‘Setelan’ tensi saya min. 150/100.
Internist saya mengatakan, “You darah tinggi lebih karena faktor keturunan”.
Ginekolog saya meledek,”Kayak orang tua saja naik-turun tensi…”(Yang penting kan sudah laku, Dok…Weeeeeekkk….!!!)
Sementara suami saya punya analisis yang lebih ngaco lagi, “Kamu darah tinggi karena keseringan pakai sepatu hak tinggi…” Huh…?
Dan itu terjadi setelah pre-eklampsia yang saya alami, setahun yang lalu. Sebelum hamil, TD saya normal-normal saja. Setelah hamil dan saya didiagnosis terkena pre-eklampsia, tensi saya langsung melonjak. Ginekolog saya meyakinkan bahwa TD saya akan turun dengan sendirinya setelah bayi dilahirkan. Memang. Tapi itu ternyata tidak berlangsung lama. Kira-kira sebulan setelah melahirkan, TD saya selalu di atas 150/100. Ah, mungkin karena saya stress mengurus anak, begitu pikir saya waktu itu, jadi saya tenang-tenang saja. Setelah 6 bulanan tidak ada perbaikan, mulailah saya usrek mencari internist.
Track record penyakit saya memang cukup mengerikan untuk orang seumuran saya. Pada umur 25 tahun saya sudah menjalani ESWL (pecah batu ginjal-red) di ginjal sebelah kanan. Pada saat hamil saya didiagnosis pre-eklampsia. Beberapa bulan setelah melahirkan, saya terkena infeksi ginjal. Dan urolog saya menyatakan ada kista ginjal sebesar 2.5 cm di ginjal sebelah kanan. Dan yang terakhir, setelah membiarkan saya mengoceh selama beberapa waktu dan melakukan test darah+urin serta EKG, internist saya yang berembel-embel SpPD KGH itu menyatakan “You darah tinggi lebih karena faktor keturunan. You musti minum obat, setiap pagi…”
…Gubrak….%$!!?#!!
Saya benci minum obat.
Dan bulan depan adalah kewajiban bagi saya untuk MCU. Urrgghhh….!!! Saya benci MCU, karena itu berarti saya harus merelakan diri di-emek-emek oleh para Dokter yang tidak saya kenal. Karena itu berarti saya harus bercerita panjang lebar soal sejarah penyakit-penyakit saya. Dan setelah itu mendapat wejangan panjang lebar yang membosankan. Saya pada dasarnya memang benci dengan Dokter. Segala jenis Dokter. Berbicara dengan mereka rasanya seperti terintimidasi. Tak sekalipun saya bercita-cita menjadi Dokter. Huh….!!!! Saya sudah 2 kali berhasil melarikan diri dari kewajiban MCU ini : satu kali karena saya sedang ditempatkan di Prabumulih, dan satu kali lagi karena saya sedang hamil. Tapi kali ini saya tak bisa mengelak lagi. Menyebalkan…!!!
Dan akhirnya, saya harus meminum tensivask 5 mg setiap pagi. Seringnya sih lupa atau melupakan diri he he he…Dan sudah beberapa hari ini kepala saya kembali senut-senut. Itu berarti saya harus meminumnya lagi. Bandel, memang. Tapi saya benci minum obat. Dan jangan suruh saya meminum jamu-jamuan herbal, karena saya lebih benci lagi…
Baiklah, tolong ingatkan saya untuk meminum obat putih kecil ini setiap pagi.
Maaf, untuk ibu muda seusiamu memang tensimu ini tergolong tinggi. Dan memang benar faktor keturunan adalah yang paling dominan. Ada juga yang mengatakan kalau hipertensi salah satunya disebabkan krn adanya masalah di ginjalnya…tapi dokter spesialismu pasti lebih tau itu. Kalau menurutku yang terpenting adalah semangat untuk sehat. Kalau kamu lebih percaya medis ya seharusnya diikuti dengan rutin berobat dan minum obatnya. Tapi tidak ada salahnya berobat alternatif. Tidak semua pengobatan alternatif diakhiri dengan minum jamu. Seledri atau bawang putih ( Sekarang ada Kapsulnya ) mungkin baik untuk dikonsumsi. Hindari stres dan negative thinking. Rutin olah raga ringan dan rekreasi dengan keluarga mungkin bisa sebagai terapi. OK…tetap semangat & tetap berkarya…
By: andi on January 24, 2008
at 10:02 am
Waw….
Pakdhe persis dokter-dokterku : cerewet ha ha ha
Eniwei, suwun wejangannya
By: annaherdianto on January 24, 2008
at 10:05 am
Waduh, kagungan gerah ludiro inggil to mbakyu?
*nggak berani dekat-dekat nih
*
By: Dee on January 24, 2008
at 11:24 am
beneran lu benci dokter ???
kek nya ada pengecualian de…
By: commercial_boy_007 on January 28, 2008
at 10:30 am
He he he
Tau aja lu…
Tapi sekarang udah enggak…
By: annaherdianto on January 28, 2008
at 10:38 am