Posted by: annaherdianto | March 14, 2008

Minyak dan Kemladean

benalu.jpg

Mungkin tidak ada hubungannya.

Anda tahu kemladean…? Ini adalah semacam tumbuhan parasit, ia mengambil jatah makan dari pohon induknya. Daunnya ada yang menjuntai, sekilas terlihat indah dan bisa disangka tanaman hias. Ia biasa ditemukan pada tanaman kayu keras : jambu, rambutan, petai, dan lain-lain. Kadang berguna juga untuk pengobatan.

Entah karena hobby kawan saya yang sudah kelewatan atau karena saya yang tidak sempat membaca berita, tempo hari kawan saya itu mem-forward berita tentang diusulkannya penggantian Kardaya Warnika, Kepala BPMIGAS saat ini, oleh Menteri ESDM (Sejak kapan Menteri mengusulkan penggantian Kepala BPMIGAS? Seingat saya ini wewenang Presiden :) ). Sebabnya gampang dimaklumi : penurunan produksi minyak dalam negeri. Kinerja BPMIGAS dinilai tidak bagus.

Ah, saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan itu semua. Tapi karena saya mengais rejeki dari sektor migas juga, maka mau tidak mau saya saya jadi tertarik juga.

Ada banyak usulan mengenai penilaian kinerja BPMIGAS : produksi minyak, cost recovery, rasio revenue to cost, jumlah investasi, dan lain sebagainya. Yang jelas semuanya berupa data statistik. Tapi statistik tinggallah statistik. Entah para pengambil keputusan yang terhormat tidak tahu statistik atau justru kelewat tahu, data ini tinggallah alasan, dicomot mana yang sekiranya paling justified di mata awam, sedang alasan sebenarnya…entahlah.

Rasanya sudah jadi pengetahuan umum kalau para petinggi negara dipilih bukan berdasarkan kinerja. Para Menteri, Kepala Badan-badan Negara, juga BUMN. Banyak hal : jumlah setoran, kedekatan, dan lain-lain. Ah, dimana-mana juga sama saja bukan? Pengambilan data statistik barangkali cuma biar kelihatan intelek, dan ada Key Performance Indicator-nya. Mungkin pemilihan Rektor PTN berstatus BHMN saja yang bersih dari beginian :) Tapi tidak tahu juga, dhing….

Ah, entahlah. Saya kok menganggap para pengambil keputusan yang terhormat ini seperti kemladean saja, parasit bagi negara. Tidak ada mereka, rasanya Negara akan baik-baik saja.

Saya memang bukan warganegara yang baik. Dulu, pada Pemilu pertama saya, saya bela-belain pulang dari Surabaya hanya untuk mencoblos partai yang saya percaya, karena saya terdaftar di kampung. Setelah Pemilu, keyakinan saya jadi tidak jelas lagi, mungkin rasanya seperti krupuk yang kecemplung jangan gori : mlempem, tak renyah lagi, dan asem. Sejak saat itu, saya tak pernah ikut Pemilu lagi: Presiden, DPR, apalagi Pilkada. Rasanya sayang kalau suara saya turut memberi makan pada para kemladean itu.

Kepada Pak Kardaya, kenapa tidak bilang saja : “Ora patheken…?”

Sweet Nancy was so fancy
To get into her pantry
Had to be the aristocracy
The members that she toyed with
At her city club
Were something in diplomacy
So we put her on the hit list
Of a common cunning linguist
A master of many tongues
And now she eases gently
From her Austin to her Bentley
Suddenly she feels so young

(Knocking at Your Backdoor – Deep Purple)

Note : gambar diambil dari www.iptek.net.id

Posted by: annaherdianto | March 12, 2008

Habitability Notation untuk Floating Installations

petrobras.jpg

Mungkin ini cerita basi. Tapi karena saya baru mengetahuinya, ya tidak basi buat saya :)

Berawal dari keisengan saya keluyuran di situsnya ABS. Dari berita lama mereka saya ketahui bahwa Rig Soehanah (milik Apexindo) merupakan MODU pertama yang mendapat notasi HAB+ dari ABS. Penasaran, saya kulik apa itu HAB.

Pada tahun 2002, ABS rupanya telah mengeluarkan Guide for Crew Habitability on Offshore Installation. Selain itu, mereka juga mengeluarkan Guide for Crew Habitability on Ships. Penerapan guide ini diharapkan dapat mengurangi crew featigue serta meningkatkan crew retention, baik di floating installation maupun di kapal.

Manurut ABS, habitability didefinisikan sebagai acceptability of conditions of an offshore installation in terms of vibration, noise, indoor climate, and lighting, as well as physical and spatial characteristics, according to prevailing research and standards for human efficiency and comfort.

Untuk mendapatkan notasi HAB, terdapat 5 kriteria yang dinilai, yaitu :

  • accommodations design,
  • human whole-body vibration,
  • noise,
  • indoor climate,
  • lighting

Sedangkan untuk mendapatkan notasi HAB+, kriteria yang lebih ketat diaplikasikan pada kriteria vibration dan indoor climate.

Floating installations sendiri termasuk namun tidak terbatas pada : Tension Leg Paltform (TLP), Spar Buoy, Semi Submersibles, serta Permanently Moored Shipshape Hulls (FPSO, FSO, FPO).

Saya pribadi sepakat dengan adanya guide ini. Bukannya apa, karena menurut saya, bekerja di floating installations itu tidak enak. Meskipun banyak juga yang bilang enak: on-off tiap 2 minggu (tergantung kebijakan masing-masing perusahaan), kompensasi yang jelas lebih besar apabila dibandingkan dengan onshore, makanan yang sedap-sedap (jam 07.00 makan pagi, jam 10.00 coffee break, jam 12.00 makan siang, jam 15.00 coffee break lagi, sehabis magrib makan malam. Dan coffee break di sini berarti makan mie atau roti….), fasilitas hiburan dan kebugaran yang memadai, dan lain sebagainya.

Saya tidak bekerja di floating istallations, dan kalau saya ke sana status saya hanya sebagai visitor, paling lama 3 hari saya sudah pulang. Dan pada hari kedua, biasanya saya sudah ribut bertanya ke radio room, kapan ada crew boat yang bisa membawa saya segera cabut dari tempat itu he he he….

Kenyamanan bagi para crew di floating installation itu perlu. Mereka bekerja pada kondisi yang…well…boleh dibilang membutuhkan standart safety yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan onshore installation. Ketegangan atau stress bisa berdampak buruk pada mereka sendiri maupun fasilitas yang ada di sana.

Saya belum tahu, apakah biro klasifikasi lain sudah mempunyai guide seperti ini atau belum. Tapi bagaimana dengan floating installations kita..? Saya check notasi FPSO Belanak Natuna, floating installation paling keren yang ada di Indonesia, well…ternyata belum ada.

Tapi, kalau sudah comply dengan peraturan itu, apakah saya masih boleh mendengarkan Deep Purple di atas FSO lagi..? Haiyyahhh….ora ono hubungane blasss….

Posted by: annaherdianto | March 4, 2008

Namanya Aryati

love-cartoon.png

Entah kenapa, saya tiba-tiba teringat kepadanya ketika berpapasan dengan serombongan anak SMP.

Namanya Aryati, teman saya jaman SMP, sekitar tahun 1993 – 1994. Sebuah SMP di kaki bukit kapur, sebagai bagian dari rentengan Pegunungan Seribu. Gedungnya bekas tangsi Belanda, temboknya tebal, jendelanya besar-besar, plafonnya begitu tinggi. Bahkan ketika saya kelas 2, ada kalong yang membikin sarang tepat di atas bangku saya, membuat saya harus membersihkan kotorannya tiap pagi. Tapi bukan sembarang SMP, karena hanya anak dengan ijazah rata-rata min. 8.5 saja yang bisa masuk ke sini…ha ha ha…jadi lucu kalau mengingatnya.

Kembali ke Aryati. Dia masuk ke SMP kami ketika saya kelas 2. Dia berasal dari lain sekolahan lain pulau, jauh. Kedatangannya langsung membuat heboh seantero sekolahan. Karena ia memakai rok sekian senti di atas lutut. Kulitnya kuning langsat, mulus. Rambutnya berombak. Dan tubuhnya bongsor, lebih cocok jadi anak SMA. Ia langsung populer, tentu saja. Dan saya boleh dibilang tidak mengenalnya. 

Ketika kelas 3, ia sekelas dengan saya. Dan saya tetap tidak mengenalnya. Ah, coba bayangkan : anak-minderan-umbelen-sentrap-sentrup-undlap-undlup-yang-tiap istirahat-hanya-berdiam-di-dalam-kelas-membaca-buku-paket-ini ya mana mungkin bergaul dengan kembang sekolahan. Bahkan Tony, si hitam manis idola para cewek (dan diam-diam saya juga naksir dia), pernah mengatakan bahwa saya wagu :) Tapi tak apa, untuk orang ganteng semua dosa termaafkan. Lagipula, dia memang cukup dekat dengan saya :)

Aryati ini ternyata sering tidak masuk sekolah, dengan berbagai alasan. Berbagai kabar tak enak pun muncul. Tapi saya tetap tidak mengerti. Suatu kali, ketika jam istirahat, di depan Ruang BP, ketika saya sedang terbengong sendirian di kursi kayu panjang, ia datang dan langsung duduk di dekat saya.

“Kamu pernah minum ini…?” ia menunjukkan apa yang ada di genggaman tangannya, beberapa pil putih. Wah…

“Enggak..apa itu?”

“Pil tidur…”

Saya tetap tidak mengerti. Ce-Te-eM barangkali ya? Dan tanpa diminta, ia kemudian bercerita, panjang lebar, kepada saya yang hampir tidak dikenalnya, si anak wagu ini.

