Posted by: annaherdianto | November 3, 2008

Para Lelaki dalam Phonebook Saya

Sampeyan pernah dilabrak…? Maksud saya : dilabrak oleh sesama perempuan…? Saya pernah.

Karena latar belakang keluarga yang didominasi oleh laki-laki, karena saya kuliah di jurusan “laki-laki”, dan juga karena tuntutan pekerjaan yang (lagi-lagi) kebanyakan dilakukan oleh para lelaki, maka bukan hal aneh apabila phonebook saya penuh dengan nama laki-laki. Bukan pula hal yang perlu dipertanyakan bilamana saya dekat dengan beberapa di antara mereka. Wajar juga jika beberapa di antara mereka kemudian naksir kepada saya :) . Para lelaki di phonebook saya itu.

Kembali ke perkara labrak-melabrak.

Pertama kali saya dilabrak, sekitar enam tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang mengumpulkan data untuk Tugas Akhir yang sedang saya kerjakan, semester akhir kuliah saya di ITS Surabaya. Saya norak sekali waktu itu, saya akui dengan segenap ketulusan dan kejujuran :) . Demi data yang saya inginkan, saya dekati sang second engineer kapal bersangkutan. Masih muda :) . Saya hujani kata manis. Perhatian gombal. Dan sebangsanya. Tentu saja tanpa sepengetahuan pacar saya waktu itu. Celaka duabelas buat saya. Gombalan saya itu diketahui tunangannya. Pertama kali kena tegur sang tunangan, pantang mundur buat saya. Data belum lengkap. Setelah sekian kali, akhirnya datang juga labrakan ini :

“DASAR PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU…!!!GANGGUIN CALON SUAMI ORANG. KAYAK TIDAK ADA LAKI-LAKI LAIN SAJA…!!”

Ha ha ha ha. Untunglah waktu itu data yang saya perlukan sudah saya dapatkan sepenuhnya. Maka terhapuslah nama sang second engineer dari phonebook saya.

Seperti de javu. Hari ini saya mendapat labrakan yang sejenis. Dari istri seorang teman saya. Labrakan yang pada intinya menanyakan siapa saya, yang mendapat perhatian lebih dari suaminya. Yang mengingatkan saya, bahwa saya sedang hamil, dan agar anak saya selamat karenanya. Yang memperingatkan, agar menjaga nama baik saya.

Arogan adalah nama tengah saya. Tapi tidak dengan sesama perempuan. Bagi saya, pantang bertengkar dengan sesama perempuan. Apalagi perkara laki-laki. Ambil saja, dehhhh…Jawaban saya..?

“Saya bukan siapa-siapa.

Saya tidak bertelanjang di depan suami Anda. Saya tidak menggodanya. Apalagi memeletnya.

Kalau suami Anda memberi perhatian lebih, saya bisa apa…?”

Pesan itu itu saya cc-kan ke teman saya. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap istrinya. Sungguh tidak tahu. Dan tidak mau tahu.

Bedanya dengan yang dulu, namanya masih ada dalam phonebook saya.

Buat teman saya yang baru diangkat menjadi Direktur : forgiven but not forgotten…


Responses

  1. Wahahahahaha….sampeyan seneng nggodani bojone wong tibake he2

  2. wakwakwkakwakkkkkkk
    jadi inget masa lalu…..


Leave a response

Your response:

Categories