Posted by: annaherdianto | May 19, 2008

Sandal Lily Simbah

Tempo hari, setelah mengantarkan pembantu pulang kampung malam-malam, di kawasan yang banyak dihuni oleh orang Madura, saya berpapasan dengan seorang kakek. Kakek berpeci, bersarung, dan memakai sandal Lily. Dan entah kenapa pula, tiba-tiba saya jadi teringat dengan almarhum Simbah. Simbah dengan sandal Lily-nya.

Ia adalah Simbah saya, Bapak dari Ibu saya.

Tak ada yang saya warisi darinya, kecuali darah tinggi yang sepertinya memang sudah menjadi “kutukan” di keluarga kami. Adik saya adalah replika hidupnya : tinggi, bertulang besar, bermata lebar, dan bersuara menggelegar. Ia adalah horor bagi Mas-mas saya. Sepupu-sepupu saya akan mlerik koyo thinthir (analogi yang aneh :) ) manakala berhadapan dengannya. Dan tak ada yang berani berkata :”Tidak” kepadanya. Kecuali saya : satu-satunya cucu yang dimomongnya sejak balita.

Karena saya berwuku Sinto. Maka saya sugih tangis. Dan demi membuang watak buruk Sinto, maka Simbah melakukan ritual ini : saya dibuangnya ke jugangan resak (tempat pembuangan sampah-red). Tak lama, memang. Hanya beberapa menit, untuk kemudian diambil lagi. Berhasil? Ternyata tidak. Karena saya pernah hampir digampar Simbah dengan sandal Lily-nya, setelah berjam-jam tak berhenti menangis juga.

Sandal Lily. Dulu, benci sekali saya dengan barang satu ini. Dulu, manakala saya masih eS-De, pertengahan tahun 80an. Bukan karena permukaan karetnya hampir menggampar mulut saya. Juga bukan karena Simbah selalu memakainya. Lebih tepat, saya malu. Tidak modis, tidak keren, apalagi up to date. Halah.

Setiap Simbah membeli sandal Lily baru, tak lupa ia membelikannya sepasang buat saya. Sekali lagi : cuma buat saya. Tidak dengan Mas-mas ataupun adik saya. Dan selalu warna coklat, coklat susu. Ia beralasan, awet katanya. Memang, saya akui itu. Dan gampang ditebak, ketika kawan-kawan sepermainan telah berkali-kali berganti sandal, dengan model dan warna yang cerah-meriah, kaki kecil saya masih setia dengan sandal Lily.

Sandal ini, selalu licin setiap kena air. Dan menyakitkan manakala dibawa lari. Maka saya jarang memakainya. Akibatnya, jari kaki saya “mekar” hingga sekarang. Mas-mas saya sering meledek kaki saya sebagai “ceker ndeso”. Tentu saja. Karena mereka tidak berkewajiban untuk memakai sandal Lily seperti yang selalu dijatahkan Simbah untuk saya.

Simbah adalah orang yang apik. Tulisan latinnya (sambung-red) selalu rapi, miring ke kanan, dengan tinggi, panjang, dan tebal yang selalu seimbang dan konsisten. Ingat pelajaran menulis halus…? Seperti itulah. Ia mengajak saya menonton pagelaran wayang kulit di rumah Pak Tir, dekat-dekat dalang. Memaksa saya nembang Macapat dengan baik benar (Saya selalu nyerah untuk Asmaradhana). Mengajari aturan baku dalam gendhing. Dan menghabiskan waktu setelah Maghrib selalu dengan aksara hasil karya Aji Saka itu.

Ia juga seorang modin.Tak lupa, selalu saja ada orang yang datang kepadanya untuk bertanya : kapan pendhak pisan, pindho, atau entek-entekan si A ; Wuku si B begini-begitu, mesti bagaimana ; kapan tanggal baik untuk kawinan, hajatan atau pindahan, dan sebagainya. Umur 12, saya resmi “berpetualang”, keluar rumah untuk nge-kost, hingga saya berumur 26 tahun. Sejak itulah tak saya terima lagi ajaran-ajaran Simbah. Hingga serangan stroke keduanya membuatnya pergi tak kembali, sebelas tahun lalu.

Dan sandal Lily selalu mengingatkan saya kepadanya. Bahkan bau karetnya pun masih dapat saya ingat, sampai kini.


Responses

  1. sama sandal lily juga ngeingake aku sama budeku yang galakknya minta ampun, dan sekarang sudah idk ada setiap nglihat sandal lily aku selalu pingin nangis ingat budeku, biar galak budeku baik hati….ya Allah ampunilah budeku, terimalah dia di sisimu…

  2. wah mantap bgt tu…
    na tolong email.kan ya pabrik sandal lily karna ada yang mau ne…
    ya boleh la buat nambah2 pemasukan…
    thanks 4 all info nya
    lam kenal

  3. ya klo nga dimana tempat n yang banyak jual sandal lily nya


Leave a response

Your response:

Categories