Orang tuanya bercerai. Ia ikut Bapaknya. Bapaknya adalah seorang tentara. Luar biasa galak, katanya. Tangan dan kaki gampang melayang. Dan kalau Aryati tidak masuk sekolah, itu karena habis dihajar Bapaknya. Atau minggat, beberapa kali. Mengenal alkohol dan pil tidur (Glek…!!!) dari teman-teman berandalnya, karena rumahnya dekat terminal. Dan ketika ia bercerita seperti itu, satu per satu ia minum pil tadi dengan Sprite yang memang sejak tadi dibawanya. Kemudian ia berlalu, entah kemana. Meninggalkan saya masih dalam posisi semula : terbengong dan tak percaya.

Ah, dia sedang ngibul, barangkali. Pikir saya waktu itu. Mana mungkin anak SMP mengenal itu semua, itu dunia orang dewasa. Biar dibilang keren, apa ya…Mungkin yang diminumnya tadi vitamin IPI. Dan mengapa pula ia bercerita seperti itu kepada saya, yang hampir-hampir tidak dikenalnya…?

Saya melupakan kejadian itu begitu saja. Beberapa hari kemudian, ia tidak masuk lagi. Ah, sudah biasa. Yang tidak biasa, ada kawan membawa kabar dari guru BP bahwa Aryati dibawa ke UGD Rumah Sakit karena kolaps. Tidak sadarkan diri. Entah apa maksudnya. Kabar lain bilang, ia overdosis. Tidak jelas overdosis apa. Tiba-tiba saya teringat dengan insiden kecil di depan ruang BP itu. Dan kalau saya lebih mengingat lagi, saya baru sadar, ada kaca-kaca retak di mata Aryati…Waktu itu…

Sejak saat itu, ia jadi agak pendiam. Dan, aneh, jadi agak dekat dengan saya. Sering bertanya tentang pelajaran, pinjam catatan, dan sebagainya. Tapi ia tak pernah bercerita lagi tentang keluarganya. Saya tidak begitu memperhatikannya lagi, karena Ebtanas segera datang.

Ketika SMA, saya tak satu sekolah lagi dengan Aryati, entah kemana ia melanjutkan. Ketika kelas 2, saya mendapat kabar bahwa Aryati tak sekolah lagi. Karena ia keburu hamil. Entah dengan siapa pula. Saya kira itu bukan urusan saya.

Ah, Aryati. Engkau membuatku malu. Seusia muda begitu engkau sudah menanggung banyak kepedihan. Sedang aku, dengan “sedikit kekerasan” saja sudah berkoar kemana-mana, mengumbar “kepedihan”…betapa aku tak bersyukur, bahwa aku jauh lebih beruntung daripada kamu…

Posted by: annaherdianto | March 3, 2008

Putus Kontrak dan Etika Bisnis

edda3-survey-vessel.jpg

Tempo hari saya bertemu teman cangkruk saya.

“He koen lak sekolah eM-eM seh…?”kawan saya bertanya

“Yo…trus la po…?”

“Entuk Bussiness Ethics gak…?”

“Entuk..tapi lagi sepisan…wis ngono tak tinggal chatting dosen-e”

“J****k…”saya dipisuhi, lagi,”kapan-kapan digatekno…aku arep takok…”

Usut-punya usut, ternyata kawan saya itu lagi pusing. Jadi begini ceritanya : dia sewa kapal dari sebuah perusahaan, eh ujug-ujug mak bedunduk, pemilik kapal memutus kontrak secara sepihak, merelakan performance bond dicairkan, lalu berpindah ke tempat lain. Sebagai catatan, kawan saya itu bekerja di sebuah perusahaan minyak. Dan kapal itu tadi berpindah ke perusahaan minyak lain. Tindakan (perusahaan) kawan saya? Apa boleh buat, hanya bisa mem-black list-nya.

Dia memang layak pusing. Di tengah kondisi susahnya mencari offshore support vessel, putus kontrak secara mendadak dengan berbagai alasan akan sangat terasa akibatnya bagi operasional perusahaan. Ini bukan yang pertama, saya pikir. Saya sendiri beberapa kali mengalami kerepotan gara-gara pemenang tender tidak dapat menyediakan kapal sebagaimana dijanjikan, karena belum adanya kesepakatan dengan partner mereka.

Lalu, mesti bagaimana? Kawan saya itu bercerita, harga sewa kapal itu memang relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang lainnya, karena ada penalty akibat keterlambatan delivery. Mau dibawa ke arbitrase kok rasanya sulit, dia bilang. Dia mencurigai bahwa ini adalah permainan sementara pihak. Ah, saya bilang, tak usah curiga segala, karena kenyataannya memang sering begitu :) Cukup didoakan saja, semoga orang-orang yang terlibat segera insaf, bahwa mereka sedang bancakan uang Negara.

Menaikkan performance bond? Well, rasanya susah. Kawan saya yang lain yang orang procurement bilang, besarnya performance bond berkisar antara 5%-10%, tergantung tingkat resiko pekerjaan. Setelah berhitung, mungkin pemilik kapal tadi merasa bahwa tempat lain akan lebih menguntungkan meskipun ia kehilangan performance bond-nya. Citra…? Itu urusan belakangan. Karena si pemilik adalah perusahaan besar yang kapalnya pating tlecek koyo telek di seantero Nusantara. Lagipula, tingginya performance bond akan menurunkan minat para bidder, selain mereka akan menaikkan harga sewa kapalnya.   

Blacklist..? Sepertinya tidak akan berpengaruh banyak pada pemilik kapal, karena ia hanya di-blacklist di perusahaan kawan saya itu. Sedangkan di perusahaan minyak lain yang beroperasi di Indonesia, dia akan tetap bisa eksis. Hal ini juga terkait dengan terbatasnya jumlah offshore support vessel di dalam negeri.

Melaporkan ke KPK…? Bisakah…? Sekedar mengingatkan, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka memproduksikan minyak dan gas (Syarat dan ketentuan berlaku. Halah), akan ditagihkan kembali ke Negara dalam bentuk cost recovery. Nah, putus kontrak semaunya sendiri ini berpotensi untuk dapat merugikan Negara, karena dengan begitu operasional menjadi terhambat, produksi migas terganggu, dan bisa saja lapangan di-shut down. Halah-halah…cek adohe he he he…

Bagaimana jika BPMIGAS yang mengatur kontrak…? Dalam artian begini, BPMIGAS yang melakukan tender, kemudian kapal-kapal yang ditenderkan dialokasikan ke perusahaan-perusahaan migas sesuai dengan kebutuhannya. Dengan begitu, kontrol kontrak, biaya sewa, dan sebagainya ada pada BPMIGAS. Apabila ada yang mbalelo, maka ketentuan blacklist berlaku di semua perusahaan migas di Indonesia. Dengan begitu, tidak ada ceritanya bajak-membajak antar perusahan migas.

Tapi mengingat mental para pejabat perusahaan plat merah, rasanya kok hal itu seperti saya jadi lawan mainnya Ralph Fiennes (alias ngayal-red).

Lho…lalu apa hubungannya dengan etika bisnis…? Yang itu lain kali saja he he he…

Posted by: annaherdianto | February 19, 2008

Sekolahan Adik Saya

tiga-monyet.gif 

Saya punya 2 adik : satu adik kandung dan satunya lagi adik angkat, dua-duanya laki-laki. Dan komplitlah keluarga besar saya, 3 Mas + 2 adik, yang semuanya laki-laki. Adik kandung saya entah dapat mukjizat dari mana memutuskan untuk menjadi guru, ya guru, guru SD pula. Mengingat betapa mengerikannya penampilan adik saya itu dan reputasinya sebagai seorang yang disegani para preman terminal, membuat saya “shock” ketika  membaca SMSnya, mengabarkan bahwa ia sekarang mengajar Bahasa Ingrris untuk anak SD. Ah, semoga ia bisa menjadi guru yang baik.

Itu adik kandung saya. Cerita adik angkat saya lain lagi. Ia adalah seorang yatim piatu. Setiap bulan saya mengirimkan sejumlah uang untuk biaya pendidikannya, karena itu memang sudah janji saya. Dan setiap kali ia ‘melaporkan pengeluarannya’, saya selalu terbengong-bengong.

“Mbak, yang kemaren itu buat beli LKS (Lembar Kerja Siswa, kalau tidak salah..)”

“Lho…bukannya kemaren sudah beli..”

“Lain lagi, itu kan buat cawu kemaren..Setiap cawu ganti..”, Lha….

“Enggak bisa pinjam kakak kelas?”

“Enggak bisa. Kan pertanyaannya beda-beda. Terus jawaban ditulis di LKS”, Lho…

“Trus, bulan depan piknik…Ke Jakarta. Mesti ikut. Kalo nggak ikut enggak bisa ikut ujian,” Wah….

“Seragam mesti beli di sekolah..”, Tambahnya suatu kali.

“Lha..yang tahun kemaren mahal, lebih mahal daripada beli jadi. Kayak saringan tahu pula,”

“Enggak tahu. Pokoknya mesti beli di sekolah,”

Dan tinggallah saya garuk-garuk kepala.

Saya tidak habis pikir, banyak sekali pengeluaran untuk anak sekolah jaman sekarang. Dari buku yang selalu berganti tiap tahun ajaran sampai kewajiban untuk ikut ‘piknik’. Dan kewajiban ‘piknik’ ini bukan sekedar ancaman, karena anak tetangga saya di kampung benar-benar tidak boleh ikut ujian karena tidak mampu ikut ‘piknik’.

Seingat saya, dulu jaman saya sekolah ada yang namanya ‘buku paket’, terbitan Balai Pustaka. Bukunya lecek, tebal, dan komplit sekali. Buku itu dipinjamkan oleh perpustakaan, sebagai buku pegangan wajib, dan harus dikembalikan ketika tahun ajaran berakhir, untuk digunakan angkatan berikutnya. Buku lain hanya sebagai tambahan dan tidak ada kewajiban untuk membelinya.

Dulu acara ‘piknik’ juga bukan merupakan suatu kewajiban. Ikut lebih baik, ndak bisa ikut ya monggo. Seragam hanya dibagikan untuk siswa baru. Memang ada SPP, tapi pengeluaran wajib hanya untuk itu saja. LKS juga ada, tapi kami bisa meminjam dari kakak kelas dan LKS ini untuk long term.

