
Nah, Pak. Mari kita duduk sebentar. Sebentar saja. Semampang orang masih terkaget dengan apa yang barusan terjadi.
Apakah bapak tahu karbit? Kalsium karbida. CaC2. Tak usahlah saya berurai dengan reaksi kimia yang membentuknya, karena saya tak ahli perkara itu. Bapak tahu. Las karbit. Buah di-karbit. Balon juga bisa di-karbit. Dan sekarang kita disini juga akan berbicara tentang perkara karbit, karbitan, dan sejenisnya, meskipun dalam konteks yang lebih humanis. Halah. Rasanya Bapak tidak pernah mengucap “halah…” kepada kami semua. Pasti lucu sekali seandainya pernah…
Bapak pernah melihat las karbit…? Panaskah….? Memang benar-benar panas. Karbit yang kita bicarakan juga sama panasnya. Lebih panas, bahkan. Bisakah Bapak membedakan buah karbit dengan buah matang di pohon? Tidak…? Nah. Bapak baru dapat meresapnya ketika Bapak mulai menggigit. Dan sering sesal baru terbit saat ini. Balon karbit…? Dengan karbit sebuah balon bisa membumbung tinggi, meninggalkan balon lesu di bawah sana, memandang banyak hal yang masih awam baginya. Dan ketika karbit perlahan lenyap, maka ia akan jatuh dari tinggi, kembali pada kelesuan. Pasti sakit rasanya.
Adalah naïf jika untuk semua kekacauan tingkat bawah ini Bapak hanya punya jawaban:”daripada ndak diisi…” atau “mengutamakan orang dalam…” Sebuah jabatan tak sebatas perkara gajian. Tak pula sebatas kedekatan. Ada tanggung jawab. Dan di dalamnya ia membawa respek, apresiasi, ilmu, sekaligus sejarah. Ia tak melulu nasib baik. Apalagi kebetulan. Karena ia layak diperjuangkan.
Barangkali saya iri. Mungkin dengki. Persetan. Saya tak sendiri. Tapi dengan iri saya ingatkan Bapak. Dengan dengki saya coba bawa ini ke jalurnya. Sayangnya, jalur lurus lempeng tak berlubang serta mulus ternyata hanya ada di buku biru. Buku biru yang awal tahun lalu dibagikan. Silahkan dibaca. Silahkan dimengerti. Tapi jangan berharap banyak kepadanya.
Jadi, analogi manakah yang sesuai? Las karbit? Buah karbit? Atau balon karbit? Bapak tak usah repot. Karena ia lebih buruk dari semua.