Karena saya sedang terkena sindrom hamil muda, maka bisa dipastikan dalam waktu tiga bulan ke depan saya tidak akan bisa berpikir “agak jernih”, sehingga mohon dimaklumi kalau tulisan belakangan ini semakin tidak bermutu, memperparah postingan-postingan sebelumnya yang memang sudah tidak bermutu
Karena saya hobby cangkruk di pantry sambil menyeruput teh tubruk, maka saya jadi banyak mendengar gosip-gosip seram seputar kantor, yang tidak akan pernah saya dengar dari rekan sekerja. Penghuni pantry ini biasanya terdiri dari para office boy/girl, cleaning service, pengantar surat, tukang foto copy, serta penjaga ruang fax. Karena mereka pegawai outsourcing, sering dirotasi antar bagian, dan kerap pulang larut, maka gosip yang keluar dari mereka biasanya “lebih realistis” dan auditable
Kadang saya geli. Kadang trenyuh. Tapi lebih sering misuh-misuh. Saya tidak tahu apakah yang mereka gosipkan itu benar atau tidak, tapi tetap saja bisa membuat saya berlama-lama di pantry, dan terhanyut
Gosip tentang perselingkuhan seorang senior manager dengan seorang kawan kerja, yang janda muda. Isyu tentang boss yang sudah bau tanah ini merebak ketika sang Nyonya mulai sering telpun ke kantor yang (sayangnya) lebih sering diterima oleh si office boy. Si office boy ini, dengan nada seperti berkeluh kesah, bercerita bahwa ia sekarang harus menjadi seorang pembohong berat. Dan bahwa ia pernah mempergoki si boss berasyik-masyuk dengan kawan selingkuhannya di emergency exit, suatu kali selepas jam kerja. Saya diam saja. Tidak bertanya. Hanya menyeruput teh lebih kencang lagi.
Suatu kali, ada gosip lain lagi. Perselingkuhan seorang boss lain dengan rekan kerja lain juga terungkap gara-gara print out tagihan HP (Sekedar informasi, kami menggunakan Halo Corporate yang masing-masing pekerja mendapat “jatah” pulsa sesuai dengan jabatannya). Yang ini jelas membuat saya misuh-misuh. Nomer mana saja yang sudah dikontak itu mestinya bersifat rahasia, bukan diumbar begitu saja. Mestinya petugas melihat total tagihannya saja, bukannya meneliti satu per satu nomer yang sudah dikontak dan menyebar isu itu sedemikian rupa. Siyalan.
Dan bagaimana jika antar pekerja, yang sepantaran, terlibat percintaan…? Tak akan menjadi masalah apabila dua-duanya takĀ mempunyai komitmen dengan orang lain, gosip tak akan sekencang itu. Tapi sepertinya mereka berdua, yang digosipkan itu, juga tak terlalu ambil pusing dengan rasanan para penghuni pantry itu. Tak elok…? Elok relatif, bukan…? Kasian pasangannya….Masak…? Selama mereka tidak tahu, bukan…? Barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Dan entah apa lagi.
Masih banyak gosip yang lebih “seram” lagi. Dengan pelaku yang lebih menakjubkan lagi. Saya rasa kantor saya bukan satu-satunya, sepertinya hal seperti itu sudah jamak terjadi. Saya tidak tahu mengapa, karena saya belum pernah mengalaminya. Barangkali karena memang tidak ada yang cukup layak untuk menjadi selingkuhan saya.
Menurut saya, seorang selingkuhan harusnya jauh lebih baik dari pasangan sendiri, dalam segala hal. Kalau tidak, berarti dia goblok. Kalau saya tidak selingkuh, itu berarti memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dari suami saya
Dan kalaupun ada, pasti tidak dalam segala hal. Dan itu berarti tidak ada cukup alasan untuk menggantikannya.
Ah, jadi kepengin menelepon suami saya, mendengarkan suara rendahnya yang kebapakan itu…

haha mba anna, memangnya dikantor anda saja, gak perlu heranlah…namanya juga manusia, selalu saja prinsipnya rumput tetangga lebih indah dibanding rumput milik sendiri, walo kadang salah kadang benar. Ternyata dunia ini banyak dihuni oleh serigala berbulu domba, tapi udah pada gede2 mba, yang penting tau resikonya, kalau ketahuan ya lagi apes namanya;)
By: banz on April 11, 2008
at 11:25 am
jeung,
cuma mo note satu aja..itu bos sampeyan koq gak modal blas..di emergency exit..check in aja kan enak n puas.mo tereak2 juga gak kedengeran..ya toh ?
By: commercial_boy_007 on April 16, 2008
at 8:49 am