Saya kok tidak sepenuhnya percaya kalau kehidupan para guru sekarang masih memprihatinkan. Tetangga saya di kampung yang berprofesi sebagai guru, pasti punya kendaraan bermotor, setidaknya sepeda motor. Rumah dan perabotan bagus-bagus. Anak-anak kuliah di PT yang baik. Malah ada tetangga saya yang guru SMP mampu membelikan anaknya yang baru kelas 1 SMA sebuah laptop keren. Bayangkan dengan saya yang jaman kuliah dulu masih menggunakan 233 MMX ha ha ha…

Bukan bermaksud menghakimi atau apa. Adik angkat saya itu bersekolah di SMU Negeri 1 sebuah kota kecamatan di pelosok Jawa Tengah sana. Dimana masyarakatnya masih sangat bergantung pada hasil bumi dan setoran sanak saudara yang merantau, seperti saya ini. Banyak anak putus sekolah dengan masalah klasik : ketiadaan biaya. Memang, SPP tak ada lagi, kalaupun ada, itu tak sesignifikan beberapa tahun yang lalu. Tapi, masih ada uang gedung, seragam, buku, ‘piknik’, dan perintilan lainnya.

Bagaimana jadinya kalau para guru ikut “mroyek”?Mengapa alokasi APBN untuk pendidikan demikian kecil..?Bukankah pendidikan adalah tempat yang tepat untuk memutus lingkaran setan segala kesemrawutan negeri ini..?

Ha ha ha….pertanyaan retoris…lagi….Dan Anda tidak perlu menjawabnya….

Posted by: annaherdianto | February 14, 2008

Belajar : Liquefied Natural Gas Ship

Melanjutkan catatan kemarin.

Ehm…

Saat ini, terdapat sekitar 20 desain containment system LNG yang telah dipatentkan, dan kebanyakan diantaranya merupakan kategori membran serta independent tank (self supporting).

Secara umum, dapat dibagi sebagai berikut :

1. Self-Supporting (Independent Tank)

  • Type A

 Kapal-kapal LNG pada awalnya menggunakan type ini, seperti “Methane Princess” dan “Methane Progress”. Self-supporting tank-nya terbuat dari alluminium alloy dan balsa wood insulation system dilekatkan pada bagian inner hull yang berfungsi sebagai secondary barrier.

  • Type B

- Moss Type (Spherical)

Desain ini dikembangkan oleh Kvaerner-Moss group. Tank terbuat dari aluminuim alloy atau 9% nickel steel.  

moss-spherical.jpg

- SPB type (Prismatic)

Dikembangkan oleh Ishikawajima-Harima Heavy Industry (IHI), lebih dikenal dengan sebutan IHI-SPB, merupakan jenis semi-membrane tank. Tankinya dibuat dari Alluminium alloy dan jenis isolasi yang digunakan adalah polyurethane foam. Namun, pada perkembangan selanjutnya digunakan juga balsa wood, PVC, plywood, serta fiberglass.

spb-inside-view.jpg

2. Membrane

Pada saat ini terdapat 4 desain membrane tank, 3 didesain oleh GTT (Gaz Transport and Technigaz) sedang 1 desain lagi dikembangkan oleh KOGAS.

GTT menggunakan 36% nickel-iron alloy yang dinamakan “invar’ untuk primary dan secondary barrier. Sistem isolasi pada invar tank terdiri atas 2 lapisan membran invar yang dipisahkan oleh sekat-sekat kayu dan diisi dengan pearlite.

Type lain yang diperkenalkan oleh GTT adalah corrugated membrane, dimana isolasinya terdiri atas dua lapisan polyurethane yang dipisahkan oleh lapisan-lapisan membran triplex serta fiberglass dan aluminium. Triplex berfungsi sebagai secondary barrier, dimana primary barriernya dibuat dari corrugated stainless steel.

Katanya IHI, pada SPB tidak diperlukan kontrol terhadap perbedaan tekanan antara hold space dengan tangki. Sedangkan pada membrane dan moss, kontrol ini diperlukan karena dua type ini sangat sensitif terhadap perbedaan tekanan.

IHI mengklaim keuntungan SPB sebagai berikut :

  • Konsumsi bahan bakar lebih sedikit. Karena bentuk lambung yang lebih compact (kayak bedak saja :) ), maka horse power yang digunakan juga lebih kecil,
  • Cargo yang dibawa lebih banyak,
  • Waktu down time lebih pendek. Karena lebih tahan terhadap cuaca dan waktu yang dibutuhkan untuk dry dock juga lebih singkat,
  • Biaya perawatan lebih murah,
  • Lebih mudah dioperasikan

Hah….tetep wae ora mudheng… &^%$*#!!

Sumber :

Ship Construction 6th Edition - D J Eyres, Butterworth-Heinemann

Transportasi LNG Indonesia – Soegiono & Ketut Buda Artana

Bureau Veritas Gas Tanker Seminar Hamburg 2007

www.ihi.co.jp

Next episode : Propulsion for LNG Ship

                

Posted by: annaherdianto | February 12, 2008

Kumpulan Para Istri

office-romance.jpg

Postingan ini terinspirasi dari undangan “ARISAN” yang dititipkan oleh sekretaris big boss kepada saya, untuk diserahkan kepada boss saya, dan kemudian boss saya akan menyampaikannya kepada istrinya :)

Seperti pernah saya bilang, sejak di perusahaan tempat saya kerja dulu dan kantor saya sekarang, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di departemen saya. Dan saya sedang tidak bercerita tentang rekan-rekan kerja saya, tapi tentang istri-istri mereka.

Apakah di kantor Anda ada perkumpulan semacam “Dharma Wanita”?. Di kantor saya ada. Dan Anda jangan heran jika para boss keluar dari camry keren mereka dengan didampingi oleh para ibu yang lebih-keren-dari-camry si Bapak : itu istri mereka. Dan jangan heran pula apabila mereka datang berdua tiap hari. Saya sampai heran, dengan siapa anak mereka di rumah? Bukankah konon menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan yang tidak mudah?Atau apakah mereka sedang berusaha mencari pilihan lain?Saya pernah mencuri dengar, bahwa perkumpulan itu salah satunya adalah dalam rangka “Mewaspadai Bapak di Kantor. Kita harus waspada…” Busssseeeetttttttt……!!!

Tapi rasanya mereka memang perlu waspada, karena saya tahu betul kelakuan rekan-rekan saya. Salah satu rekan saya dulu malah selalu melepaskan cincin kawinnya begitu mobil telah melewati tikungan dekat rumah ha ha…Lalu, apa ya yang ada di benak para Ibu itu…? Yang dengan bangganya saling bercerita bahwa betapa sayangnya para suami kepada mereka, dan kemudian pamer bahwa kemarin baru dioleh-olehi tas dari Yurep, yang mendengar harganya saja bisa membuat saya langsung semaput?. Anda boleh percaya boleh tidak, angka perceraian di kantor saya cukup tinggi, begitu juga dengan poligami.

Karena saya tidak pernah nyaman berada di komunitas itu, dan karena (yang sebenarnya) saya tak akan pernah bisa berpenampilan keren seperti mereka, maka saya tak pernah dekat-dekat dengan perkumpulan itu. Itulah mengapa istri bos saya tidak pernah bisa mengenali saya. Pernah, ketika saya sedang frustasi mengerjakan apa yang sedang dititahkan boss, datang seorang perempuan berkebaya, yang dengan pongahnya bertanya, “Bapak dimana…?”, komplet dengan mendongakkan dagunya.

Lha…Untuk sekejap saya takjub, dan terbengong. Dan saya memang tetap terbengong, sambil mendengarkan suara iblis yang entah-bersarang-di-bagian-mana-di-otak-saya,”Hey, lihatlah, badut itu bertanya padamu. Dia menanyakan suaminya. Lalu, dimanakah suaminya? Lihatlah, ia pasti menghabiskan sepanjang pagi ini untuk blasting, coating, dan memberi selapis anti fouling pada wajahnya. Dan menyakiti diri dengan menyasak rambut memakai sisir yang mengerikan itu. Dan engkau akan melihat crack di wajahnya yang brittle itu, manakala ia tertawa, dengan mata telanjang, tanpa perlu colour check lagi. Dan buat apa ia melakukan semua itu? Dimanakah suaminya? Apakah mereka berkomunikasi dengan daun lontar? Bukankah di clutch bag kerennya itu ada gadget seharga tiga kali gajimu, yang hanya digunakan untuk tilpun dan sms…?” Saya belum sempat berkata apa-apa, karena perempuan tadi kemudian pergi.

Dengan mengingat bahwa kemungkinan besar dia adalah istri salah satu boss, maka saya memilih untuk diam saja. Anda jangan pernah meremehkan ‘kekuatan’ mereka, apalagi jika para suami mereka adalah anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri-red). Saya punya teman kantor, cantik, sangat cantik bahkan. Janda pula. Ia dilempar ke sana ke mari karena ‘ada kekuatiran sementara pihak bahwa ia akan mengganggu stabilitas rumah tangga orang lain’.

Ah, itu karena saya jadi korban. Saya sebenarnya bisa jadi pelaku juga.

Sebulan sekali, saya akan mendapatkan undangan “ARISAN” dari kantor suami saya. Tapi saya tidak pernah bisa menghadirinya karena acara itu selalu dilakukan pada hari Jum’at. Tapi, pernah juga saya bertemu dengan para istri rekan suami saya. Suasananya tidak jauh berbeda. Obrolannya seputar : kain sutra X harganya mahal, loh….Berlian yang ini bisa dicicil loh, Jeng…Suami saya kemarin ke China, dsb. Wah…Saya cuma bisa ndlongop. Sejak itu saya bersumpah, saya harus lebih giat belajar membuat cake, agar setidaknya saya bisa berkomentar bahwa untuk mengembangkan bolu kukus tidak perlu selalu menggunakan air soda. 

