Posted by: annaherdianto | January 17, 2008

Gas oh Gas Kita

cngship.jpg

Saya ini orang awam, ndak ngerti bagaimana membuat LPG, CNG, LNG, atau bagaimana cara ’mendorong’ gas hingga bisa melalui pipa sejauh 600 km untuk sampai ke negara tetangga.

Saya ini Ibu-ibu. Dulu pakai kompor minyak tanah, lha karena Ibu dan Mertua saya ketakutan dengan tabung LPG. Tapi sejak pemerintah ujug-ujug mak bedunduk berniat mengkonversi minyak tanah menjadi LPG, ya otomatis minyak tanah jadi susah didapat. Akhirnya saya ikut pakai LPG. Tapi orang antri minyak tanah kok rasanya lebih panjang daripada antrian beli tiket Piala Asia tempo hari ya…

Saya ndak tahu. Pabrik pupuk tutup. Pabrik keramik berteriak-teriak. PLN kekurangan pasokan gas. Yang paling kerasa ya pasokan gas dapur saya yang byar-pet kayak lampu setopan itu. Lha saya dapat kasak-kusuk teman sebelah bahwa lapangan di Indonesia sekarang lebih banyak Gas. Untuk minyak tidak bisa diharapkan, katanya, tinggal menunggu blok Cepu. Setelah Arun dan Bontang, kita punya Tangguh di Papua. Di Laut Timor juga ada, belum Natuna D Alpha, ditambah lapangan-lapangan marginal yang belum sepenuhnya dikembangkan. Lho, akeh jebulane.

Ehm, keterlanjuran kontrak dengan Luar Negeri. Harga lebih menarik di Luar Negeri. Fasilitas domestik yang masih terbatas. Whatever. Kegagalan pemerintah mendongkrak harga LNG Tangguh membuktikan bahwa tak selamanya Luar Negeri menarik.

Iseng-iseng saya pernah ikut presentasi yang diadakan Enersea, pelopor transportasi CNG di dunia. Konon, dibandingkan dengan LNG, tranportasi dengan metode CNG ini lebih ekonomis. Tapi, eits, tunggu dulu. Ekonomis dalam hal apa. Masalahnya, dalam bentuk CNG gas tidak dapat dibawa sebanyak ketika kapal membawa LNG, untuk ukuran kapal yang sama. Tapi, fasilitas processing dan offshore terminalnya konon lebih murah daripada LNG.

Untuk kapal, akan lebih baik apabila menggunakan electric ship daripada low speed diesel engine + generator terpisah, karena kecepatan dan ketersediaan daya yang dibutuhkan untuk cargo handling merupakan faktor yang krusial. Lha, electric ship…? Wah larang, ora nduwe maneh he he he….Bagaimana dengan existing vessel yang dimodifikasi? Setelah tanya kanan kiri dengan Enersea, didapat opsi bahwa sebenarnya tidak menjadi masalah apabila containment CNG itu ditempatkan di kapal yang telah dimodifikasi, bisa ex tanker, container, barge, dsb. Tapi dengan catatan bahwa kondisi Main engine haruslah optimal. Halah. Modifikasi yang diperlukan juga tidak terlalu banyak dan rumit.

CNG sesuai untuk lapangan-lapangan marginal dengan produksi kecil. Selain itu, jarak tempuh yang ekonomis bagi CNG adalah antara 250-3,000 nm. Itu katanya Enersea loh. Tapi untuk jarak jauh, ya mendingan pakai LNG, sekali angkut mak griyyyennnggg, apalagi jika reservoar-nya cukup besar….CNG juga opsi yang menarik ketika pembangunan pipa menjadi tidak ekonomis lagi dan atau terkendala dengan kondisi geografis. So, kesimpulannya, CNG cukup menantang untuk pasar domestik.

Nah, apalagi…? Kalau lapangan-lapangan besar yang ada sekarang sudah terlanjur didedikasikan untuk buyer Luar Negeri, tak bolehkah apabila kami berharap pada lapangan-lapangan berikutnya…? Toh dengan didedikasikan pada kebutuhan domestik, hasilnya langsung kelihatan. Tapi dengan buyer Luar Negeri, entah kemana dulu dhuit itu berputar. Dengan biaya proyek tak sebesar LNG, tak perlu financing loan lagi kan…? Political will…???? Mengapa dua kata ini selalu saya dengar dimana-mana ya…?

Ah, ini cuma gedabulan Ibu-ibu yang bingung dengan keputusan Yang Punya Negara ini, bingung mesti masak pakai apa nanti sore, meskipun ndak masak pakai LNG maupun CNG, tapi tetep saja bingung. Ya sudahlah, bikin paper Marketing ajah…

Note : monggo silahkan kunjungi www.EnerSea.com . Gambar diambil dari situs yang sama.


Responses

  1. Mbak, katanya banyak gas di indonesia..
    Kenapa gak bikin aja kapal baru..berapa siy harga kapal baru ? kan itung2 invest. Malaysia aja punya banyak LNG Ships n gw denger sekarang pun in progress untuk series LNG baru mereka (di bangun di Korea)
    Gw sempat baca di Kompas kalo pendapatan negara (gak tahu darimana aja) sampe 400T. Itu duit kemane aja ?
    Mbak bener..semua tergantung political will dari pemerinta doang..

  2. Halah. Political will lagi…political will lagi….

  3. Indonesia number 1 LNG Exporter tapi number 1 corrupted country juga jadi gak usah heran klo emang sebagian besar rakyat indonesia merasa gak pernah menikmati kekayaan alam yang sudah dikuras habis2an itu hehehe….lah wong impas :P

  4. Now indonesia number 2 of the world, but still not enough gas for domestic …?


Leave a response

Your response:

Categories