Posted by: annaherdianto | February 19, 2008

Sekolahan Adik Saya

tiga-monyet.gif 

Saya punya 2 adik : satu adik kandung dan satunya lagi adik angkat, dua-duanya laki-laki. Dan komplitlah keluarga besar saya, 3 Mas + 2 adik, yang semuanya laki-laki. Adik kandung saya entah dapat mukjizat dari mana memutuskan untuk menjadi guru, ya guru, guru SD pula. Mengingat betapa mengerikannya penampilan adik saya itu dan reputasinya sebagai seorang yang disegani para preman terminal, membuat saya “shock” ketika  membaca SMSnya, mengabarkan bahwa ia sekarang mengajar Bahasa Ingrris untuk anak SD. Ah, semoga ia bisa menjadi guru yang baik.

Itu adik kandung saya. Cerita adik angkat saya lain lagi. Ia adalah seorang yatim piatu. Setiap bulan saya mengirimkan sejumlah uang untuk biaya pendidikannya, karena itu memang sudah janji saya. Dan setiap kali ia ‘melaporkan pengeluarannya’, saya selalu terbengong-bengong.

“Mbak, yang kemaren itu buat beli LKS (Lembar Kerja Siswa, kalau tidak salah..)”

“Lho…bukannya kemaren sudah beli..”

“Lain lagi, itu kan buat cawu kemaren..Setiap cawu ganti..”, Lha….

“Enggak bisa pinjam kakak kelas?”

“Enggak bisa. Kan pertanyaannya beda-beda. Terus jawaban ditulis di LKS”, Lho…

“Trus, bulan depan piknik…Ke Jakarta. Mesti ikut. Kalo nggak ikut enggak bisa ikut ujian,” Wah….

“Seragam mesti beli di sekolah..”, Tambahnya suatu kali.

“Lha..yang tahun kemaren mahal, lebih mahal daripada beli jadi. Kayak saringan tahu pula,”

“Enggak tahu. Pokoknya mesti beli di sekolah,”

Dan tinggallah saya garuk-garuk kepala.

Saya tidak habis pikir, banyak sekali pengeluaran untuk anak sekolah jaman sekarang. Dari buku yang selalu berganti tiap tahun ajaran sampai kewajiban untuk ikut ‘piknik’. Dan kewajiban ‘piknik’ ini bukan sekedar ancaman, karena anak tetangga saya di kampung benar-benar tidak boleh ikut ujian karena tidak mampu ikut ‘piknik’.

Seingat saya, dulu jaman saya sekolah ada yang namanya ‘buku paket’, terbitan Balai Pustaka. Bukunya lecek, tebal, dan komplit sekali. Buku itu dipinjamkan oleh perpustakaan, sebagai buku pegangan wajib, dan harus dikembalikan ketika tahun ajaran berakhir, untuk digunakan angkatan berikutnya. Buku lain hanya sebagai tambahan dan tidak ada kewajiban untuk membelinya.

Dulu acara ‘piknik’ juga bukan merupakan suatu kewajiban. Ikut lebih baik, ndak bisa ikut ya monggo. Seragam hanya dibagikan untuk siswa baru. Memang ada SPP, tapi pengeluaran wajib hanya untuk itu saja. LKS juga ada, tapi kami bisa meminjam dari kakak kelas dan LKS ini untuk long term.

Saya kok tidak sepenuhnya percaya kalau kehidupan para guru sekarang masih memprihatinkan. Tetangga saya di kampung yang berprofesi sebagai guru, pasti punya kendaraan bermotor, setidaknya sepeda motor. Rumah dan perabotan bagus-bagus. Anak-anak kuliah di PT yang baik. Malah ada tetangga saya yang guru SMP mampu membelikan anaknya yang baru kelas 1 SMA sebuah laptop keren. Bayangkan dengan saya yang jaman kuliah dulu masih menggunakan 233 MMX ha ha ha…

Bukan bermaksud menghakimi atau apa. Adik angkat saya itu bersekolah di SMU Negeri 1 sebuah kota kecamatan di pelosok Jawa Tengah sana. Dimana masyarakatnya masih sangat bergantung pada hasil bumi dan setoran sanak saudara yang merantau, seperti saya ini. Banyak anak putus sekolah dengan masalah klasik : ketiadaan biaya. Memang, SPP tak ada lagi, kalaupun ada, itu tak sesignifikan beberapa tahun yang lalu. Tapi, masih ada uang gedung, seragam, buku, ‘piknik’, dan perintilan lainnya.

Bagaimana jadinya kalau para guru ikut “mroyek”?Mengapa alokasi APBN untuk pendidikan demikian kecil..?Bukankah pendidikan adalah tempat yang tepat untuk memutus lingkaran setan segala kesemrawutan negeri ini..?

Ha ha ha….pertanyaan retoris…lagi….Dan Anda tidak perlu menjawabnya….


Responses

  1. Jeung..
    Tema nya nyambung sama diskusi kita kemaren sore..menurut gw dasar semua permasalahan emang di pendidikan. Orang yang berpendidikan diharap kan akan mampu untuk berpikir lebih panjang.
    Tapi, mentok nya lagi ke political will.
    BTW..gw juga ngerasaain pake buku balai pustaka dari perpustakaan..n gw rasa sangat bermanfaat. Kenapa gak kembali ke sistem lama aja..gw rasa dana BOS akan lebih bermanfaat kalo di convert dalam bentuk buku.
    Gw cuma bisa ngelus dada (dada ce sebelah maksudnye…)

  2. mau comment…entar kepanjangan…dimarahin lagi ama yg punya blog. Tapi yang jelas adik-adik, anda baru bisa merasakan semuanya itu kalau anak anda sudah mulai masuk SD.

  3. mbiyen andi, kapan kae aji, dhek wingi agus, saiki soni…halah-halah sampeyan iku :)
    yo wis sampeyan comment sing dowo yo gak po po


Leave a response

Your response:

Categories