Posted by: annaherdianto | June 2, 2008

Kapal Bodong dan Senior

Akhirnya, bulan Mei yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran bisa dilalui juga :)

Karena saya dianggap kebanyakan “makan kue Ibu-ibu Dharmawanita” (kebanyakan miting-red), maka juragan akhirnya menitahkan saya untuk “beranjangsana” ke Balikpapan. Crew Boat 25 pax sekarang jadi bagian saya. Halah. Agak gagu juga, karena “mainan” saya selama ini FSO/FPSO (sombong mode on).

Setelah berjuang menahan syndrom hamil muda, ditambah turbulen yang bikin isi perut bergejolak ndak karuan, akhirnya sampai juga saya di Sepinggan, dengan sehat walafiat tanpa pucat. Tapi perjuangan belum berakhir. Ternyata orang-orang seperjalanan saya lebih suka mampir ke Dandito daripada langsung ke hotel, menyantap berpiring kepiting yang membuat saya langsung lari ke wastafel, offloading sedikit yang masih tersisa di lambung (ngguiliani puoll…).

Setiba di kapal keesokan harinya, hal pertama yang saya lakukan adalah garuk-garuk kepala. Datang bersama juragan besar Divisi sebelah yang gajinya 8 kali lipat gaji saya benar-benar membuat saya mati langkah, ndak tau mesti ngapain, mendadak terserang penyakit goblok akut. Setelah bermenit cengar-cengir dengan dokumen lelang, akhirnya saya mendapat tema yang asli garing banget : kapal ini belum mempunyai sertifikat klas. Halah.

Cek-ricek kanan kiri, akhirnya saya mengontak BKI pusat :

“Kapalnya lagi diperiksa gambarnya, buat penerimaan klas bangunan lama..”

“He…? Penerimaan klas bangunan lama…? Lha…kan kapal baru”

“Iya….tapi pas dibangun sepertinya owner tidak mengundang klas, jadi sebelumnya tidak ber-klas. Ya notasinya bangunan lama. Kan BKI ndak supervisi selama kapal dibangun…”

“Lho…Kok statutory certificate-nya keluar…Load Line-nya juga…”

“Wooo…yo mbuh maneh…takok-o wong Perla…”

Saya garuk-garuk kepala lagi. Jadi…? Usut punya usut, ini kapal dibeli owner dari luar negeri, entah sebagai apa, tapi yang jelas bukan sebagai kapal karena tak ada selembar sertifikat kapal pun yang menyertainya dari luar negeri. Kapal bodong..? Barangkali. Baiklah. Ia kemudian didaftarkan di Jakarta. Kemudian ia “jalan” sendiri melintasi Laut Jawa ke Kalimantan, dengan bekal sertifikat statutory, termasuk load line. Entah saya yang kelewat goblok atau memang begitu aturannya, tapi setahu saya flag state baru dapat mengeluarkan load line certificate setelah ada evaluasi stabilitas dari biro klasifikasi. Jadi, bagaimana mungkin load line certificate sudah ada di tangan sementara stabilitas masih ada di BKI….?

Praktek membangun kapal tanpa disupervisi klas juga baru saya ketahui sekarang ini :) Barangkali saya saja yang kelewat kuper, karena saya yakin praktek seperti ini sudah umum dilakukan. Atau barangkali karena “mainan” saya hanya kapal-kapal besar saja (sombong mode on lagi). Irit, toh….? Tapi, owner melakukannya tentu dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya bahwa klas toh nanti PASTI akan menerima kapalnya. Entah yakin karena dari sisi teknis kapal sudah memenuhi rule, atau yakin karena hal yang lainnya :)

Kejutan belum selesai.

Saya bertemu dengan salah satu senior saya (Halah. nggak penting banget). Ia 19 angkatan di atas saya *&%$#!#….Ada beberapa kemungkinan manakala kita bertemu dengan senior.Pertama : ia akan bernostalgila dengan kita, tanya si A si B, dan sejenisnya. Type senior favorit saya. Kedua : ia akan  berlagak sebagai “senior sejati”. Memberi wejangan Do dan Dont’s.  Type seperti ini biasanya orang yang “dianggap” sudah sukses. Sebagai yunior yang baik, sebaiknya sampeyan berlagak juga “Oh begitu ya, Mas”, “Wah..hebat sekali…”, atau “Sangat inspiratif (halah)”. Siapa tahu sampeyan nanti bisa melejit kariernya atas bantuan senior seperti ini. Ketiga :sampeyan dianggap bukan apa-apa atau siapa-siapa. Ini biasanya diawali dengan keluhan :”Ah, anak-anak jaman sekarang, enak. Jadi manja. Jaman saya dulu bla..bla…bla….” Karena terikat kode etik bahwa :

Pasal 1 : senior tidak pernah salah,

pasal 2 : kalau senior salah maka kembali ke pasal 1,

maka yang dapat sampeyan lakukan hanyalah beriya-iya dan merendahkan diri, sama dengan ketika sampeyan disuruh push up saat pengkaderan, dulu.

Balik ke senior saya tadi. Awalnya ia berlagak seperti type ketiga, membuat saya “hampir” menyibukkan diri dengan HP. Tapi, lama-lama ia jadi curhat. Wah, baru kali ini ada senior curhat ke yunior :) Saya langsung tertarik. Rupanya, ia lama bekerja di negeri para Emir, dan baru beberapa tahun ini balik ke NKRI. Rupanya ia shock. Shock dengan perilaku orang-orang sini :) Tak mengerti ia korelasi antara BPMIGAS – KKKS. Tak paham ia dengan Pertamina sekarang. He he he he he…… Tapi karena merasa terikat pada kode etik di atas, maka saya hanya mendengarkan dengan sok simpatik. Lagipula, pertanyaannya memang tak perlu dijawab…

Begitulah, pengalaman Balikpapan suatu hari…


Leave a response

Your response:

Categories