Posted by: annaherdianto | June 17, 2008

Kumpulan Nama

Kemarin sore, akhirnya saya menerima Direktori Bisnis alumni Institut tempat saya pernah berguru. Buku tebal itu saya temukan telah tergeletak manis di meja saya yang akhir-akhir ini semakin meyerupai “kapal pengangkut container tabrakan dengan general cargo yang semua muatannya tumpah ruah dan pating tlecek koyo telek…” Biasanya, barang kiriman seperti itu akan langsung saya tumpuk begitu saja, dibaca entah kapan nanti manakala sempat.

Tapi yang ini tidak.

Saya robek plastik pembungkusnya, saya timang-timang, sambil mengira-ngira siapa kiranya orang yang begitu peduli dengan Ikatan Alumni Institut kami, sehingga berinisiatif membuat direktori ini. Setelah itu, yang pertama kali saya cari adalah (tentu saja) nama saya.  Siyalan..!! Jurusan saya ditulis tidak dengan semestinya. Saya ditulis sebagai alumni jurusan sebelah. Bukan itu saja, tempat bekerja saya juga salah. Padahal data yang pernah saya kirimkan kepada penerbitnya tidaklah salah. Belum apa-apa sudah membuat saya uring-uringan.

Kemudian saya mencari nama teman saya yang kini jadi suami saya :) Walah, ndak ada pula. Padahal dulu ngirimnya juga berbarengan. Sabar..sabar..sabar…Nama teman saya yang lain yang kini saya cari. Ada beberapa, memang. Kemudian mantan-mantan pacar saya :) Lumayan menjawab rasa penasaran ada dimanakah mereka kini…

Lalu, apa yang dapat saya harapkan dari buku ini..?

Saya menemukan banyak nama, tertulis rapi kecil-kecil lengkap dengan tempat bekerjanya. Barangkali ada puluhan ribu, atau ratusan, saya tidak tahu. Hampir semuanya tak saya kenal. Saya juga menemukan profil alumni-alumni yang bisa dikategorikan sukses di sini, yang sudah menjadi Dirut A, Dirut B, pengusaha A, pengusaha B…Barangkali untuk menimbulkan rasa bangga. Barangkali sebagai inspirasi. Saya tidak tahu. Karena sayangnya dua hal tadi tidak terasa benar di kepala saya. Kosong saja. Mungkin agar “networking” kita semakin luas, mempermudah karier dan sebagainya. Untuk mempererat tali persaudaraan. Halah. Entahlah.

Rasanya seperti ketika berjalan di kuburan : kita melihat banyak nama, ada yang kita kenal, banyak yang tidak. Kenangan. Barangkali itu yang saya harapkan ketika memesan buku ini akhir tahun lalu. Kenangan yang saya harapkan setidaknya dapat tetap tersimpan dengan adanya buku ini. Ah, betapa naifnya.

Terbuat dari apakah kenangan itu…? Mengapa kita sesekali merasa perlu untuk melihatnya kembali…?

Note :gambar diambil dari National Geographic.


Responses

  1. Nama gw gak ada…


Leave a response

Your response:

Categories