Dan menariknya, ada saat dimana saya menjadi sadar, bahwa sangat beralasan apabila para Ibu itu perlu ‘waspada’ :) Tapi, saya cuma punya satu kepala, dua tangan, serta dua kaki. Saya juga tidak punya indera-indera yang spesial, semuanya wajar-wajar saya. Selain itu, bersikap curiga terus-menerus akan membuat saya semakin rajin mengunjungi internist saya. Dan hal itu semakin diperparah dengan kenyataan bahwa suami saya lumayan ganteng :)

Saya hanya bisa bilang begini kepada suami saya, “Terserah kamu mau ngapain. Sama perempuan lain. Asal aku tidak mengetahuinya…..”

Lalu, saya musti bagaimana lagi..?

Posted by: annaherdianto | February 11, 2008

Regulasi di Kapal

seismic-vessel.jpg 

Anda punya tambahan untuk yang ini nggak…? Rasanya kok masih banyak yang kurang ya…? Tapi saya sudah mentok he he he….

Konvensi-konvensi IMO :

o   International Safety of Life at Sea (SOLAS 1974)

o   International Convention for the Prevention of Pollution from Ship (MARPOL 73/78)

o   International Regulation for Preventing Collision at Sea (COLREG 72)

o   International Convention on Standard of Training Certification and Watch Keeping for Seafarer (STCW 1995)

o   International Convention on Load Line (ILLC 66)

o   International Convention on Tonnage Measurement (Tonnage 1969)  

o   International Convention of Marine Search and Rescue (SAR 1979)

o   Convention on International Maritime Satellite Organization (INMARSAT 78), bagi kapal-kapal yang menggunakan satelit

Codes yang dikeluarkan oleh IMO:

o   International Life Saving Appliances (LSA Code)

o   International Code for Fire Safety System (FSS Code)

o   International Code of Signal,

o   International Safety Management Code,

o   ISPS Code   

Konvensi-konvensi Badan Dunia yang Lain

o   Merchant Shipping (ILO Conv 147)

Untuk jenis kapal berikut ini, selain peraturan di atas diberlakukan pula :

o   Oil Tanker

§  International Convention on Civil Liability Convention for Oil Pollution Damage (CLC 1969),dikeluarkan oleh IMO

§  Prevention of Oil Spillage trough Pump Room Sea Valves, dikeluarkan oleh International Chamber of Shipping (ICS) & OCIMF,

§  International Safety Guide for Oil Tanker and Terminals (ISGOTT), dikeluarkan oleh ICS, OCIMF, dan International Asoociation Port and Harbour),

§  Crude Oil Washing System (COW), dikeluarkan oleh IMO

o   Gas Carrier

§  International Gas Carrier Code (IGC Code), dikeluarkan oleh IMO

§  Safety in Liquefied Gas Tanker, dikeluarkan oleh IMO

o   Kapal dengan Landasan Helicopter

§  Guide to Helicopter Ship Operation, dikeluarkan oleh ICS

Badan Klasifikasi

·         Hull & Machineries,  

·         Lifting Appliances 

Flag State

·         UU No 21 tahun 1992 tentang Pelayaran,

·         PP No 51 tahun 2002 tentang Perkapalan,

·         PP No 7 tahun 2000 tentang Kepelautan,

·         Inpres No 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional,

·         KM 66 tahun 2005 tentang Pengoperasian Kapal Tangki Minyak Lambung Tunggal  (Single Hull)

Dokumen yang dikeluarkan:

·         Surat tanda pendaftaran/kebangsaan (didasari oleh surat ukur dan Gross Akte,dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Laut)

·          Sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal (Ditjen Perhubungan Laut)

·         Paspor/Seamen Book/DAHSUSKIM bagi ABK WNA (Imigrasi)

·         Ijin Kerja Tenaga Asing (IKTA) (Depnakertrans)

·         Surat Ijin Berlayar (SIB) dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Laut

·         Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) 

·         Dispensasi Bendera 

Sepertinya masih ada beberapa regulasi Nasional yang belum ada, juga konvensi-konvensi yang belum diratifikasi. Ah, embuh…

Posted by: annaherdianto | February 5, 2008

Tentang Teman Laki-laki

friend-cartoon.jpg 

Ada beberapa film dan sinetron yang (kebetulan) pernah saya tonton, berceritakan tentang persahabatan yang akhirnya berujung pada percintaan.

Saya jadi teringat dengan sahabat-sahabat saya. Para sahabat lelaki saya.Ini cerita tentang mereka.

Saya ini perempuan anggun (anak nggunung-red), ndak pernah blusukan ke kota sebesar Surabaya sebelumnya. Dan jika pada akhirnya saya tersasar di jurusan Mesin Kapal, sepertinya Tuhan memang telah mempunyai rencana sendiri untuk saya. (Sayangnya Ia tak pernah memberitahu saya sebelumnya. Ia memang Maha Humoris). Dari 60 mahasiswa, ada 2 perempuan yang terselip, salah satunya saya.

Pengkaderan. Menakutkan, waktu itu. Tapi jika saya mengenangkannya sekarang, justru saya suka terbahak sendiri. Sungguh saya tak pernah menyesali apa yang pernah saya ikuti, waktu itu…

“Hey koen mlebu rene arep golek bojo thok ya…?” Ah, sialan :)

‘Didera siksa’ 3 hari di Cuban Talun, Malang, juga bisa menjadi sesuatu yang indah, ternyata. Makanya saya tidak pernah habis pikir, bagaimana bisa pengkaderan dihapuskan dari kampus saya…?

Saya bersahabat dengan dua orang teman kuliah, laki-laki. Saya : perempuan, Jawa, Muslim. Teman saya satunya : ksatria Bali, Hindu. Yang satunya lagi : blesteran Jawa-China, Kristen, dan (nggak penting sih) laki-laki paling ganteng kedua di kelas saya (setelah suami saya ha ha..).

Perbedaan itu tak jadi soal. Pernah, dua laki-laki ini langsung menghambur kepada saya, setelah melihat-lihat kaligrafi di Delta Plaza. Sambil berbisik-bisik, mereka bertanya, “Ka’bah itu kuburan Nabi Muhammad ya…?” Ha ha…Saya kira mau bertanya apa…Saya jawab singkat,”Bukan…”

Pernah juga, saat saya hendak mengambil kerupuk,teman saya yang China itu langsung memukul tangan saya,”Jangan, itu kulit babi…”

Karena teman Bali saya paling berpengalaman dalam hal film bokep, maka dialah yang paling rajin menyewa CD Bokep untuk kemudian digilir-pinjamkan kepada kami. Seringnya kami tonton bersama-sama:bertiga atau dengan teman yang lain. Karena selera kami berbeda-beda, maka saya dan teman China saya ngotot untuk ikut datang ke tempat penyewaan yang (gobloknya) milik adik salah satu dosen kami ha ha ha..

Saya adalah penyimpan rahasia bagi dua teman saya itu. Dengan siapa teman Bali saya kehilangan ‘keperjakaannya’, hanya kepada saya dia bercerita. Dari dia juga saya dapat quote favorite :”99% laki-laki kehilangan keperjakaannya di ‘tangan’ sendiri…” ha ha ha…Teman China saya tukang gombal, banyak sudah perempuan yang jadi korban kegombalannya. Dan kepada saya-dengan arogannya- dia pernah berkata,”Kamu adalah satu-satunya perempuan yang tidak jatuh cinta kepada saya…”…

Karena saya berusaha selesai kuliah tepat waktu, maka saya kebut semua tugas rancang. Dan karena dua teman saya ini akhirnya menyerah untuk tidak menyelesaikan Perancangan Kamar Mesin-nya tepat waktu, maka jadilah mereka ‘asisten’ saya : saya berdayakan mereka untuk antar- jemput, menggambar di atas kalkir, dan njlimet dengan rapido saya :)

Saya memang akhirnya lulus duluan.

Teman Bali saya sekarang di MMHE. Teman China saya sibuk keliling Nusantara sebagai Marine Adjuster. Dan saya kesasar di dunia perminyakan.

Anehnya, (atau sayangnya, saya tidak tahu pasti), tidak ada cerita romantis di antara kami bertiga. Saya menikah dengan kawan sendiri. Teman Bali saya sedang sibuk melobi keluarga besarnya agar mau menerima perempuan – teman saya juga- yang telah dipacarinya sejak semester satu. Sementara teman China saya sampai saat ini masih sibuk berganti perempuan.

Begitulah, tentang sahabat laki-laki saya. Ternyata, film memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.Halah.

Posted by: annaherdianto | February 5, 2008

Belajar : Liquefied Gas Carrier

kapal-lng.jpg 

Entah kenapa, Boss ujug-ujug mak bedunduk menitahkan saya untuk mempelajari Gas Carrier, terutama LNG. Lha…saya juga kurang familiar dengan barang adem satu ini. Ada IGC Code, tapi selama ini ngendon saja di lemari :)

Ok…mulailah saya usrek mencari bahan soal LNG ship. Biasanya bahan pelajaran bablas begitu saja kalau saya tidak mencatat ulang. Nah, sekarang saya akan mencatat-nya di sini. Siapa tahu Anda mau menambahkan, koreksi, atau apa saja. Monggo…

Mungkin sebaiknya dimulai dari IGC Code. Pada tahun 1975, IMO mengadopsi Code for the Construction and Equipment of Ships Carrying Liquefied Gases in Bulk, yang mana Code ini merupakan standar internasional untuk kapal yang mambawa liquefied gases in bulk. Code ini menjadi bersifat wajib/mandatory pada tahun 1986, dan untuk selanjutnya tenar dengan nama IMO International Gas Carrier Code. Dalam IGC Code dijelaskan macam-macam cargo containment system sebagai berikut:

  • Integral Tank : tangkinya merupakan structural part dari lambung kapal dan oleh karenanya dipengaruhi dengan cara yang sama dan oleh beban yang sama dengan yang ditanggung oleh struktur lambung. Digunakan untuk mengangkut LPG pada kondisi Atmospheric.  
  • Membrane Tanks :Merupakan non-self-supporting tanks, dan mempunyai suatu lapisan tipis membrane. Membrane ini dirancang sedemikian rupa sehingga thermal expansion dan kontraksi tangki (kayak orang hamil saja, ada kontraksi :) )dapat diakomodir tanpa menyebabkan tegangan yang berlebihan pada membrane itu sendiri.
  • Semi-membrane tanks : pada kondisi bermuatan, tangki ini berubah bentuk menjadi non-self supporting (Kayak satria baja hitam saja :) ). Bagian mendatar tangki di-support/disokong, yang mana akan meneruskan weight dan dynamic forces ke lambung kapal. Namun, bagian rounded corners dan edges-nya tidak disokong sehingga masih dapat mengakomodasi thermal expansion dan kontraksi tangki. Dikembangkan untuk LNG, namun beberapa LPG ship juga menggunakan system ini.
  • Independent Tanks : Self supporting dan merupakan bagian yang terpisah dari lambung kapal. Ada 3 type :

a. Type A : ship-structural analysis yang digunakan untuk merancang tangki ini masih merupakan metode tradisional yang standar. LPG pada kondisi atmospheric dan LNG dapat dimuat pada type ini,               

b. Type B :dirancang dengan analisis yang lebih ‘canggih’ untuk menentukan stress level, fatigue life, dan crack propogation characteristics. Konsep desain-nya didasarkan pada apa yang disebut dengan “crack detection before failure principle” (halah-halah…). LNG biasanya diangkut dengan type ini                

 c. Type C : didesain sebagai pressure vessel. Digunakan untuk LPG dan kadang ethylene.

