Banjir dan longsor di kampung halaman, Gajahmungkur yang hampir overload-yang membuat Pak Menteri PU datang langsung untuk meninjau dan akhirnya beberapa pintu air dibuka, puluhan korban yang berjatuhan, dan beberapa desa yang terisolasi, mau tidak mau mengharu biru perasaan saya. Meskipun telah lama saya meninggalkan Wonogiri, saya tetaplah bocah Wonogiri, bocah ndeso yang hanya bisa mengenang dan menangisi yang kini terjadi.
Dan apa yang kini terjadi, mengingatkan saya pada Simbah. Simbah buyut saya. Tidak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, saya hanya ingat bahwa ia perempuan kecil yang sangat tegar, nginang yang tetap dilakoninya hingga tua membuat giginya tetap utuh, dan kebiasaan menggosokkan kunyit di kaki membuat betisnya tetap terlihat kuning dan terawat.
Simbah buyut saya hanya wong ndeso yang tidak tahu baca tulis, dan dia hanya paham pada kearifan alam, serta memegang teguh pesan leluhur. Tidak ada yang menolak ketika ia memasang sesajen sendiri, tidak ada yang menegur ketika ia dan Simbah buyut kakung membakar kemenyan dan mengucap mantra serta jampi-jampi, pun itu mampu membuat Mas saya yang jago membaca Arab gundul itu diam saja. Ya, moyang saya -orang bilang- dukun.
Simbah buyut saya ini sangat ‘mencintai’ Pak Harto. Ya, mantan Presiden Soeharto, siapa lagi…? Saya ingat betul, dulu, ketika televisi masih terdiri dari 2 warna, Simbah akan diam menatap televisi manakala Pak Harto berpidato. Di matanya yang terkena katarak itu seperti ada rasa haru. Juga, dia akan membentak kami -para cucu dan cicitnya yang ndableg ini- untuk diam, manakala di radio sedang disiarkan pidato Pak Harto.
Simbah saya lugu. Dia hanya mengerti bahwa Pak Harto-lah yang telah memberi makan dia dan keturunannya. Dari mulut para Simbah kami mendengar : bagaimana dulu mereka menyembah singkong karena pangan sulit ditemukan, bagaimana kami selalu kekeringan karena air entah mengalir dimana, dan bagaimana mereka satu per satu memotong tanah untuk bertahan hidup.
Semua berubah ketika Pak Harto menjadi Presiden, dia bilang. Beras gampang didapat, Gajahmungkur dibangun, irigasi diperbaiki, sekolah diperbanyak. “Pak Harto yang memberi makan kita…” Selalu ia bilang demikian. Pak Harto memang bukan orang Wonogiri, tapi ia besar di sana, bersekolah di sana, makanya kami begitu diperhatikan, begitu ia selalu camkan kepada kami, para keturunannya yang tidak semuanya menuruti kata-katanya, karena ternyata Mas Kedua dan Ketiga saya termasuk orang yang paling bersemangat untuk berdemo melengserkan Soeharto.
Ketika Pak Harto lengser, Simbah sedih bukan main. Betapa ia mengutuk orang jaman sekarang yang tidak tahu terima kasih. Mas-mas saya tidak peduli. Tinggal saya yang masih setia menemaninya menonton televisi. Beberapa tahun kemudian, Simbah saya meninggal, suatu hal yang sangat saya sesali karena saya tak sempat berpamitan kepadanya ketika akan kembali ke Surabaya.
Simbah mungkin memang naif. Ia tak pernah peduli dengan korupsi yang dituduhkan kepada Pak Harto. Tak mengapalah ia korupsi, asal rakyatnya kenyang, demikian ia berargumen. Tak pernah ia peduli bahwa beras yang dihasilkan selama periode swasembada beras adalah hasil rekayasa genetika, sesuatu yang bagi sebagian orang pintar sangat berbahaya. Berbahaya…? Aku baik-baik saja kok, Simbah ngotot. Saya juga masih baik-baik saja, Simbah….
Baginya, tak mengapa beberapa orang ‘menghilang’ karena ‘kebanyakan omong’ daripada ’stabilitas terganggu’. Huh…? Simbah saya sepertinya memang kebanyakan menonton televisi…Tapi apakah hanya orang tua yang berpikiran seperti Simbah…? Ternyata tidak, Dosen Financial Management saya yang luar biasa, yang kini usianya baru 26 tahun dan telah menjadi Visiting Proffessor di Jerman, mengatakan bahwa secara makro perekonomian kita sangat sehat di jaman Orde Baru, juga BUMN sangat menguntungkan kala itu. Ah, saya tidak tahu, Dik Dosen, tak mengerti saya apa bedanya ekonomi makro dengan mikro.
Dan kini, Wonogiri porak poranda karena banjir dan longsor. Saya juga tak tahu bagaimana nasib kuburan Simbah di tepi kali Sambi, yang kala banjir bisa membawa batu yang tak terkira.
Sebagian saya sepakat dengan Simbah, sebagian lain tidak, tapi saya tidak pernah mendebat Simbah, seperti yang pernah dilakukan oleh Mas-mas saya dan malah membuatnya menangis sedih. Saya hanya ingin menghormati Simbah, dan yang jelas, saya tidak mau disembur kunyahan kemenyannya…