Posted by: annaherdianto | October 19, 2008

Cerita Kepiting

Terpekur saya ketika menerima laporan hasil direct selection yang baru kami adakan : tawaran dari satu-satunya penawar yang lolos kualifikasi adalah 250% dari OE yang pernah kami perhitungkan. Ini tidak biasa. Sungguh tidak biasa. Ada nyeri di ulu hati, ada sesak yang minta dilegakan, dan ada ngilu di tiap sendi.

Saya pribadi merasa dikerjain. Dikerjain oleh bidder yang…well…entahlah. Mereka tahu persis kami terjepit, dan besarnya konsekuensi yang akan kami tanggung bilamana tanker tidak kami dapat tepat waktu. Tapi bukan begitu caranya, bung…!!!! Sampai kucing bertanduk pun tak kan ada tanker Aframax dengan harga seperti yang telah sampeyan tawarkan…

Tapi, sampai kucing bertanduk pula, tak kan pernah sama sudut pandang saya dengan penawar itu. Maklum, mereka bekerja dengan prinsip how to maximize shareholder’s value. Sedangkan saya lebih pada how to maximize Indonesian value.

Nah, itu sekedar introduksi. Kepiting..? Begini ceritanya…

Suatu kali, saya mendapatkan kiriman 2 kardus berisi kepiting, masing-masing kardus berisi kepiting dengan rasa yang berbeda : asam masin dan lada hitam. Kepiting dari Balikpapan. Nah, sampeyan yang biasa menjelajah Balikpapan, tentunya tahu dimana akan mendapatkan kepiting yang rasanya beginian.

Kiriman tanpa pesan. Hanya kepiting berwarna merah dan hitam, siap dimakan. Saya tidak doyan kepiting, sungguh. Entah kenapa. Barangkali saya masih terbayang ketika mereka terikat bergerak-gerak ketika dimasukkan ke wajan. Atau karena saya alergi dengan beberapa makanan laut. Saya tidak tahu. Hanya tidak suka saja, itu yang pasti. Suami saya yang menyukainya. Dan begitulah, di meja makan, saya hanya menatap kosong si kepiting. Dan ternyata mereka juga sedang menatap saya. Saya bertanya-tanya, apa yang akan disampaikan si pengirim kepiting kepada saya..? Kepitingya enak. Itu sajakah..?Ah, seandainya saja kepiting-kepiting ini bisa berbicara.

“Enak…?”

“Enak…”

“Yang mana…?”

“Semuanya…”

Jika suami saya menganggap kepiting Balikpapan enak, bagaimana dengan kepiting Paris..? Atau London, barangkali…? Ah, saya jadi teringat dengan juragan sebelah. Yang olehnya saya pernah dipanggil dan hingga detik ini pun saya tak pernah bisa memahami bahwa betapa pengecutnya beliau dengan memanggil saya, bukan memanggil juragan-juragan saya yang nota bene lebih bertanggung jawab atas apa yang ingin beliau doktrinkan kepada saya. Baiklah, Bu, Jeng, Madame…kesimpulan sementara yang dapat saya ambil adalah : bahwa kepiting Paris bisa menyebabkan orang menjadi kehilangan sebagian dari moralnya.

Kembali ke kepiting Balikpapan.

Suatu kali, si pemberi kepiting menghubungi saya. Basa-basi sebentar. Dan tak lama dikatakanlah apa maksudnya : ‘meminta bantuan’. Selama ia menelpon, saya kembali terbayang kepiting-kepiting itu. Dan saya juga yakin seyakin-yakinnya bahwa orang di seberang sana juga sedang membayangkan hal yang sama.

“Itu bukan wewenang saya. Maaf tak bisa bantu…”

Dan dalam bayangan saya, saya melihat kepiting-kepiting itu tersenyum…


Responses

  1. Lha..
    bener kan…
    Tidak sekadar iseng…

    Dari yg iseng2 aja bikin banyak pihak tersengat…
    Apalagi yg tidak iseng….

  2. Oooooo….oleh2nya ternyata kepiting …dulu ditanya oleh2nya apa dari penggemar aja nggak ngaku….
    Cuman yang menjadi catatan saya adalah paragraf terakhir…si pembeli kepiting bermaksud “minta bantuan”….perasaan ini pernah aku sampaikan….karena jarang2 ada lelaki atau seseorang yang baru kita kenal terus ngasih oleh2, tanpa pamrih apa2. Pasti ada maunya….dan mungkin maunya adalah “minta bantuan” itu…

    Terus mengenai OE…Emang Owner selalu bener estimasinya ? Terus apa sih dasarnya Owner menentukan OE ? Mestinya OE itu fleksible dan tidak bisa fix karena fluktuasi harga yang dipengaruhi berbagai macam faktor. Terus untuk produk Oil & Gas mestinya OE nya cukup spesifik. Tidak bisa melihat/ menggunakan referensi harga pasar, karena produknya cukup terbatas didunia ini. Jadi OE untuk produk Oil & Gas harus dihitung satu persatu dan merupakan hasil sourcing yang up to date. Nggak bisa kita mengkalkulasi OE hanya dengan estimasi. Apalagi nilainya sangat-sangat besar.
    Terus…Emang bisa direct selection untuk pengadaan barang dan jasa di bumi indonesia ini ? Seingat saya semuanya telah diatur di Kepres 80. Kalau yang lolos kualifikasi cuman satu, ya harus retender. Ngapain pusing2. Nggak tau lagi kalau emang nggak pakai Kepres 80 sebagai pedoman.

