Posted by: annaherdianto | November 27, 2008

Aduh, Pak Menteri…!!!!

tiga-monyet

Pak Menteri,

Awal tahun 2006, saya dan 3 karib mendatangi satu pantai di Lampung, mencoba menilik garis pantai Pulau Jawa, karena kami ‘dihukum’ di Prabumulih tak boleh menginjak Jawa selama 3 bulan. Tapi sssttttt….Pak Menteri jangan bilang-bilang ke mantan juragan besar saya ya, karena kami sekejap melarikan diri dari Prabumulih, naik kereta api yang konon eksekutif namun kecoak berkejaran di sana sini dan bau pesing meruap di antara gangnya.

Halah. Kok malah mblakrak ya, Pak Menteri. Nah, saya lupa nama pantainya. Atau barangkali memang tidak bernama. Lupa. Kurang kerjaan, berempat kami ber-kano-kano-an (entah apa namanya itu..). Sendiri, saya kayuh itu kano-oranye-jeruk menjauh dari garis pantai. Entah kenapa, kano saya terbalik. Dan hilanglah saya dari pandang karib-karib saya. Sejenak tubuh saya sepenuhnya di dalam air. Tahu apa yang saya pikirkan, Pak Menteri ?

“Saya akan mati…saya akan mati…”

Begitu saya jejakkan kaki di dasar laut, maka nongollah kepala saya di permukaan, di sambut ketawa ketiga karib saya. Kejadian itu tak akan pernah saya lupakan, Pak Menteri. Sungguh.

Jadi saya tak bisa membayangkan orang-orang di Majene, di hari celaka itu, ketika KM Teratai karam.

Saya kok ragu, Pak Menteri pernah mendengar nama kapal ini. Nah, ini saya ambilkan dari berita :

Disertifikat tercantum, KM.Teratai Prima Kosong, tahun pembangunan 1999, panjang 50,4 meter, lebar 9,36 meter dan kedalaman 3,75 meter. KM. Teratai Prima Kosong memiliki Tonase Kotor GT 747 sementara Tonase Bersih MT 225 dengan daya mesin berkekuatan 2×520 PK….”(Surya Online, 12 Januari 2009)

Tahukah, Pak Menteri, bahwa kapal ini tak bersertifikasi dari Biro Klasifikasi….? OMG PDA…O My God Please Dong Ahhhh…

Yang lebih konyol lagi, bagaimana mungkin staff Bapak mengatakan ini di koran yang sama…?

“Sementara itu, Kepala Seksi Penjagaan dan Keselamatan Kantor Administrator Pelabuhan Samarinda, Helmin mengakui, pergantian mesin KM.Teratai Prima Kosong dari 2×1500 PK menjadi 2×520 PK itu tidak mempengaruhi ketahanan dan daya angkut kapal.

“Pergantian mesin itu hanya berpengaruh pada kecepatan dan tidak mengganggu keamanan dan keselamatan kapal itu,” ujar Helmin.”

GUBRAK….!!!!!!!!! *&%$#@ Ingin rasanya saya ditelan bumi saat ini juga, Pak Mentri. Dari 3000 HP menjadi 1040 HP. Dari marine use menjadi land use (Konon mesinnya diganti mesin mobil Mitsubishi…Tronton 22 ban, eh…?).

Di tempat saya bekerja, Pak Menteri, kami mengoperasikan kapal yang juga bisa mengangkut hingga 200 orang, masih ditambah barang-barang. Tapi kapal kami berdaya 10,000 HP, hingga kami merasa aman melawan ombak di buruknya cuaca.

Ada baiknya Pak Menteri sejenak turun dari singgasana yang empuk. Barangkali dimulai dari orang-orang di gedung sendiri. Yang sekali cap Rp 5 juta itu. Yang pernah “malak” rekan saya senilai ribuan dollar itu. Yang baca koran itu. Yang nongkrong di kantin itu. Yang cekakak cekikik itu. Setelah itu panjangkanlah tangan Pak Menteri…ke Adpel-adpel, di daerah-daerah…membersihkan fulus-fulus…

Nah, apakah perlu saya ceburkan Pak Menteri dari kapal…? Tanpa lifejacket…? Agar Pak Menteri punya ’sedikit’ empati..itupun jika Pak Menteri masih punya hati…


Responses

  1. Setuju mba anna, cemplungin aja, kalo perlu sampe ke kroco2nya tenggelamin biar rasa!! Yg aku heran mba, makhluk2 yg bertengger di pemerintahan itu semuanya gak punya kemaluan?? kalo salah gak pernah ada yg gentle blg salah tapi kalo minta sesuatu walo kadang bukan haknya huaaaaaaaa rebutan, sikut2an…pantaslah kalo negara ini masih tetep amburadul.

  2. wah menarik mbak ana.
    kalo kapal dari 3000HP diganti 1000hp bisa berjalan dengan baik dan tanpa mengganggu keamanan kapal, mending kapal itu mesinnya di ganti aja dengan sarung yang di buat layar.
    nanti kan jalan juga.
    kwakakakakakaaa

    boleh aja, asal jangan sarung Bapak Doktor yang satu ini, soale sak kapal iso semaput kabeh saking apek-e wakakakakakakak

  3. Ikut gabung dunk..
    Salam Kenal..
    Mba Ana boleh share dunk FPSO Prosedur, saya baru sekali di dunia ini..
    Terimakasi

    Sudah tak tanggapi via japri yaaa…

  4. Great blog,

    betul, masak mesin 3000 HP diganti 1040 HP, non-marine use pula, yg notabene tidak tergolong contiunous duty…. hiks..

    yg lebih parah lagi tidak berklas… hiks..
    yg berklas aja harus naik dok tiap tahun..
    sedihnya liat industri dunia maritim di indonesia.. hiks…


Leave a response

Your response:

Categories