Posted by: annaherdianto | January 25, 2008

Mengamati Perempuan

love-cartoon.png

Karena 3 proyek besar yang saya terlibat didalamnya  masih dalam tahap ‘menunggu’ (pre-q, commercial, dan satu lagi ‘kebijakan), dan pagi ini boss hanya menitahkan untuk menghadiri satu meeting, maka saya jadi punya kesempatan untuk menggedabul lagi.

Saya lebih suka mengamati laki-laki, secara harfiah,tentu saja. Tapi saya juga tidak bisa menghindar untuk tidak mengamati perempuan.

Dimana Anda akan menemukan wajah paling bahagia perempuan..? Di toko baju bermerk..? Bukan…Di showroom mobil..?Juga bukan…Di kafe..?Apalagi, bukan. Tapi Anda akan menemukannya di ruang tunggu Dokter Obgyn. Saya yakinkan itu. Memang tidak semua yang datang bahagia, tapi wajah paling bahagia yang dapat ditunjukkan perempuan akan Anda dapatkan di tempat ini. Anda akan melihat wajah terindah perempuan di sana, yang sambil bercerita dengan pasangan atau teman barunya, “Sudah berapa bulan…? Hasil USG kemarin bagaimana..? Dokter X bagus nggak sih…?”Berbagai jenis perempuan : dari Ibu-ibu rumah tangga sampai wanita karier dengan bau parfum yang semerbak. Banyak perempuan beranggapan, ‘mampu melahirkan keturunan’ adalah suatu kesempurnaan, meski sempurna atau tidak sempurna itu sangatlah relatif.

Kemudian lihatlah acara kriminal di televisi. Atau kalau tidak sempat bacalah Pos Kota, Lampu Merah, atau Warta Kota. Aborsi. Bayi dibuang. Sudah sangat jamak dan sepertinya semua orang sudah mafhum. Dan, tentu saja, Ibunyalah yang pertama kali akan dicari, dan disalahkan. Dan lihatlah, wajah tak mengerti itu di televisi : tak mengerti mengapa ia seorang yang harus menanggung, tak mengerti mengapa ia tak boleh menentukan nasibnya sendiri. Ah, saya juga tak tahu. Dosa adalah urusanku dengan Tuhan, seorang kawan pernah berkata. Salah adalah bilamana aku merugikan orang lain, ia menambahkan. Ah, tambah pusing saya.

Berita terakhir yang membuat saya emosional adalah dipenggalnya seorang perempuan yang sedang hamil 4 bulan, oleh kekasihnya sendiri. Kekasih yang disangkanya pegawai bank dan sedang kuliah pula. Kekasih yang ternyata seorang pedagang nasi goreng. Kekasih yang membawa pisau dapur ke kamar hotel, dan membuang kepala si perempuan di tempat pembuangan sampah. Saya sungguh tak bisa membayangkan, apa yang ada di hati laki-laki itu ketika ia menenteng kepala bersimbah darah di tas yang dicangklongnya? Dan bagaimana pula ketika ia melempar kepala itu..? Mungkin rasanya sama seperti ketika saya membuang koran yang memuat berita itu di tong sampah. Masygul.

Karena saya menggunakan bis trans yang khusus melayani kompleks perumahan tempat saya tinggal, maka tiap pagi dan sore saya akan duduk menunggu bis tersebut di halte. Dan lihatlah, wajah-wajah di balik Mayasari, PPD, Bianglala, Metromini, serta Kopaja. Banyak perempuan, dengan banyak ekspresi. Kondekturnya pula, beberapa perempuan. Dengan suara yang serak-serak kebanyakan berteriak :”UKI…UKI…Cawang….!”

Di bandara, di terminal keberangkatan dan kedatangan luar negeri, Anda akan mendapati deretan panjang perempuan, hampir semuanya perempuan, yang sering jadi bahan ledekan petugas bandara, tidak laki-laki tidak perempuan pula.

Anda akan mendapati gelandangan perempuan yang sedang mengajari bocah ciliknya menulis dan membaca, di jembatan penyeberangan depan Plaza Semanggi. Nenek-nenek yang berjualan rokok di depan kantor saya akan panik luar biasa manakala Satpol PP datang dengan gerombolannya. Saya pernah melihatnya menangis.

