Posted by: annaherdianto | September 15, 2008

Jerapah, LPG, dan Chanel No. 5

Kalau ada lomba mengeluh, jangan-jangan kita jadi juaranya ya.

Saya mengeluh. Sampeyan mengeluh. Kita mengeluh sama-sama. Kita mengeluh kenapa Jakarta tambah macet saja. Dan di saat yang sama kita mengepulkan premium bersubsidi dengan sia-sia di tol dalam kota. Tentu saja kita ada pembenaran mengenai itu : tidak layaknya layanan transportasi umum.Kita mengeluh kenapa PLN byar-pet padahal kita tidak pernah telat membayar iuran, lupa bahwa bohlam lampu taman masih menyala ketika kita berangkat tadi pagi. Mengeluh kenapa banjir selalu datang tiap Februari. Pejabat yang korupsi. Gaji yang selalu dirasa kurang tapi di lain waktu begitu mudah mendapatkan SPD untuk pekerjaan yang…well…sebenarnya tidak cukup layak untuk mendapatkan bayaran sebanyak itu.

Pagi ini pun saya sudah mengeluh. Mengeluh karena Sosro dengan gobloknya membiarkan truk-truknya parkir di depan pintu keluar kompleks tempat saya tinggal, membuat motor-bus-sedan-MPV-truk tumpah ruah berdesakan seperti air di selang yang kita pejet pada saat menyiram taman. Pagi-pagi saya juga sudah mengeluh, kenapa juragan saya punya penyakit job desc myopia kronis dan tidak sembuh-sembuh. Jangankan sembuh, sadar saja tidak :) .

Kita mengeluhkan banyak hal. Semuanya, bahkan. Apakah keadaan memang sudah seburuk itu ? Atau saya, sampeyan, dan kita semua sudah tidak sanggup lagi menyesuaikan diri, berevolusi? Ngomong-ngomong soal evolusi. Seandainya saya percaya bahwa Darwin memang benar (sayangnya tidak :) ), saya pikir jerapah telah memilih keputusan yang keliru. Ia konon memanjangkan lehernya agar bisa menyeimbangi pohon makanannya yang tambah lama tambah tinggi. Di sisi lain, ia pasti akan kesulitan minum air dari permukaan tanah. Coba bayangkan, betapa kemengnya si jerapah menjulurkan leher agar bisa minum dari permukaan tanah. Coba hitung juga, berapa head yang diperlukan si jerapah agar air bisa naik melewati kerongkongannya yang panjang itu untuk kemudian jatuh ke lambungnya. Kenapa jerapah tidak makan jenis daun lain saja. Ah, sayangnya saya tidak tahu. Kalau suatu kali sampeyan bertemu dengannya, coba sampeyan tanyakan ini kepadanya.

Saya bukan penggemar Aa Gym. Setidaknya tidak separah suami saya yang begitu nge-fannya sampai merasa perlu untuk datang langsung ke Geger Kalong dan membeli buku-buku karya beliau. Tapi ada satu hal yang saya ingat dari Aa Gym : mulailah dari diri sendiri, sekecil apapun. Baiklah. Ternyata tidak begitu mudah ya…? Tempo hari ketika mendapati bahwa LPG 12 kg mengalami kenaikan lagi, saya ngomel. Omelan saya kira-kira begini :

“Ini Pertamina bisa kerja nggak,sih…? Sudah digaji besar, fasilitas komplet, ngurusin distribusi gas saja nggak bisa. Mana dinaikin terus lagi. Pemerintah juga, ndak bisa diarepin dehhhh…Katanya konversi. Konversi apaan….? Minah ilang, gas lenyap. Trus bini-bini mereka itu di rumah masak pake apa ya…? Kayu bakar…? Dikate Menteri Kehutanan, bisa mbakar kayu tiap hari…”

Suami saya, dengan tanpa melepaskan mata dari koran yang sedang dibacanya, enteng berkomentar :

“Kamu itu…LPG naik segitu saja sudah kayak mau kiamat. Padahal kemarin di Singapore kamu baru beli Chanel No. 5 yang baunya kayak nyong-nyong itu, dengan entengnya. Chanel no. 5-mu itu bisa ditukar dengan 15 tabung LPG 12 kilo lo…”

Oops…!! O’o…..

Baiklah, kalau begitu. Kalau saya tidak bisa mengharapkan orang lain apalagi Pemerintah untuk melakukan perubahan, kenapa saya tidak mengharapkan diri sendiri saja dulu untuk berubah…? Setidaknya untuk tidak mengeluh…


Responses

  1. Setuja….Setuja……


Leave a response

Your response:

Categories