
Namanya juga ‘kemeruh’ (sok tahu-red), ya ndak apa-apa toh kalo saya sekarang menuliskan lagi ke-sok tahu-an saya yang lain
Nah, apakah Anda pernah berurusan dengan lembaga birokrasi…? Saya sering. Sering berhubungan dengan salah satu Departemen yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Saya sedang tidak ingin berkomentar bagaimana mencelosnya saya ketika mendapati sederetan kubikel kosong tak berpenghuni, hanya ada satu / dua di antaranya, komplet dengan komentar dari yang ada” Ditunggu saja, Mbak, sebentar lagi orangnya juga datang…Paling masih di belakang…”Kayak saya ini nggak ada kerjaan lain saja…
Saya hanya ingin berkomentar betapa njlimetnya proses yang harus saya lalui, betapa tidak jelasnya, dipingpong dari satu bagian ke bagian yang lain. Ditambah masing-masing bagian mempunyai interpretasi yang berbeda-beda terhadap prosedur yang telah mereka buat sendiri. Lha…piye to..
Kalau tidak salah, Max Weber (Anda akan menemukan namanya dalam buku-buku Organizational Behavior) berpendapat bahwa guna mencapai effisiensi maksimun, sebuah lembaga birokrasi harus berkarakter sebagai berikut:
-
Spesialisasi pada masing-masing fungsi,
-
Pekerja dipilih berdasarkan kualifikasi teknis tertentu,
-
Mempunyai sistem tertentu yang menjamin keseragaman dan koordinasi antar fungsi,
-
Setiap anggota organisasi hanya bertanggung jawab pada satu manager,
-
Pekerja berhubungan dengan pekerja lain secara formal, guna menjamin bahwa sifat-sifat personal tidak mempengaruhi tujuan organisasi.
Menuruti kata Max Weber, kalau saya boleh sok tahu lagi, maka para birokrat sebaiknya :
-
Membuat spesialisasi untuk masing-masing fungsi, bahwa satu fungsi mempunyai tugas yang spesifik,unik, dan tidak sama dengan fungsi yang lain,
-
Pegawai masing-masing fungsi harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan fungsi dimana ia ditempatkan,
-
SOP yang jelas dan interpretasinya disepakati bersama,
-
Promosi didasarkan pada senioritas, pencapaian, dan loyalitas,
-
Rotasi pegawai dihindari
Tapi kok rasanya itu sekedar teori ya…Lembaga birokrasi kita ya masih begitu-begitu saja. Ada yang bilang karena sistem di Negara kita yang sudah kronis, tidak ada political will (halah, iki maneh), sampai pemimpin dan anak buah yang sama saja karakteristik-nya. Kalau mau merubah sistem di Negara kita kok ya kayak saya kawin dengan Benjamin Bratt (Alias enggak mungkin-red). Mengharapkan pimpinan yang visionary dan exemplary kok ya nggak datang-datang, padahal pengalaman di salah satu Departemen membuktikan bahwa faktor pimpinan sangatlah penting, apakah kultur suatu lembaga birokrasi bisa berubah atau tidak, keputusan ada di tangan pemimpinannya (Salut buwat Bu Menteri satu ini).
Ah, saya juga cuma setap…nurut sama Boss-nya…
Ngomong birokrasi, aku malih eling karo pengalamanku mbayar pajak nang kantor pertanahan ( BPN ). Dipikir awak2 iki wong pengangguran, gak ono gawean selain mbayar pajak iki. Kape mbayar ae diangel-angel. Di ping-pong ngalor ngidul. Sampek aku mbatin…jare dikongkon sadar wajib pajak, tapi kok nggak dibarengi ambek pelayanan sing apik. Padahal mbayarku yo cukup gedhe gawe aku ( skt meh 10 jutaan ). Duwek iku yogak tak gae dewe. Malah kadang2 digawe tuku montore pejabat2 lan tentara. Kadang2 trenyuh aku nek nontok ono montore pejabat sing anyar ditumpaki karo bojone. Koyok montare dewe ae…padahal iku yo montorku pisan. Wong duwike tukune teko duwik pajak sing tau tak bayar. Honto desu ka ?
By: andi on January 22, 2008
at 11:02 am
Wew..Pakdhe…Saiki wis lumayan..Ndaptar en-pe-we-pe online…Cuma’ yo iku, dhuite mboh nang ndi
By: annaherdianto on January 22, 2008
at 11:06 am