  • Internal Insulation : non-self-supporting dan mempunyai thermal insulation materials. Terdiri dari :

a. Type 1 : dimana insulation hanya berperan sebagai primary barrier. Inner hull berperan sebagai secondary barrier. Digunakan untuk mengangkut LPG          

b. Type 2 : insulation berperan sebagai primary sekaligus secondary barrier.              

Hmmm…sejauh ini bagian ini-terus-terang- saya tidak mengerti. Perlu cari gambarnya dulu :)

insulation.jpg

  • Secondary Barrier Protection. Waaaaa…banyak sekali….kapan-kapan saja deh… :)

Nah, segitu dulu ‘mencatat’-nya…

Next episode : Liquefied Natural Gas Ships

Sumber : IGC Code                  

          Ship Construction (6 Edition) by DJ Eyres, Butterworth-Heinemann

Note :Gambar diambil tanpa ijin dari www.timrileylaw.com…

Posted by: annaherdianto | January 29, 2008

Tender yang Memusingkan

kesal.gif

Siang ini, kembali saya harus keluar dari ruang meeting dengan perasaan kalah, kesal, capek, dan sedikit khawatir.

Nah, sekarang saya sedang ingin minta tolong. Minta tolong kepada Anda yang sudah bekecimpung lama di dunia Procurement. Mengapa saya selalu saja terkendala pada permasalahan non teknis. Dan tender kami kali ini gagal lagi, untuk kesekian kali. Padahal sedapat mungkin kami telah berusaha untuk memenuhi ketentuan yang berlaku…

Selalu saja:

  • Ada sementara pihak yang membuat spesifikasi teknis kapal sedemikian rupa, sehingga mengarah pada kapal tertentu yang telah ada, yang memang dipersiapkan untuk ‘dimenangkan’,
  • Ada oknum bid committee yang menyediakan waktu yang sedemikian pendek sehingga tak memungkinkan bidder lain untuk mempersiapkan kapalnya,
  • Bidder tertentu tahu persis EE-nya,
  • Satu kapal buat rame-rame,
  • Bidder mengajak perusahaan lain (yang kadang berperan sebagai saingannya) sebagai ‘penggembira’ tender,
  • Bagi-bagi jatah pemenang, tahun ini si A, tahun depan si B, tukar tempat lah….
  • Karena tempat lain lebih menguntungkan, kontrak di-early terminate secara sepihak, tak peduli performance bond dicairkan (Tak khawatir pula sama blacklist…kurang ajar….$%#!*!!),
  • Lobi-lobi Biro Klasifikasi kalau spesifikasi teknis tidak masuk,
  • Post bidding (halah…!),
  • Mendirikan perusahaan secara tiba-tiba, dengan nama orang lain, beberapa bulan sebelum tender dilaksanakan, karena yakin seyakin-yakinnya bakal menang, 
  • Tilpun-tilpun dari si A atau si B dari Partai X atau Y, komplet dengan kalimat : “Nanti beritahu saya siapa pemenangnya, kalau si C menang, saya yang akan meredam si D. Kalau si D yang menang, akan saya redam si C” ha ha ha :)
  • Dan masih ada beberapa yang lain, karena saking banyaknya saya sampai lupa.

Mungkin Anda dapat berbagi pengalaman. Atau dapat memberi pencerahan. Saya sudah bosan dengan sanggahan-sanggahan. Sungguh.

Posted by: annaherdianto | January 25, 2008

Mengamati Perempuan

love-cartoon.png

Karena 3 proyek besar yang saya terlibat didalamnya  masih dalam tahap ‘menunggu’ (pre-q, commercial, dan satu lagi ‘kebijakan), dan pagi ini boss hanya menitahkan untuk menghadiri satu meeting, maka saya jadi punya kesempatan untuk menggedabul lagi.

Saya lebih suka mengamati laki-laki, secara harfiah,tentu saja. Tapi saya juga tidak bisa menghindar untuk tidak mengamati perempuan.

Dimana Anda akan menemukan wajah paling bahagia perempuan..? Di toko baju bermerk..? Bukan…Di showroom mobil..?Juga bukan…Di kafe..?Apalagi, bukan. Tapi Anda akan menemukannya di ruang tunggu Dokter Obgyn. Saya yakinkan itu. Memang tidak semua yang datang bahagia, tapi wajah paling bahagia yang dapat ditunjukkan perempuan akan Anda dapatkan di tempat ini. Anda akan melihat wajah terindah perempuan di sana, yang sambil bercerita dengan pasangan atau teman barunya, “Sudah berapa bulan…? Hasil USG kemarin bagaimana..? Dokter X bagus nggak sih…?”Berbagai jenis perempuan : dari Ibu-ibu rumah tangga sampai wanita karier dengan bau parfum yang semerbak. Banyak perempuan beranggapan, ‘mampu melahirkan keturunan’ adalah suatu kesempurnaan, meski sempurna atau tidak sempurna itu sangatlah relatif.

Kemudian lihatlah acara kriminal di televisi. Atau kalau tidak sempat bacalah Pos Kota, Lampu Merah, atau Warta Kota. Aborsi. Bayi dibuang. Sudah sangat jamak dan sepertinya semua orang sudah mafhum. Dan, tentu saja, Ibunyalah yang pertama kali akan dicari, dan disalahkan. Dan lihatlah, wajah tak mengerti itu di televisi : tak mengerti mengapa ia seorang yang harus menanggung, tak mengerti mengapa ia tak boleh menentukan nasibnya sendiri. Ah, saya juga tak tahu. Dosa adalah urusanku dengan Tuhan, seorang kawan pernah berkata. Salah adalah bilamana aku merugikan orang lain, ia menambahkan. Ah, tambah pusing saya.

Berita terakhir yang membuat saya emosional adalah dipenggalnya seorang perempuan yang sedang hamil 4 bulan, oleh kekasihnya sendiri. Kekasih yang disangkanya pegawai bank dan sedang kuliah pula. Kekasih yang ternyata seorang pedagang nasi goreng. Kekasih yang membawa pisau dapur ke kamar hotel, dan membuang kepala si perempuan di tempat pembuangan sampah. Saya sungguh tak bisa membayangkan, apa yang ada di hati laki-laki itu ketika ia menenteng kepala bersimbah darah di tas yang dicangklongnya? Dan bagaimana pula ketika ia melempar kepala itu..? Mungkin rasanya sama seperti ketika saya membuang koran yang memuat berita itu di tong sampah. Masygul.

Karena saya menggunakan bis trans yang khusus melayani kompleks perumahan tempat saya tinggal, maka tiap pagi dan sore saya akan duduk menunggu bis tersebut di halte. Dan lihatlah, wajah-wajah di balik Mayasari, PPD, Bianglala, Metromini, serta Kopaja. Banyak perempuan, dengan banyak ekspresi. Kondekturnya pula, beberapa perempuan. Dengan suara yang serak-serak kebanyakan berteriak :”UKI…UKI…Cawang….!”

Di bandara, di terminal keberangkatan dan kedatangan luar negeri, Anda akan mendapati deretan panjang perempuan, hampir semuanya perempuan, yang sering jadi bahan ledekan petugas bandara, tidak laki-laki tidak perempuan pula.

Anda akan mendapati gelandangan perempuan yang sedang mengajari bocah ciliknya menulis dan membaca, di jembatan penyeberangan depan Plaza Semanggi. Nenek-nenek yang berjualan rokok di depan kantor saya akan panik luar biasa manakala Satpol PP datang dengan gerombolannya. Saya pernah melihatnya menangis.

Karena saya berlangganan 4 majalah, maka akan mudah sekali mendapati kisah sukses para wanita karier, komplit dengan kiat-kiat jitunya, di majalah-majalah itu. Untuk bagian ini, aneh, saya tidak pernah membacanya. Dan sudah sangat jamak apabila Anda menemui perempuan di rig pengeboran minyak dan gas, di hutan maupun di laut.

Perempuan akan merasa dan dianggap ‘wah’ (kebanyakan oleh kaum perempuan sendiri) apabila ia berpenampilan seperti laki-laki. Tapi, laki-laki akan dianggap tidak lazim apabila berpenampilan seperti perempuan. Saya tidak tahu mengapa bisa begitu.

Saya sendiri perempuan. Dilahirkan sebagai anak keempat dari lima bersaudara, sebagai satu-satunya perempuan. Sejak umur 12 tahun saya sudah ‘keluar rumah’. Saya kuliah di jurusan Mesin Kapal yang…well…Anda tahu sendiri. Setelah bekerja, mau tidak mau, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan di Departemen dimana saya ditempatkan. Dan saya hanya bisa menyumbangkan “ha-ha”, “hi-hi”, dan “Oooo…” manakala ada pertemuan “Dharma Wanita” di kantor suami saya. Dan saya takjub melihat salah satu Dosen S2 saya menangis di depan kelas pada saat kuliah (Tidak ada Dosen perempuan di jaman S1 saya).