Karena saya berlangganan 4 majalah, maka akan mudah sekali mendapati kisah sukses para wanita karier, komplit dengan kiat-kiat jitunya, di majalah-majalah itu. Untuk bagian ini, aneh, saya tidak pernah membacanya. Dan sudah sangat jamak apabila Anda menemui perempuan di rig pengeboran minyak dan gas, di hutan maupun di laut.

Perempuan akan merasa dan dianggap ‘wah’ (kebanyakan oleh kaum perempuan sendiri) apabila ia berpenampilan seperti laki-laki. Tapi, laki-laki akan dianggap tidak lazim apabila berpenampilan seperti perempuan. Saya tidak tahu mengapa bisa begitu.

Saya sendiri perempuan. Dilahirkan sebagai anak keempat dari lima bersaudara, sebagai satu-satunya perempuan. Sejak umur 12 tahun saya sudah ‘keluar rumah’. Saya kuliah di jurusan Mesin Kapal yang…well…Anda tahu sendiri. Setelah bekerja, mau tidak mau, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di Departemen dimana saya ditempatkan. Dan saya hanya bisa menyumbangkan “ha-ha”, “hi-hi”, dan “Oooo…” manakala ada pertemuan “Dharma Wanita” di kantor suami saya. Dan saya takjub melihat salah satu Dosen S2 saya menangis di depan kelas pada saat kuliah (Tidak ada Dosen perempuan di jaman S1 saya).

Ada banyak perempuan, dengan nasibnya sendiri-sendiri. Dan saya punya seorang perempuan juga, di rumah. Dia ‘kalah’ pengalaman hidup 26 tahun dibandingkan saya. Kepadanya saya hanya bisa berpesan, “Engkau harus kuat, Nak. Karena engkau perempuan. Karena engkau dipilih Tuhan untuk meneruskan keturunan. Dan karena engkau akan berhadapan dengan makhluk lain yang bernama laki-laki….”


Responses

  1. itulah enaknya jadi perempuan mbak anna…bisa berpenampilan spt laki-laki dengan santainya tp klo cowok berpenampilan kyk cewe hehe gak lahyaouuu ;p sepertinya mirip2 seumur2 hidup, paling gak sampe sekarang gue tidak akrab dgn dunia yg berbau cewek…dirumah kecuali nyokap saudara gue cowok semua, sekolah, kuliah apalagi, eh pas kerja koq ya ketemu elu hahahaha….apes gua ;p

  2. *semfroel*

    Untung lu di Firenze, kalo gak udah tak jitak lu…

  3. wanita dijajah pria sejak dulu………..

  4. Kalau pria-nya seperti Anda, rasanya saya akan pasrah saja ;)

  5. wah…mbak anna segitu pasrahnya…apa bung andi bertampang brad pitt berotak einstein? aku boleh minta dijajah juga? ;p

  6. saya nggak suka brad pitt.
    berarti pria di atas nggak kayak brad pitt :)

  7. alhamdulillah suka produk lokal…

  8. Produk lokal asal kualitas terjamin…
    Handal…service-nya memuaskan

    *halah*

  9. priyantun estri kados mbak anna puniko sampun langka lo. betah mantu mboten, mbak? :D

  10. Lha…Mantu kagem sinten…? :)
    Mbok menawi besanan kados pundi…?

  11. Wah, perempuan sudah berada pada terang. Gimana nih para lelakinya, jangan diam aja, bangkitlah! Jadilah pelindung bagi para perempuan

  12. Mengamati Perempuan di dunia nyata rasanya lebih realistis daripada di jagat sinetron tv kita. Yang “kelabu” banyak. Yang “bersinar”pun tak terbilang, seperti mbak Anna (bukan merayu lho…). Tetapi mengamati perempuan di jagat sinetron….kalau nggak licik ya mudah dibodohi, kalau nggak lemah ya kelewat kejam, kalau nggak membuat mangkel ya membikin iba. Nelangsa temen! Entah apa yg ada di otak mereka yg terlibat dlm produksi sinetron itu.


Leave a response

Your response:

Categories