    Sori sebelumnya…Saya tidak bermaksud menggurui, karena saya tau anda lebih pinter mengenai ini, terbukti dengan banyaknya penggemar ( nggak ada hubungannya ). Cuman saya ingin sharing aja tentang sedikit yang saya ketahui. Sangat mungkin pendapat saya ini keliru.
    Keep in touch……

    Mas..Oom..Pakdhe…Tumben sampeyan sarkastis sama saya. Ada beberapa hal yang pengin saya klarifikasikan :
    1. Kepiting itu bukan dari penggemar,
    2. OE..?Tergantung. Tergantung barang macam apa yang akan saya pesan. Tergantung saya mau beli atau sewa. Dan masih banyak tergantung yang lainnya. Tolong dibaca, dalam kasus ini saya akan menyewa tanker Aframax. Kita bisa itung-itungan njlimet pakai teori tetek bengek, asessment pasar, dan sebagainya, tapi selalu saja ada faktor yang membuat kita tak berdaya. Disini adalah : bahwa kami kejepit dan kontraktor tau persis itu. Aspek lain,sampeyan boleh percaya boleh tidak, bahkan sebelum tender diluncurkan, kontraktor hampir pasti sudah tau OE dan spek yang kita punya. Nah,disini kita dituntut untuk bisa sedikit main-main :apakah kita menyerah di-drive pasar begitu saja atau tidak. Ngomong-ngomong, bukan hanya sekali ini kami tender kapal Aframax,
    3. Di migas, kita pakai PTK 007. Sampeyan bisa cek di website BPMIGAS. Direct selection bahkan direct appointment pun dimungkinkan untuk diadakan, tergantung pertimbangannya. Keputusan Menteri bukan Kitab Suci, yang harus disakralkan tanpa mikir yang lain lagi. Selain itu, open tender tidak selamanya menguntungkan…
    4. Migas untuk kepentingan orang banyak, sedikit pusing memikirkan strategi lelang adalah hal yang wajib.
    5.Bukankah sampeyan memang selalu begitu :)

  3. Ee…ee…eee…
    berantem hebat nih…
    sama2 bener…
    tapi pasti ada yg lebih bener…
    tapi mana yg bener ya…?

    Gak papa kok…
    tengkarnya orang pinter tu..
    tetap aja bawa manfaat…
    ‘kelainya’ pake ilmu sih…
    Aku ra mudheng blassss…

    Kagem kera Ngalam…
    kalo boleh tanya…
    sepertinya dah lama ngempet mo ‘hantam’ ya…?

    Kagem Mbak Anna…
    sabar to mbak…
    balasnya jangan telak2 dong…
    he..he…

  4. Wah…salah pengertian rek…mosok bosoku kasar se ? Lagian aku juga sdh ngomong kalau mungkin pendapatku ini keliru…emang kalau urusan migas kamu ahlinya. Sori yo aku gak bermaksud opo2…Cuman sharing aja yang aku ketahui selama ini, diluar Migas yang menurutmu memang tidak bisa disamakan dengan yang lain. Tapi mengenai OE…pertanyaanya : emang Owner selalu benar estimasinya ? Akar permasalahannya kan dari itu. Karena aku pernah ikut tender dan Owner mengakui bahwa OE nya keliru. Terlalu rendah. Contoh tender Pertamina Tanker 30,000 DWT tahap pertama lima tahun yll. Mereka mengakui bahwa OE nya terlalu rendah. Sehingga dalam tahap komersial nggak ada satu bidderpun yang memenuhi syarat. Aku juga nggak habis pikir, bagaimana bisa OE yang menurutku adalah hal yang “sangat rahasia” itu bisa beredar di para kontraktor. Dampaknya ya jelas…jelas mereka akan men-drive pe-launching tender….Atau mungkin ada perbedaan juga dengan cara lelang Migas ?
    Terus masalah direct selection….aku sebagai rakyat jelata cuman berpikir begini…pengadaan barang/jasa yang ditenderkan aja bisa “dimainkan”, apalagi yang nggak melalui itu….yach positive thinking aja lah, moga2 ini karena memang untuk kepentingan orang banyak, sehingga ada aturan2 “khusus” yang hanya diberlakukan untuk proses pengadaan barang & jasa dibidang migas.

    Terus….mengenai penggemar…seingatku kamu pernah bilang bahwa kamu dapat oleh2 dari penggemarmu yang lagi bertugas di balikpapan…terus aku cuma menggabung-gabungkan aja sama cerita dibog ini….kalau keliru ya mohon maaf sebesar-besarnya.

    Thanks

    Jawaban pertanyaan sampeyan : tentu saja tidak. Pertanyaan sebaliknya : memangnya harga yang ditawarkan bidder melulu karena itung-itungan di atas kertas…? Jawabannya : tentu saja juga tidak. Lalu, apakah penyelenggara lelang menyerah begitu saja..? Revisi OE sesuai tawaran? Nanti dulu.

    Adalah naif apabila sampeyan mengatakan tidak habis pikir bagaimana OE bisa bocor ke kontraktor. Untuk orang yang biasa bergiliran jadi penggembira tender, hal ini bukan sesuatu yang mengagetkan, bukan…? Direct selection tidak semudah dan sepicik yang sampeyan perkirakan. Ada sederet persyaratan dan konsekuensi yang harus ditanggung.

    Mengenai penggemar, sampeyan masih terlalu sok tahu soal itu.

  5. stay cool girl…


Leave a response

Your response:

Categories