Ada banyak perempuan, dengan nasibnya sendiri-sendiri. Dan saya punya seorang perempuan juga, di rumah. Dia ‘kalah’ pengalaman hidup 26 tahun dibandingkan saya. Kepadanya saya hanya bisa berpesan, “Engkau harus kuat, Nak. Karena engkau perempuan. Karena engkau dipilih Tuhan untuk meneruskan keturunan. Dan karena engkau akan berhadapan dengan makhluk lain yang bernama laki-laki….”

Posted by: annaherdianto | January 24, 2008

Naik – turun Tensi

makan-ice-cream.gif 

‘Setelan’ tensi saya min. 150/100.

Internist saya mengatakan, “You darah tinggi lebih karena faktor keturunan”.

Ginekolog saya meledek,”Kayak orang tua saja naik-turun tensi…”(Yang penting kan sudah laku, Dok…Weeeeeekkk….!!!)

Sementara suami saya punya analisis yang lebih ngaco lagi, “Kamu darah tinggi karena keseringan pakai sepatu hak tinggi…” Huh…?

Dan itu terjadi setelah pre-eklampsia yang saya alami, setahun yang lalu. Sebelum hamil, TD saya normal-normal saja. Setelah hamil dan saya didiagnosis terkena pre-eklampsia, tensi saya langsung melonjak. Ginekolog saya meyakinkan bahwa TD saya akan turun dengan sendirinya setelah bayi dilahirkan. Memang. Tapi itu ternyata tidak berlangsung lama. Kira-kira sebulan setelah melahirkan, TD saya selalu di atas 150/100. Ah, mungkin karena saya stress mengurus anak, begitu pikir saya waktu itu, jadi saya tenang-tenang saja. Setelah 6 bulanan tidak ada perbaikan, mulailah saya usrek mencari internist. 

Track record penyakit saya memang cukup mengerikan untuk orang seumuran saya. Pada umur 25 tahun saya sudah menjalani ESWL (pecah batu ginjal-red) di ginjal sebelah kanan. Pada saat hamil saya didiagnosis pre-eklampsia. Beberapa bulan setelah melahirkan, saya terkena infeksi ginjal. Dan urolog saya menyatakan ada kista ginjal sebesar 2.5 cm di ginjal sebelah kanan. Dan yang terakhir, setelah membiarkan saya mengoceh selama beberapa waktu dan melakukan test darah+urin serta EKG, internist saya yang berembel-embel SpPD KGH itu menyatakan “You darah tinggi lebih karena faktor keturunan. You musti minum obat, setiap pagi…”

…Gubrak….%$!!?#!!

Saya benci minum obat.

Dan bulan depan adalah kewajiban bagi saya untuk MCU. Urrgghhh….!!! Saya benci MCU, karena itu berarti saya harus merelakan diri di-emek-emek oleh para Dokter yang tidak saya kenal. Karena itu berarti saya harus bercerita panjang lebar soal sejarah penyakit-penyakit saya. Dan setelah itu mendapat wejangan panjang lebar yang membosankan. Saya pada dasarnya memang benci dengan Dokter. Segala jenis Dokter. Berbicara dengan mereka rasanya seperti terintimidasi. Tak sekalipun saya bercita-cita menjadi Dokter. Huh….!!!! Saya sudah 2 kali berhasil melarikan diri dari kewajiban MCU ini : satu kali karena saya sedang ditempatkan di Prabumulih, dan satu kali lagi karena saya sedang hamil. Tapi kali ini saya tak bisa mengelak lagi. Menyebalkan…!!!

Dan akhirnya, saya harus meminum tensivask 5 mg setiap pagi. Seringnya sih lupa atau melupakan diri he he he…Dan sudah beberapa hari ini kepala saya kembali senut-senut. Itu berarti saya harus meminumnya lagi. Bandel, memang. Tapi saya benci minum obat. Dan jangan suruh saya meminum jamu-jamuan herbal, karena saya lebih benci lagi…

Baiklah, tolong ingatkan saya untuk meminum obat putih kecil ini setiap pagi.

Posted by: annaherdianto | January 21, 2008

Effisiensi Lembaga Birokrasi

bureaucracy-cartoon.jpg

Namanya juga ‘kemeruh’ (sok tahu-red), ya ndak apa-apa toh kalo saya sekarang menuliskan lagi ke-sok tahu-an saya yang lain :)

Nah, apakah Anda pernah berurusan dengan lembaga birokrasi…? Saya sering. Sering berhubungan dengan salah satu Departemen yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Saya sedang tidak ingin berkomentar bagaimana mencelosnya saya ketika mendapati sederetan kubikel kosong tak berpenghuni, hanya ada satu / dua di antaranya, komplet dengan komentar dari yang ada” Ditunggu saja, Mbak, sebentar lagi orangnya juga datang…Paling masih di belakang…”Kayak saya ini nggak ada kerjaan lain saja…

Saya hanya ingin berkomentar betapa njlimetnya proses yang harus saya lalui, betapa tidak jelasnya, dipingpong dari satu bagian ke bagian yang lain. Ditambah masing-masing bagian mempunyai interpretasi yang berbeda-beda terhadap prosedur yang telah mereka buat sendiri. Lha…piye to..

Kalau tidak salah, Max Weber (Anda akan menemukan namanya dalam buku-buku Organizational Behavior) berpendapat bahwa guna mencapai effisiensi maksimun, sebuah lembaga birokrasi harus berkarakter sebagai berikut:

  • Spesialisasi pada masing-masing fungsi,
  • Pekerja dipilih berdasarkan kualifikasi teknis tertentu,
  • Mempunyai sistem tertentu yang menjamin keseragaman dan koordinasi antar fungsi,
  • Setiap anggota organisasi hanya bertanggung jawab pada satu manager,
  • Pekerja berhubungan dengan pekerja lain secara formal, guna menjamin bahwa sifat-sifat personal tidak mempengaruhi tujuan organisasi.

Menuruti kata Max Weber, kalau saya boleh sok tahu lagi, maka para birokrat sebaiknya :

  1. Membuat spesialisasi untuk masing-masing fungsi, bahwa satu fungsi mempunyai tugas yang spesifik,unik, dan tidak sama dengan fungsi yang lain,
  2. Pegawai masing-masing fungsi harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan fungsi dimana ia ditempatkan,
  3. SOP yang jelas dan interpretasinya disepakati bersama,
  4. Promosi didasarkan pada senioritas, pencapaian, dan loyalitas,
  5. Rotasi pegawai dihindari

Tapi kok rasanya itu sekedar teori ya…Lembaga birokrasi kita ya masih begitu-begitu saja. Ada yang bilang karena sistem di Negara kita yang sudah kronis, tidak ada political will (halah, iki maneh), sampai pemimpin dan anak buah yang sama saja karakteristik-nya. Kalau mau merubah sistem di Negara kita kok ya kayak saya kawin dengan Benjamin Bratt (Alias enggak mungkin-red). Mengharapkan pimpinan yang visionary dan exemplary kok ya nggak datang-datang, padahal pengalaman di salah satu Departemen membuktikan bahwa faktor pimpinan sangatlah penting, apakah kultur suatu lembaga birokrasi bisa berubah atau tidak, keputusan ada di tangan pemimpinannya (Salut buwat Bu Menteri satu ini).

Ah, saya juga cuma setap…nurut sama Boss-nya… :)  

Posted by: annaherdianto | January 17, 2008

Gas oh Gas Kita

cngship.jpg

Saya ini orang awam, ndak ngerti bagaimana membuat LPG, CNG, LNG, atau bagaimana cara ’mendorong’ gas hingga bisa melalui pipa sejauh 600 km untuk sampai ke negara tetangga.

Saya ini Ibu-ibu. Dulu pakai kompor minyak tanah, lha karena Ibu dan Mertua saya ketakutan dengan tabung LPG. Tapi sejak pemerintah ujug-ujug mak bedunduk berniat mengkonversi minyak tanah menjadi LPG, ya otomatis minyak tanah jadi susah didapat. Akhirnya saya ikut pakai LPG. Tapi orang antri minyak tanah kok rasanya lebih panjang daripada antrian beli tiket Piala Asia tempo hari ya…

Saya ndak tahu. Pabrik pupuk tutup. Pabrik keramik berteriak-teriak. PLN kekurangan pasokan gas. Yang paling kerasa ya pasokan gas dapur saya yang byar-pet kayak lampu setopan itu. Lha saya dapat kasak-kusuk teman sebelah bahwa lapangan di Indonesia sekarang lebih banyak Gas. Untuk minyak tidak bisa diharapkan, katanya, tinggal menunggu blok Cepu. Setelah Arun dan Bontang, kita punya Tangguh di Papua. Di Laut Timor juga ada, belum Natuna D Alpha, ditambah lapangan-lapangan marginal yang belum sepenuhnya dikembangkan. Lho, akeh jebulane.

Ehm, keterlanjuran kontrak dengan Luar Negeri. Harga lebih menarik di Luar Negeri. Fasilitas domestik yang masih terbatas. Whatever. Kegagalan pemerintah mendongkrak harga LNG Tangguh membuktikan bahwa tak selamanya Luar Negeri menarik.

Iseng-iseng saya pernah ikut presentasi yang diadakan Enersea, pelopor transportasi CNG di dunia. Konon, dibandingkan dengan LNG, tranportasi dengan metode CNG ini lebih ekonomis. Tapi, eits, tunggu dulu. Ekonomis dalam hal apa. Masalahnya, dalam bentuk CNG gas tidak dapat dibawa sebanyak ketika kapal membawa LNG, untuk ukuran kapal yang sama. Tapi, fasilitas processing dan offshore terminalnya konon lebih murah daripada LNG.

