggak ada proyek bangunan baru… Sementara DKB kelihatannya masih berkutat dengan masalah keuangan ( Sebenarnya PAL juga sih ). Yang sekarang sedang menuai untung malah galangan kaki lima seperti PT. Daya Radar, Dumas dll. Lumayan, tender2 lokal Hubla & Pelindo mereka menangkan.

    Tapi…percaya nggak…masio marine industry lagi booming…pemerintah nggak kiro cawe2… Mergo lagi ngurusi Pak Harto loro…he…he…

  4. Pakdhe, mbok ya dibaca di About Me…saya ini baru 28 th hehehehehehe….

  5. Walah…yo jik putuku…jik bayi…Tapi wis pinter macem2. Pinter FPSO/FSO, yo pinter nggawe anak pisan. Artikel2mu enak diwoco.

  6. mohon bantuannya

  7. Mas Helmy,
    Bantuan apa..? Dhuit…? Tenaga..? Atau apa..? he he he :)

  8. mba anna, permisi mo baca2,tulisane sampeyan,,,

  9. permisi mbak Anna mau negur dee2…->Hei dee…apa kurang banyak buku2 disana sampe numpang baca segala….ntar tak kirim lagi
    biar sumpek kantor sampean….

  10. Bagus sekali artikelnya, senang sekali ada cewek yang suka di dunia marine operation – FPSO.

    Salam kenal saya ajong dari surabaya…tadi juga mau cari marine construction ehh..tau nya sak kelebatan kok ada blog lucu..?ternyata nyangkut masalah marine.!

    Kebetulan saya mbulet dibidang marine construction & operation di indonesia jua.

  11. @ yg punya blog: nyuwun sewu,,,
    @ grand pa: hehehe sampeyan toh,, kirain siapa,,,btw boleh dunk dikirimin buku-bukunya,,,aku udah minta ama yg punya blog tp blum dikasih2,,hehehe,,,

  12. @ dee : sampeyan adek kelasku. Sowan dhisik mrene..lagi tak keki wakakakaak :)

  13. lek arep sowan kudu nggowo sajen ora? ^_^


Leave a response

Your response:

Categories