Nah, juragan…jadi bagaimana rasanya “diundang” KPK…? Sepertinya baik-baik saja, bukan…? Saya harap begitu…Saya hanya kepengin tahu, bagaimana perasaan juragan mendapat berlembar surat pengunduran diri, dari para “pembantu” yang salah urus…
Selembar kertas itu bukan datang begitu saja, tahu-tahu ada di meja juragan. Ia datang dari sejarah, bisa panjang bisa pendek, dari orang yang mengirimkannya untuk juragan. Ia datang dari kecewa. Barangkali sakit hati. Dan kecewa bermula dari setumpuk putus asa, juga ketidakadilan. Setidaknya keadilan menurut orang yang menorehkan tanda tangannya di situ, karena adil adalah relatif. Bukan begitu juragan….? Dan memang bukan perkara mudah bagi juragan untuk membuat “standar keadilan” itu, seperti membuat SOP atau PTK, tapi nyatanya ada, juragan…”Standar” itu ada. Tapi, lagi-lagi, adalah relatif untuk menginterpretasinya…
Adalah naif apabila kemudian juragan menganggap kecewa itu akan berhenti di situ saja. Karena ia akan membentuk segores dendam. Dan dendam bukanlah sebagaimana kita menorehkan garis atau gambar di pasir laut, seperti kita pernah menorehkan nama-nama pacar kita di sana, untuk kemudian hilang disapu ombak. Ia adalah seperti kita merajahkan goresan dalam di pohon kayu keras. Lama ia tak terlihat. Bukan menghilang. Karena ia terbawa tinggi seiring tumbuhnya si pohon. Dan ketika pada saatnya kita akan membuat ukiran indah, kita “disakitinya” karena ternyata goresan itu merusak segala pola.
Juragan pilih mana, kehilangan Main Engine sebagai penggerak utama atau kehilangan Auxilliary Engine sebagai mesin bantu….?
Jika juragan kehilangan penggerak utama, maka juragan masih mempunyai beberapa kemungkinan : men”start” kembali mesin induk, menjalankan peralatan-peralatan pendukungnya, serta memberikan penerangan penuh ke seisi kapal. Tapi ketika juragan kehilangan mesin bantu, maka mesin induk juragan akan ngambek, pompa-pompa pendukungnya tak berfungsi, tak ada penerangan, dan juragan tinggal meratapi batere yang sekian lama tak digubris. Kapal juragan black out. Dan pada saat itulah juraganĀ akhirnya melepaskan rocket flare. Atau bahkan menenggelamkan EPIRB….? Karena juragan telah sedemikian putus asa dan menyatakan SOS…? Karena itu, juragan, mohon diperhatikan siapa sajakah yang telah menyampaikan lembar-lembar kertas itu. Staff ataupun pembantu hanyalah perkara sebutan. Sekali lagi, hanya sebutan.
Saya yakin, juragan masih ingat dengan hirarki Maslow. Tidak, saya tidak akan menganggap kita semua masih berada di level Physiological, bukan..bukan itu. Namun sayang sekali bilamana juragan masih menganggap kami, para pembantu ini, di level safety. Maka untuk itukah maka juragan menanamkan pada kami bahwa perjalanan Dinas adalah bagian dari pendapatan…? Dan karena itukah maka juragan tak menganggap perlu kenaikan golongan dan sejenisnya, karena pendapatan kami justru bisa lebih besar dari gaji…? Maka juragan tak perlu menyalahkan kami, bilamana kami lebih mengharapkan SPD daripada slip gaji. Alagkah eloknya bilamana juragan menempatkan kami di level Esteem.
Barangkali juragan menganggap kami tak bersyukur. Sebagaimana keadilan, juragan, bersyukur atau tidak adalah relatif. Dan kami akan memperjuangkan keadilan itu, setidaknya keadilan menurut kami sendiri, dengan cara kami sendiri..termasuk dengan mengirimkan lembar-lemar kertas itu, agar juragan tahu….

keren jg teknik nulisnya
jd ingat emha
lam nal
By: fikri yathir on July 28, 2008
at 12:20 pm
Trimakasih…trimakasih
By: annaherdianto on July 28, 2008
at 4:14 pm
hi jeung..
sentimentil banget topik tulisan nya..ada masalah kah ?
menurut gw mending kehilangan main engine secara dengan A/E masih bisa jalanin sistem laen n when come worse to worse masih bisa kabur dengan life boat
By: commercial_boy_007 on July 30, 2008
at 9:14 am
mba’ sedulurnya pak didit ya?
He…? sapa tuh….? Maaf ndak kenal
By: Linda on August 10, 2008
at 12:18 am
dua duanya breakdown gak papa kan ada emergency generator……heheheheheh……dropped anchor dulu
hilhikhilhil
By: Kapitan on October 23, 2008
at 6:15 am