Untuk kapal, akan lebih baik apabila menggunakan electric ship daripada low speed diesel engine + generator terpisah, karena kecepatan dan ketersediaan daya yang dibutuhkan untuk cargo handling merupakan faktor yang krusial. Lha, electric ship…? Wah larang, ora nduwe maneh he he he….Bagaimana dengan existing vessel yang dimodifikasi? Setelah tanya kanan kiri dengan Enersea, didapat opsi bahwa sebenarnya tidak menjadi masalah apabila containment CNG itu ditempatkan di kapal yang telah dimodifikasi, bisa ex tanker, container, barge, dsb. Tapi dengan catatan bahwa kondisi Main engine haruslah optimal. Halah. Modifikasi yang diperlukan juga tidak terlalu banyak dan rumit.

CNG sesuai untuk lapangan-lapangan marginal dengan produksi kecil. Selain itu, jarak tempuh yang ekonomis bagi CNG adalah antara 250-3,000 nm. Itu katanya Enersea loh. Tapi untuk jarak jauh, ya mendingan pakai LNG, sekali angkut mak griyyyennnggg, apalagi jika reservoar-nya cukup besar….CNG juga opsi yang menarik ketika pembangunan pipa menjadi tidak ekonomis lagi dan atau terkendala dengan kondisi geografis. So, kesimpulannya, CNG cukup menantang untuk pasar domestik.

Nah, apalagi…? Kalau lapangan-lapangan besar yang ada sekarang sudah terlanjur didedikasikan untuk buyer Luar Negeri, tak bolehkah apabila kami berharap pada lapangan-lapangan berikutnya…? Toh dengan didedikasikan pada kebutuhan domestik, hasilnya langsung kelihatan. Tapi dengan buyer Luar Negeri, entah kemana dulu dhuit itu berputar. Dengan biaya proyek tak sebesar LNG, tak perlu financing loan lagi kan…? Political will…???? Mengapa dua kata ini selalu saya dengar dimana-mana ya…?

Ah, ini cuma gedabulan Ibu-ibu yang bingung dengan keputusan Yang Punya Negara ini, bingung mesti masak pakai apa nanti sore, meskipun ndak masak pakai LNG maupun CNG, tapi tetep saja bingung. Ya sudahlah, bikin paper Marketing ajah…

Note : monggo silahkan kunjungi www.EnerSea.com . Gambar diambil dari situs yang sama.

Posted by: annaherdianto | January 14, 2008

Balada Ceplukan dan Singapore Airlines

physalis.jpg 

Selasa,  8 Januari 2008

“Di mana kamu…?”, Boss menelepon

“Makan burjo, Pak…”, saya pemegang platinum card kantin belakang kantor

“Besok kamu kuliah…?”

“Enggak…”

“Ada ujian?”

“Enggak..”,saya mulai curiga,”memangnya kenapa…?”

“Besok kamu ke Singapore”

“Lha…saya kan baru pulang”,pertanyaan retoris, “Ngapain..?”, pertanyaan tolol.

“Ya periksa kapal, ngapain lagi…?”, ya…ya…ya….

Dan begitulah, Kamis 10 Januari jam 15.30 saya telah berhaha-hihi di executive lounge-nya Singapore Airlines. Seumur-umur baru kali ini saya dikasih bussiness class-nya SQ, dan ini murni kesalahan orang administrasi he he he….

Di pesawat, saya takjub dengan buah yang terasa familiar bentuknya, namun yang ini lebih besar. Saya penasaran sekali, buah apa ini…? Rasanya asem. Atau karena saya yang kelewat kampungan…?Luar biasa benar orang Jakarta ini. Pesawat penuh…!Rata-rata hendak ke Singapore, mumpung ada liburan panjang.

Nah, kali ini mendingan-lah. Tak perlu lagi saya telepon kanan-telepon kiri mencari hotel, dan akhirnya terdampar di apartemen di Lucky Plaza yang bulan Desember lalu Madame Susan mematok SGD 120/malam…buseeeettttt….Golden Landmark di Bugis…Lumayanlah….Meski saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk sarapan. Nggak deh, di sekitar Bugis Junction banyak makanan toh…

Jum’at 11 January 2008

Anchor Handling and Tug “Swiber Gallant”, jatah saya kali ini. Bagus. Ber-kelas GL, berbendera Singapore, tapi ber-ABK 100% orang Indonesia. Dibuat pada tahun 2006 di Nanindah, Batam. Periksa kapal ber-bendera Singapore dan ber-kelas IACS member membuat pekerjaan jadi jauh lebih mudah. Meski untuk itu harus ngos-ngosan di kamar mesin (…urrrggghhhh…sepertinya harus mengurangi berat badan nih…!), dan berteriak-teriak dengan Chief Engineer-nya karena suara genset yang super berisik. Apalagi ketika FIFI pump dinyalakan…urrrghhhh…..

Setelah bertukar pengetahuan dan gosip dengan para ABK, kini tujuan selanjutnya adalah…money changer…Seperti biasanya, setelah mendapat cukup dollar, Kinokuniya adalah tujuan utama. Tak peduli bau kapal, masuklah saya ke Takashimaya. Tiga jam di Kinokuniya cukup membuat kaki saya (hampir) kram, namun saya puas karena berhasil membawa pulang Ship Construction, Marine Auxiliary Machinery, dan Pounder’s Marine Diesel Engine & Gas Turbines….Meskipun untuk 3 buku ini saya harus merelakan daily allowance saya hiks…

Keluar dari Kinokuniya, saya cangkrukan di depan Ngee Ann City, komplet dengan safety shoes dan jins yang ujung bawahnya terdapat bekas gemuk, goresan plat berkarat, dan bau kapal pula. Benar-benar luar biasa Singapore ini, segala macam jenis orang ada : merah, bening trasnparant, hitam, putih,coklat, sawo matang, sawo bosok..semua ada. Ada yang mengucap Inggris, Mandarin, Indonesia, Jawa, Sunda….Ck..ck…ck…

Pukul 21.00 waktu setempat saya telah duduk manis di kursi 17H, masih di bussiness class he he he…Dan ternyata saya masih diberi buah aneh seperti kemarin. Penasaran tak tertahankan, saya tanyakan ke seorang Pramugari. Dia jawab : lupa, tapi nanti akan dia tanyakan ke rekan lainnya. Lama tak ada kabar dari Pramugari tadi. Masih penasaran, saya tanyakan kepada seorang Pramugara yang, sayangnya, tidak terlalu ganteng tapi cekatan (Terus terang, saya lebih suka Pramugara Garuda, yang meskipun kurang cekatan, tapi ganteng-ganteng. Tapi untuk orang ganteng, semua dosa terampuni he he he…).

“Sifilis…”

“Huh…? Sifilis…?”

“P-h-y-s-a-l-i-s”

Oh, saya salah dengar rupanya…Eh tapi ternyata tidak, karena pramugara tadi kemudian bercerita bagaimana cara mengucapkan physalis, darimana berasal, dan dimana bisa mendapatkannya. Tak lupa dia menambahkan : buah ini tidak bisa didapatkan di Jakarta. Kemudian dia berlalu, karena pesawat akan segera landing.

Tapi, tak tahukah Pramugara tadi, bahwa kami di kampung biasa menyebut physalis dengan ceplukan…?

Note : Gambar diambil dari Wikipedia

Posted by: annaherdianto | January 7, 2008

Double Hull untuk Floating Storage

jv.jpg

Postingan ini hanya pemikiran awal saja.

Beberapa kejadian tertabraknya floating storage oleh kapal lain menimbulkan pemikiran untuk mengubah konstruksi floating storage yang selama ini digunakan. Meskipun KM No. 66 tahun 2005 masih memperbolehkan penggunaan single hull tanker sebagai floating storage dan banyak keleluasaan yang diberikan baik oleh statutory maupun biro klasifikasi dalam hal aplikasi regulasi, namun bukan berarti single hull tanker akan dapat terus digunakan sebagai floating storage.

Dilihat dari tingkat perlindungan yang diberikan, double hull jelas lebih baik daripada single hull. Namun, perlu dilihat juga keekonomian penggunaan double hull dalam suatu lapangan.  Data per Desember 2007, harga new built double hull trading tanker adalah :

  • VLCC–> USD 141 jt
  • Suezmax–> USD 89 jt
  • Aframax –>USD 71.5 jt
  • Panamax –>USD 63 jt

Waw…suit…suit…Mungkin memang tidak apple-to-apple dengan FSO. Namun setidaknya bisa digunakan sebagai perkiraan. Untuk lapangan marginal yang nota bene life time-nya pendek, produksi tak seberapa, dan membutuhkan biaya pengembangan yang cukup banyak, opsi new building double hull sepertinya agak sulit diterapkan. Secondhand..? Mungkin. Tapi pada bulan Desember 2007 sebuah double hull tanker (VLCC) yang dibuat pada tahun 2004 dijual dengan harga USD 132 jt. Tak cukup jauh dengan new building, bukan…? Untuk lapangan-lapangan besar dengan kapasitas produksi hingga di atas 100,000 bopd dan life time-nya cukup lama, opsi ini masih memungkinkan. Tapi, sekali lagi, perlu dihitung kembali keekonomian lapangan secara menyeluruh.

Opsi lain yang mungkin dipertimbangkan adalah dengan menggunakan konstruksi mid deck design, yang dikembangkan oleh Mitsui. Konon, design ini diklaim lebih baik proteksinya dibandingkan double hull. Perlindungan oil spill terhadap kejadian kandas juga lebih baik, meskipun tidak mempunyai double bottom. Tapi tunggu dulu, design ini harganya ’sedikit lebih rendah’ dibandingkan double hull, meskipun konstruksi di dalam tangkinya lebih ribet.

Well…sebenarnya, secanggih dan semahal apapun konstruksinya, semuanya akan sia-sia kalau manusia sebagai operator berperilaku tidak memperhatikan kaidah-kaidah keselamatan. Perlu dicatat juga bahwa kejadian tertabraknya floating storage lebih karena kelalaian manusianya. Di offshore installation semacam itu telah ditetapkan prosedur keselamatan, daerah terbatas-terlarang, komplit dengan security guard-nya. Loading logistik pada saat cuaca buruk, malam hari pula, mestinya tidak boleh dilakukan. Tandem offloading pada saat cuaca buruk…? Well…kalau nekat diterusin ya mesti siap-siap saja tuh assisting tug-nya hoehehehehehehe….

