Posted by: annaherdianto | February 12, 2008

Kumpulan Para Istri

office-romance.jpg

Postingan ini terinspirasi dari undangan “ARISAN” yang dititipkan oleh sekretaris big boss kepada saya, untuk diserahkan kepada boss saya, dan kemudian boss saya akan menyampaikannya kepada istrinya :)

Seperti pernah saya bilang, sejak di perusahaan tempat saya kerja dulu dan kantor saya sekarang, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di departemen saya. Dan saya sedang tidak bercerita tentang rekan-rekan kerja saya, tapi tentang istri-istri mereka.

Apakah di kantor Anda ada perkumpulan semacam “Dharma Wanita”?. Di kantor saya ada. Dan Anda jangan heran jika para boss keluar dari camry keren mereka dengan didampingi oleh para ibu yang lebih-keren-dari-camry si Bapak : itu istri mereka. Dan jangan heran pula apabila mereka datang berdua tiap hari. Saya sampai heran, dengan siapa anak mereka di rumah? Bukankah konon menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan yang tidak mudah?Atau apakah mereka sedang berusaha mencari pilihan lain?Saya pernah mencuri dengar, bahwa perkumpulan itu salah satunya adalah dalam rangka “Mewaspadai Bapak di Kantor. Kita harus waspada…” Busssseeeetttttttt……!!!

Tapi rasanya mereka memang perlu waspada, karena saya tahu betul kelakuan rekan-rekan saya. Salah satu rekan saya dulu malah selalu melepaskan cincin kawinnya begitu mobil telah melewati tikungan dekat rumah ha ha…Lalu, apa ya yang ada di benak para Ibu itu…? Yang dengan bangganya saling bercerita bahwa betapa sayangnya para suami kepada mereka, dan kemudian pamer bahwa kemarin baru dioleh-olehi tas dari Yurep, yang mendengar harganya saja bisa membuat saya langsung semaput?. Anda boleh percaya boleh tidak, angka perceraian di kantor saya cukup tinggi, begitu juga dengan poligami.

Karena saya tidak pernah nyaman berada di komunitas itu, dan karena (yang sebenarnya) saya tak akan pernah bisa berpenampilan keren seperti mereka, maka saya tak pernah dekat-dekat dengan perkumpulan itu. Itulah mengapa istri bos saya tidak pernah bisa mengenali saya. Pernah, ketika saya sedang frustasi mengerjakan apa yang sedang dititahkan boss, datang seorang perempuan berkebaya, yang dengan pongahnya bertanya, “Bapak dimana…?”, komplet dengan mendongakkan dagunya.

Lha…Untuk sekejap saya takjub, dan terbengong. Dan saya memang tetap terbengong, sambil mendengarkan suara iblis yang entah-bersarang-di-bagian-mana-di-otak-saya,”Hey, lihatlah, badut itu bertanya padamu. Dia menanyakan suaminya. Lalu, dimanakah suaminya? Lihatlah, ia pasti menghabiskan sepanjang pagi ini untuk blasting, coating, dan memberi selapis anti fouling pada wajahnya. Dan menyakiti diri dengan menyasak rambut memakai sisir yang mengerikan itu. Dan engkau akan melihat crack di wajahnya yang brittle itu, manakala ia tertawa, dengan mata telanjang, tanpa perlu colour check lagi. Dan buat apa ia melakukan semua itu? Dimanakah suaminya? Apakah mereka berkomunikasi dengan daun lontar? Bukankah di clutch bag kerennya itu ada gadget seharga tiga kali gajimu, yang hanya digunakan untuk tilpun dan sms…?” Saya belum sempat berkata apa-apa, karena perempuan tadi kemudian pergi.

Dengan mengingat bahwa kemungkinan besar dia adalah istri salah satu boss, maka saya memilih untuk diam saja. Anda jangan pernah meremehkan ‘kekuatan’ mereka, apalagi jika para suami mereka adalah anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri-red). Saya punya teman kantor, cantik, sangat cantik bahkan. Janda pula. Ia dilempar ke sana ke mari karena ‘ada kekuatiran sementara pihak bahwa ia akan mengganggu stabilitas rumah tangga orang lain’.

Ah, itu karena saya jadi korban. Saya sebenarnya bisa jadi pelaku juga.

Sebulan sekali, saya akan mendapatkan undangan “ARISAN” dari kantor suami saya. Tapi saya tidak pernah bisa menghadirinya karena acara itu selalu dilakukan pada hari Jum’at. Tapi, pernah juga saya bertemu dengan para istri rekan suami saya. Suasananya tidak jauh berbeda. Obrolannya seputar : kain sutra X harganya mahal, loh….Berlian yang ini bisa dicicil loh, Jeng…Suami saya kemarin ke China, dsb. Wah…Saya cuma bisa ndlongop. Sejak itu saya bersumpah, saya harus lebih giat belajar membuat cake, agar setidaknya saya bisa berkomentar bahwa untuk mengembangkan bolu kukus tidak perlu selalu menggunakan air soda. 

Dan menariknya, ada saat dimana saya menjadi sadar, bahwa sangat beralasan apabila para Ibu itu perlu ‘waspada’ :) Tapi, saya cuma punya satu kepala, dua tangan, serta dua kaki. Saya juga tidak punya indera-indera yang spesial, semuanya wajar-wajar saya. Selain itu, bersikap curiga terus-menerus akan membuat saya semakin rajin mengunjungi internist saya. Dan hal itu semakin diperparah dengan kenyataan bahwa suami saya lumayan ganteng :)

Saya hanya bisa bilang begini kepada suami saya, “Terserah kamu mau ngapain. Sama perempuan lain. Asal aku tidak mengetahuinya…..”

Lalu, saya musti bagaimana lagi..?


Responses

  1. Jeung..
    Gw gak ngerti sebenernya essensi dari arisan itu apa ?? wong duit juga gak bertambah, yang ada malah bolong kalo giliran rumah nya kepake n kudu nyiapin makan, kue dsb..
    Mosok udah sampe separah itu..gak ada kepercayaan sedikit pun sama suami …lha dulu ngapain juga mau digombalin trus diajak nikah..bukan kah itu juga perlu kepercayaan ?
    Menurut gw siy..kalo mo “jajan” gak cuma suami, istri juga ada kesempatan untuk itu..so menurut gw simple aja..kalo “berbuat aka jajan” jangan sampe ketahuan oleh pasangan and jangan lupa pake pengaman :) and the last but not least, dosa ditanggung sendiri2..OK ?
    BTW..kek nya gw ngajarin yang gak bener deh..tapi udah pada gede ini…so..keep on writing girl…

  2. SETUJU BOY….Buat yang bikin artikel, jangan pasrah aja ama suami dong…nggak ada orang yg sempurna…jangan sering gedabulan yang nggak karuan…entar internistmu jatuh cinta lagi ama kamu krn sering kamu kunjungi…..

  3. Mas Aji,
    Kalo saya pasrah sama sampeyan saja bagaimana…? :)
    Memangnya kenapa kalo Dokter saya naksir saya…? Sampeyan kawatir kesaingan tah…? Ha ha ha…


Leave a response

Your response:

Categories