FPSO Belanak Natuna setahu saya menggunakan konfigurasi single bottom double side. Itu pun lebih karena FPSO ini diinstall di jalur pelayaran yang lumayan padat (?). Apabila Anda sliwar-sliwir di perairan Laut Natuna di malam hari dan melihat sebuah kotak gemerlap dengan lampu terang-benderang, selamat, Anda telah melihat FPSO paling keren di Republik ini, yang gambarnya saya pasang sebagai header.

Setelah floating LPG, sekarang mulai dipikirkan floating LNG. Mungkinkah…? Kita lihat saja nanti. Kalau untuk crude oil saja masih banyak kendala, bagaimana dengan LNG. Yang jelas, kita lihat saja nanti…

Note :Gambar di atas adalah Jahree Viking, supertanker yang kini telah dimodifikasi menjadi FSO “Knock Nevis”. Gambar diambil atas seijin Oom Gugel.

Posted by: annaherdianto | December 29, 2007

Pak Harto vs Simbah

soeharto.jpg 

Banjir dan longsor di kampung halaman, Gajahmungkur yang hampir overload-yang membuat Pak Menteri PU datang langsung untuk meninjau dan akhirnya beberapa pintu air dibuka, puluhan korban yang berjatuhan, dan beberapa desa yang terisolasi, mau tidak mau mengharu biru perasaan saya. Meskipun telah lama saya meninggalkan Wonogiri, saya tetaplah bocah Wonogiri, bocah ndeso yang hanya bisa mengenang dan menangisi yang kini terjadi.

Dan apa yang kini terjadi, mengingatkan saya pada Simbah. Simbah buyut saya. Tidak ada yang tahu kapan ia dilahirkan, saya hanya ingat bahwa ia perempuan kecil yang sangat tegar, nginang yang tetap dilakoninya hingga tua membuat giginya tetap utuh, dan kebiasaan menggosokkan kunyit di kaki membuat betisnya tetap terlihat kuning dan terawat.

Simbah buyut saya hanya wong ndeso yang tidak tahu baca tulis, dan dia hanya paham pada kearifan alam, serta memegang teguh pesan leluhur. Tidak ada yang menolak ketika ia memasang sesajen sendiri, tidak ada yang menegur ketika ia dan Simbah buyut kakung membakar kemenyan dan mengucap mantra serta jampi-jampi, pun itu mampu membuat Mas saya yang jago membaca Arab gundul itu diam saja. Ya, moyang saya -orang bilang- dukun.

Simbah buyut saya ini sangat ‘mencintai’ Pak Harto. Ya, mantan Presiden Soeharto, siapa lagi…? Saya ingat betul, dulu, ketika televisi masih terdiri dari 2 warna, Simbah akan diam menatap televisi manakala Pak Harto berpidato. Di matanya yang terkena katarak itu seperti ada rasa haru. Juga, dia akan membentak kami -para cucu dan cicitnya yang ndableg ini- untuk diam, manakala di radio sedang disiarkan pidato Pak Harto.

Simbah saya lugu. Dia hanya mengerti bahwa Pak Harto-lah yang telah memberi makan dia dan keturunannya. Dari mulut para Simbah kami mendengar : bagaimana dulu mereka menyembah singkong karena pangan sulit ditemukan, bagaimana kami selalu kekeringan karena air entah mengalir dimana, dan bagaimana mereka satu per satu memotong tanah untuk bertahan hidup.

Semua berubah ketika Pak Harto menjadi Presiden, dia bilang. Beras gampang didapat, Gajahmungkur dibangun, irigasi diperbaiki, sekolah diperbanyak. “Pak Harto yang memberi makan kita…” Selalu ia bilang demikian. Pak Harto memang bukan orang Wonogiri, tapi ia besar di sana, bersekolah di sana, makanya kami begitu diperhatikan, begitu ia selalu camkan kepada kami, para keturunannya yang tidak semuanya menuruti kata-katanya, karena ternyata Mas Kedua dan Ketiga saya termasuk orang yang paling bersemangat untuk berdemo melengserkan Soeharto.

Ketika Pak Harto lengser, Simbah sedih bukan main. Betapa ia mengutuk orang jaman sekarang yang tidak tahu terima kasih. Mas-mas saya tidak peduli. Tinggal saya yang masih setia menemaninya menonton televisi. Beberapa tahun kemudian, Simbah saya meninggal, suatu hal yang sangat saya sesali karena saya tak sempat berpamitan kepadanya ketika akan kembali ke Surabaya.

Simbah mungkin memang naif. Ia tak pernah peduli dengan korupsi yang dituduhkan kepada Pak Harto. Tak mengapalah ia korupsi, asal rakyatnya kenyang, demikian ia berargumen. Tak pernah ia peduli bahwa beras yang dihasilkan selama periode swasembada beras adalah hasil rekayasa genetika, sesuatu yang bagi sebagian orang pintar sangat berbahaya. Berbahaya…? Aku baik-baik saja kok, Simbah ngotot. Saya juga masih baik-baik saja, Simbah….

Baginya, tak mengapa beberapa orang ‘menghilang’ karena ‘kebanyakan omong’ daripada ’stabilitas terganggu’. Huh…? Simbah saya sepertinya memang kebanyakan menonton televisi…Tapi apakah hanya orang tua yang berpikiran seperti Simbah…? Ternyata tidak, Dosen Financial Management saya yang luar biasa, yang kini usianya baru 26 tahun dan telah menjadi Visiting Proffessor di Jerman, mengatakan bahwa secara makro perekonomian kita sangat sehat di jaman Orde Baru, juga BUMN sangat menguntungkan kala itu. Ah, saya tidak tahu, Dik Dosen, tak mengerti saya apa bedanya ekonomi makro dengan mikro.

Dan kini, Wonogiri porak poranda karena banjir dan longsor. Saya juga tak tahu bagaimana nasib kuburan Simbah di tepi kali Sambi, yang kala banjir bisa membawa batu yang tak terkira.

Sebagian saya sepakat dengan Simbah, sebagian lain tidak, tapi saya tidak pernah mendebat Simbah, seperti yang pernah dilakukan oleh Mas-mas saya dan malah membuatnya menangis sedih. Saya hanya ingin menghormati Simbah, dan yang jelas, saya tidak mau disembur kunyahan kemenyannya… 

Posted by: annaherdianto | December 28, 2007

Pregnant, again…?

adek.jpg 

Hmmm…kok rasanya saya hamil lagi ya…? Belum cek-ricek sih, tapi kok…he he he…

Well, itu berarti saya harus :

  • Mengganti semua makanan siap saji di kulkas dan menggantinya dengan segala macam jenis sayuran dan buah …..#!?!$$%!!,
  • Minum susu…Yikes…!!!!!
  • Menyingkirkan semua koleksi lagu-lagu rock jaman jebot dan menggantinya dengan karya-karya klasik…
  • Siap-siap untuk mendadak jadi suka sinetron…
  • Mabok….
  • Mengelus perut setiap kali melihat orang ganteng dan geulis…(semoga ketularan bagusnya he he he…)
  • Mengurangi penthalitan-pecicilan di kapal…
  • Lebih rajin ke lantai 1 buat minta suster klinik mengukur tekanan darah..

Dan yang jelas, rutin berkunjung ke Pak Dokter yang satu ini, karena (sayangnya…) saya tak pernah bisa mempercayai Dokter obgyn yang lain…Urrrggghhhh….diledekin deh…

Well….hhhhmmmm…..

Note :Gambar di atas adalah hasil USG 3D terhadap anak pertama saya, setahun yang lalu. Cakep toh….he he he…Hasil dari mengelus perut sambil berdoa setiap kali diUSG sama Pak Dokter :)

Posted by: annaherdianto | December 27, 2007

Duh, Gusti…

peta-longsor.jpg 

Kahanan opo iki…

Apakah yang hendak Engkau sampaikan kepada kami kali ini…?Engkau gerus tanah tempat kami berpijak, Engkau gelontorkan batu-batu raksasa tempat kami pernah bersandar, dan Engkau hanyutkan sedulur-sedulur kami…

Engkau biasakan kepada kami panas berkepanjangan, batu kapur yang kempling karena keringat dan pahatan, dan air yang mengalir jauh di dalam, tandur pari thukul watu, telah kami terima sebagai keniscayaan. Tapi Engkau curahkan kini air berkelimpahan, hingga tak sanggup lagi batu-batu dan tanah kami membendungnya, menggelontor seperti watu Plintheng Semar tercerabut pohon penyangganya.

Lelakon opo iki…

Luas tanah telah kami korbankan, demi sebuah dam yang dimimpikan, Gajahmungkur yang diharapkan. Bedhol desa telah kami jalani, memisahkan kami dengan Sedulur yang sekarang entah dimana, demi masa depan yang dijanjikan. Seratus tahun kami dijanjikan, Gajahmungkur akan melindungi kami dalam keperkasaan. Namun belum genap 30 tahun, ia telah melempem, seperti kerupuk masuk ke jangan gori:tak lagi renyah dan asem. Tak mampu lagi ia menahan Sang Bengawan…Tak kuasa lagi ia menampung pendangkalan, padahal kami sucikan pusaka-pusaka kami di situ, setahun sekali.

Tetap tak kami usik Donoloyo. Karena kami percaya bahwa kami tak berhak akan jati-nya, dan bahwa hanya Puro Mangkunegaran yang berhak untuk itu. Badai selalu Engkau datangkan setiap kali sebatang jati Donoloyo tumbang. Tapi kini tak ada lagi badai itu, dan tetap saja jati-jati itu tumbang satu per satu, tanpa kami tahu kemana perginya kemudian. Apakah leluhur kami tak lagi berkenan..?Padahal kami masih tak mengawinkan anak-anak Donoloyo dengan Wonoboyo…?

Duh, Gusti…

Kepada siapa lagi kami mengeluh…?

Note : sampai saat postingan ini ditulis, longsor dan banjir telah melanda 14 dari 25 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri, 17 orang dinyatakan hilang. Penulis adalah 100% orang Wonogiri.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories